Karena di balik penolakan itu, sekurang-kurangnya terkandung tiga pesan = yang=20 agung. <I>Pertama</B></I><FONT face=3Darial size=3D2>, adanya tuntutan = untuk=20 mengoperasikan proses pembuatan kebijakan publik yang transparan dan = berbasis=20 kemanfaatan. <I>Kedua</B></I><FONT face=3Darial size=3D2>, adanya = tuntutan untuk=20 menyediakan jalinan kelembagaan (<I>institutional = arrangement</B></I><FONT=20 face=3Darial size=3D2>) yang mampu menjamin terlaksananya sikap = hati-hati yang=20 realistik dan masuk akal. <I>Ketiga</B></I><FONT face=3Darial size=3D2>, = adanya=20 aliran pesan moral yang sangat simpatik bahwa tidak ada satu pun = teknologi yang=20 tidak memiliki risiko. Ketiga hal itu diharapkan melekat kuat dalam = setiap=20 proses adaptasi, penerapan, dan evaluasi teknologi.=20 <P>Kemarin sampai hari ini kita boleh berdebat pro dan kontra sampai = putus urat=20 leher, karena jenis perdebatan seperti itu memang tidak memerlukan = denyut=20 sel-sel otak dan tidak memerlukan altruisme yang mengendap teramat dalam = di=20 lubuk kalbu. Perang informasi yang mengecoh bisa saja terjadi. Besok, = ketika=20 semuanya telah terlambat, tatkala kita telah menjadi sekadar konsumen = pasif atas=20 produk transgenik dari negara lain dan tatkala kita telah menjadi = pecundang=20 dalam penguasaan teknologi, kita berdebat lagi, semua ini terjadi karena = kemarin=20 kita hanya berdebat soal pro dan kontra belaka. Kemudian kita membaca = suatu=20 kritik, bangsa Indonesia memang pintar berdebat, tapi tidak pintar = berdialog.=20 Sayangnya, itu pun tidak pernah membuat kita lebih baik!***</FONT>=20 </P></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT= ></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></FONT></DIV></BODY></HTML> ------=_NextPart_000_010A_01C01DB2.E114E100-- -- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
