Para pemerhati lingkungan,
 
Atas nama PANTAU (jaringan LSM untuk pemantauan perdagangan hidupan liar Indonesia) 
saya menyatakan protes keras pada Taman Safari dan harian The Jakarta Post yang telah 
melansir sebuah tontonan dan atraksi "eksploitatif".  
 
Kenapa saya sebut eksploitatif ? Tidak lain karena keduanya telah mempromosikan sebuah 
acara yang mengajak publik untuk bisa menikmati kesengsaraan hidupan liar Indonesia.  
Mereka seolah2 tidak merasa bahwa setiap yang hidup di muka bumi ini juga perlu 
mendapatkan keadilan.  Betapa tidak beberapa waktu lalu kedua lembaga tersebut membawa 
Gajah Sumatera ke dalam kerumunan orang yang sedang berolahraga pagi di Stadion 
Senayan, Jakarta.  Setelah itu gajah yang khusus didatangkan dari TSI juga disuruh 
untuk melakukan berbagai atraksi di hadapan orang banyak.  Yang lebih mengenaskan 
adalah diadakannya LOMBA TARIK TAMBANG melawan GAJAH.  
 
Terlepas dari menang tidaknya, sebenarnya hal ini dapat mendorong publik semakin tidak 
peduli pada kelestarian dan hak hidup Gajah.  Orang bisa dengan seenaknya menyiksa 
binatang besar yang konon perkasa ini.  Padahal selama ini habitat Gajah di Indonesia 
semakin lama semakin tergusur oleh aktifnya konversi hutan.  Hampir tak ada ruang buat 
mereka untuk hidup dan berkembang biak.  Lebih jauh salah satu pemrakarsa kegiatan 
adalah Taman Safari Indonesia yang katanya "LEMBAGA KONSERVASI EX-SITU".
 
Sementara itu dengan naifnya pihak The Jakarta Post yang telah terkenal di kalangan 
expatriat ternyata menyelenggarakan acara tersebut dalam rangka merayakan HUT-nya.  
Lalu apakah ulang tahun yang berdekatan tanggalnya dengan HARI BUMI harus dirayakan 
dengan sebuah hal yang tidak mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan?  Yang lebih 
mengenaskan lagi peristiwa ini disiarkan di media televisi dan ada petinggi PKA (dulu 
PHPA) yang berkomentar mau menyelamatkan Gajah.
 
Saya kira sudah saatnya bagi kita para pemerhati lingkungan untuk dapat berkontribusi 
terhadap berbagai peristiwa sehari2 yang tidak mencerminkan budaya KEADILAN terhadap 
LINGKUNGAN.  Kejadian tersebut adalah cermin budaya antroposentris dan arogan.
Tulisan ini saya buat untuk mengajak para pecinta lingkungan agar lebih berhati2 dan 
kritis terhadap permasalahan lingkungan di sekitar kita.
 
Salam,
Hapsoro
Koordinator PANTAU

Kirim email ke