From: "JKPP" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Memperdebatkan Tanaman Transgenik
Date: Tue, 12 Sep 2000 10:19:47 +0700
MIME-Version: 1.0
Content-Type: multipart/alternative;
	boundary="----=_NextPart_000_0008_01C01CA2.FAF035E0"
X-Priority: 3
X-MSMail-Priority: Normal
X-Mailer: Microsoft Outlook Express 5.00.2314.1300
X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V5.00.2314.1300

This is a multi-part message in MIME format.

------=_NextPart_000_0008_01C01CA2.FAF035E0
Content-Type: text/plain;
	charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable

Memperdebatkan Tanaman Transgenik
Media Indonesia - Opini (9/12/00)

Oleh Djuhendi Tadjudin=20
Direktur LSM Handal=20




PERDEBATAN tentang tanaman transgenik di Indonesia, terutama yang =
melibatkan publik, ada pada tataran `debat tanpa dialog`. Di dalamnya =
terlibat dua kubu yang berseberangan, industri dan LSM, yang mewakili =
kubu pro dan kontra. Karena miskin dialog, perdebatan lantas terjerembab =
pada soal pemihakan dengan meninggalkan hal substansial, yang sebenarnya =
lebih penting untuk didiskusikan. Kedua belah pihak cenderung memperkaya =
argumentasinya sekadar untuk mendukung pemihakannya. Untuk tujuan itu, =
mitos pun kerap dibaurkan dengan fakta. Hasil riset dikutip =
sepotong-potong agar menguntungkan posisi pemihakannya.=20

Ketakutan terhadap ancaman hipotetik menyangkut keamanan pangan dan =
keamanan lingkungan lebih mengemuka. Itu mendominasi kolom pemberitaan, =
mengalahkan informasi tentang potensi manfaat nyata yang ditawarkan =
tanaman transgenik. Alhasil, polemik tentang tanaman transgenik menjadi =
lebih mirip resensi film Jurasic Park atau Frankenstein ketimbang suatu =
intellectual exercise. Sayangnya, lembaga resmi pemerintah tampak gagap, =
di mana mereka harus berdiri?=20

Substansi teknologi=20

Tanaman transgenik adalah ekspresi hasil teknologi. Untuk diskusi, hal =
itu bisa juga dipahami sebagai teknologi itu sendiri. Dan setiap =
teknologi senantiasa memiliki dua ranah, yaitu ranah teknikal dan =
kelembagaan. Ranah teknikal bersangkut-paut dengan `jaminan kinerja` =
yang melekat pada teknologi yang bersangkutan, produktivitas tinggi yang =
diperkuat dengan sifat-sifat lain seperti tahan terhadap herbisida =
tertentu, tahan terhadap serangan organisma pengganggu tanaman (OPT) =
tertentu, atau ekspresi tertentu yang bersangkut-paut dengan spesifikasi =
mutu porduk. Sedangkan ranah kelembagaan bersangkut paut dengan (1) =
interelasi dengan kepentingan mundial, termasuk tekanan dari =
negara-negara surplus produksi; (2) akses petani untuk memperoleh paket =
teknologi; (3) akses petani pada informasi, modal, dan sumber daya alam; =
(4) aturan main yang mengatur perilaku setiap stakeholder: pemerintah, =
swasta, petani, konsumen, dan lembaga penyangga (buffer institution) =
lain.=20

Dua ranah teknologi itu ibarat dua muka uang logam. Setiap muka memberi =
pemaknaan terhadap uang logam secara keseluruhan. Uang logam akan =
kehilangan nilainya tatkala salah satu mukanya ditiadakan. Meski =
demikian, posisi setiap muka itu tidak dapat saling dipertukarkan.=20

Peranan setiap ranah itu menjadi jelas tatkala dikaitkan dengan `tujuan =
program penerapan teknologi` seperti keamanan pangan dan kesejahteraan =
petani. Ranah teknikal bertugas untuk merealisasikan `kinerja teknikal` =
(tahan terhadap herbisida, tahan terhadap serangan OPT, dan =
produktivitas fisikal yang tinggi) seperti yang dijanjikan dalam =
`jaminan teknikal teknologi`. Selanjutnya, ranah kelembagaan bertugas =
untuk mentransformasikan `kinerja teknikal` itu menjadi upaya nyata =
untuk `mencapai tujuan program`.=20

Setiap ranah tidak bisa bekerja terpisah, meski kinerjanya dapat diukur =
secara terpisah. Setiap ranah, secara sendiri-sendiri, merupakan `syarat =
perlu tapi belum memenuhi syarat cukup` (necessary but not sufficient) =
untuk mewujudkan `tujuan program`. Namun, jika bekerja secara simultan, =
kedua ranah itu akan memenuhi `syarat perlu dan syarat cukup` (necessary =
and sufficient) untuk mewujudkan `tujuan program`.=20

Pembodohan masyarakat=20

Persoalan lebih besar yang dihadapi Indonesia saat ini bukan menyangkut =
masalah substansial teknologi tanaman transgenik itu sendiri, melainkan =
menyangkut proses pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh pihak yang =
berdebat. Di antara sekian banyak proses pembodohan, lima hal berikut =
ini diduga yang memiliki pengaruh paling besar. Pertama, adanya =
pemihakan yang lugas dan mendominasi sikap kritikal terhadap masalah =
yang lebih substansial. Pemihakan secara sempit telah menyebabkan kian =
lebarnya ruang debat tanpa dialog. Semangat berlebihan untuk membangun =
argumentasi penopang keberpihakannya, telah menghilangkan penghargaan =
atas rasionalitas, sehingga tumbuh argumentasi yang berbasis pada =
bounded rationality (rasionalitas terbelenggu).=20

Contoh rasionalitas terbelenggu itu tercermin dalam pernyataan, =
``bagaimana mungkin tanaman yang mampu membunuh serangga itu bisa aman =
bagi manusia?`` Pernyataan tersebut hanya tampak seolah benar jika =
disandingkan dengan kenyataan, bahwa orang bisa tewas jika minum racun =
serangga. Tapi hal itu mengingkari tidak kurang dari dua kenyataan =
berikut. (1) Bahwa gen yang disisipkan dalam tanaman transgenik itu =
hanya punya efek racun pada serangga (OPT target) tertentu saja, dan =
tidak bersifat racun bagi organisma lainnya. Dan (2) bahwa efek =
alergisitas dan toksisitas (dua indikator penting keamanan pangan) bukan =
soal spesifik karena tanaman itu adalah transgenik, melainkan suatu =
sifat yang bisa hadir dalam setiap pangan dan tanaman yang asli alamiah =
sekalipun.=20

Kedua, terjadinya pelintiran logika. Yang paling lazim didengungkan =
adalah dua sandingan data bahwa pasokan pangan dunia sebenarnya separo =
lebih banyak dari yang dibutuhkan dan bahwa pada saat yang sama masih =
terdapat 800 juta penduduk yang kelaparan. Dari dua data itu lantas =
diambil kesimpulan, bahwa `masalah pangan bukan soal keberadaan pasokan, =
tapi masalah distribusi yang tidak berkeadilan`. Lebih jauh logika kian =
dipelintir bahwa bioteknologi dijadikan sebagai representasi teknologi =
untuk memproduksi pangan berlimpah. Tetapi tatkala kelimpahan pangan itu =
ternyata tidak menjawab fakta adanya jutaan penduduk yang masih juga =
kelaparan, maka bioteknologi dihujat sebagai teknologi yang mengumbar =
`janji palsu`.=20

Dengan logika yang sehat sebenarnya dapat dikatakan bahwa ranah teknikal =
suatu teknologi telah berhasil menjawab kewajibannya yaitu memproduksi =
pangan yang cukup. Namun, ranah kelembagaan yang asimetrik telah gagal =
mendistribusikannya secara adil.=20

Kelemahan pelintiran logika itu akan tampak gambling dengan dua contoh =
berikut. Pertama, asimetrisme kelembagaan itu tidak akan serta-merta =
menjadi simetrik hanya gara-gara `bioteknologi ditolak`. Bukan cuma =
bioteknologi, bahkan teknologi lainnya pun seperti pertanian organik dan =
pertanian input eksternal rendah, juga akan gagal mendistribusikan =
pangan secara adil jika aspek kelembagaannya impoten. Kedua, kelembagaan =
yang berkeadilan pun akan gagal mendistribusikan pangan secara adil jika =
tidak tersedia cukup pangan untuk didistribusikan. Ketiga, terjadi =
ketidakimbangan informasi. Contoh yang paling baik adalah hasil =
penelitian John Losey (1999) tentang kematian kupu-kupu raja yang diberi =
makan daun milkweed yang ditaburi serbuk sari jagung Bt (jagung hasil =
rekayasa genetika). Hasil penelitian ini kerap dikutip secara tidak utuh =
hanya untuk menyerang bioteknologi. Kenyataan bahwa serbuk sari yang =
ditaburkan dalam daun milkweed itu berkonsentrasi sangat tinggi (yang =
tidak mungkin dijumpai di alam) dan makanan pokok kupu-kupu raja itu =
bukan serbuk sari jagung Bt, tidak pernah diinformasikan secara jujur =
dan patut. Bahkan pengutip hasil penelitian itu juga secara tidak adil =
mengabaikan pengakuan Losey sendiri: ``Penelitian kami dilakukan di =
dalam laboratorium dan menimbulkan isu penting, tetapi akan kurang tepat =
kalau diambil suatu keputusan mengenai populasi kupu-kupu raja di =
lapangan hanya berdasarkan hasil penelitian awal studi kami.``=20

Menggunakan penggalan hasil penelitian Losey, selain melanggar prinsip =
keimbangan informasi, juga merupakan permainan logika yang serampangan. =
Jika tidak cukup jelas, kaji perumpamaan ini: ``seseorang diberi minum =
sekali tenggak sebanyak satu drum air mineral, lantas orang itu mati =
karena perutnya meletus. Apakah patut diambil kesimpulan bahwa air =
mineral itu berbahaya bagi manusia?`` Jawaban Anda akan menunjukkan: =
apakah logika Anda sehat atau tidak! Keempat, generalisasi yang =
serampangan. Dalam soal ini, dua hasil penelitian berikut merupakan =
teladan yang paling banyak dikutip, yaitu (1) kedelai berkandungan =
methionin tinggi sebagai rakitan genetik brazil nut pada tanaman kedelai =
yang menimbulkan alergi; dan (2) hasil penelitian Dr. Arpad Pusztai yang =
menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan dan imunitas tikus setelah =
diberi makan kentang transgenik yang mengandung snow drop lectin (gen =
ketahanan terhadap serangga). Abaikan saja bahwa terdapat segudang =
kritik terhadap dua penelitian tersebut. Tapi dua fakta berikut tidak =
mungkin diabaikan, yaitu (1) bahwa esensi kedua penelitian itu tidak =
menjadi penanda-umum setiap produk transgenik dan (2) kedua produk dalam =
penelitian di atas, kemudian tidak pernah lolos-uji yang menyebabkannya =
tidak boleh dikonsumsi dan dipasarkan secara komersial.***=20


------=_NextPart_000_0008_01C01CA2.FAF035E0
Content-Type: text/html;
	charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable

<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN">
<HTML><HEAD>
<META content=3D"text/html; charset=3Diso-8859-1" =
http-equiv=3DContent-Type>
<META content=3D"MSHTML 5.00.2314.1000" name=3DGENERATOR>
<STYLE></STYLE>
</HEAD>
<BODY bgColor=3D#ffffff>
<DIV><FONT face=3DArial size=3D2><FONT color=3D#000080 face=3Darial=20
size=3D4><B>Memperdebatkan Tanaman Transgenik</B></FONT><BR><FONT =
color=3D#ff0000=20
face=3Darial size=3D2>Media Indonesia - Opini =
(9/12/00)</FONT><BR><BR><FONT=20
face=3Darial size=3D2>Oleh Djuhendi Tadjudin=20
<P>Direktur LSM Handal=20
<P>
<P>
<P>
<P>PERDEBATAN tentang tanaman transgenik di Indonesia, terutama yang =
melibatkan=20
publik, ada pada tataran `debat tanpa dialog`. Di dalamnya terlibat dua =
kubu=20
yang berseberangan, industri dan LSM, yang mewakili kubu pro dan kontra. =
Karena=20
miskin dialog, perdebatan lantas terjerembab pada soal pemihakan dengan=20
meninggalkan hal substansial, yang sebenarnya lebih penting untuk =
didiskusikan.=20
Kedua belah pihak cenderung memperkaya argumentasinya sekadar untuk =
mendukung=20
pemihakannya. Untuk tujuan itu, mitos pun kerap dibaurkan dengan fakta. =
Hasil=20
riset dikutip sepotong-potong agar menguntungkan posisi pemihakannya.=20
<P>Ketakutan terhadap ancaman hipotetik menyangkut keamanan pangan dan =
keamanan=20
lingkungan lebih mengemuka. Itu mendominasi kolom pemberitaan, =
mengalahkan=20
informasi tentang potensi manfaat nyata yang ditawarkan tanaman =
transgenik.=20
Alhasil, polemik tentang tanaman transgenik menjadi lebih mirip resensi =
film=20
<I>Jurasic Park</B></I><FONT face=3Darial size=3D2> atau=20
<I>Frankenstein</B></I><FONT face=3Darial size=3D2> ketimbang suatu =
<I>intellectual=20
exercise</B></I><FONT face=3Darial size=3D2>. Sayangnya, lembaga resmi =
pemerintah=20
tampak gagap, di mana mereka harus berdiri?=20
<P><I>Substansi teknologi</B></I><FONT face=3Darial size=3D2>=20
<P>Tanaman transgenik adalah ekspresi hasil teknologi. Untuk diskusi, =
hal itu=20
bisa juga dipahami sebagai teknologi itu sendiri. Dan setiap teknologi=20
senantiasa memiliki dua ranah, yaitu ranah teknikal dan kelembagaan. =
Ranah=20
teknikal bersangkut-paut dengan `jaminan kinerja` yang melekat pada =
teknologi=20
yang bersangkutan, produktivitas tinggi yang diperkuat dengan =
sifat-sifat lain=20
seperti tahan terhadap herbisida tertentu, tahan terhadap serangan =
organisma=20
pengganggu tanaman (OPT) tertentu, atau ekspresi tertentu yang =
bersangkut-paut=20
dengan spesifikasi mutu porduk. Sedangkan ranah kelembagaan bersangkut =
paut=20
dengan (1) interelasi dengan kepentingan mundial, termasuk tekanan dari=20
negara-negara surplus produksi; (2) akses petani untuk memperoleh paket=20
teknologi; (3) akses petani pada informasi, modal, dan sumber daya alam; =
(4)=20
aturan main yang mengatur perilaku setiap stakeholder: pemerintah, =
swasta,=20
petani, konsumen, dan lembaga penyangga (<I>buffer =
institution</B></I><FONT=20
face=3Darial size=3D2>) lain.=20
<P>Dua ranah teknologi itu ibarat dua muka uang logam. Setiap muka =
memberi=20
pemaknaan terhadap uang logam secara keseluruhan. Uang logam akan =
kehilangan=20
nilainya tatkala salah satu mukanya ditiadakan. Meski demikian, posisi =
setiap=20
muka itu tidak dapat saling dipertukarkan.=20
<P>Peranan setiap ranah itu menjadi jelas tatkala dikaitkan dengan =
`tujuan=20
program penerapan teknologi` seperti keamanan pangan dan kesejahteraan =
petani.=20
Ranah teknikal bertugas untuk merealisasikan `kinerja teknikal` (tahan =
terhadap=20
herbisida, tahan terhadap serangan OPT, dan produktivitas fisikal yang =
tinggi)=20
seperti yang dijanjikan dalam `jaminan teknikal teknologi`. Selanjutnya, =
ranah=20
kelembagaan bertugas untuk mentransformasikan `kinerja teknikal` itu =
menjadi=20
upaya nyata untuk `mencapai tujuan program`.=20
<P>Setiap ranah tidak bisa bekerja terpisah, meski kinerjanya dapat =
diukur=20
secara terpisah. Setiap ranah, secara sendiri-sendiri, merupakan `syarat =
perlu=20
tapi belum memenuhi syarat cukup` (<I>necessary but not =
sufficient</B></I><FONT=20
face=3Darial size=3D2>) untuk mewujudkan `tujuan program`. Namun, jika =
bekerja=20
secara simultan, kedua ranah itu akan memenuhi `syarat perlu dan syarat =
cukup`=20
(<I>necessary and sufficient</B></I><FONT face=3Darial size=3D2>) untuk =
mewujudkan=20
`tujuan program`.=20
<P><B>Pembodohan masyarakat</B></I><FONT face=3Darial size=3D2>=20
<P>Persoalan lebih besar yang dihadapi Indonesia saat ini bukan =
menyangkut=20
masalah substansial teknologi tanaman transgenik itu sendiri, melainkan=20
menyangkut proses pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh pihak yang =
berdebat.=20
Di antara sekian banyak proses pembodohan, lima hal berikut ini diduga =
yang=20
memiliki pengaruh paling besar. <I>Pertama</B></I><FONT face=3Darial =
size=3D2>,=20
adanya pemihakan yang lugas dan mendominasi sikap kritikal terhadap =
masalah yang=20
lebih substansial. Pemihakan secara sempit telah menyebabkan kian =
lebarnya ruang=20
debat tanpa dialog. Semangat berlebihan untuk membangun argumentasi =
penopang=20
keberpihakannya, telah menghilangkan penghargaan atas rasionalitas, =
sehingga=20
tumbuh argumentasi yang berbasis pada <I>bounded =
rationality</B></I><FONT=20
face=3Darial size=3D2> (rasionalitas terbelenggu).=20
<P>Contoh rasionalitas terbelenggu itu tercermin dalam pernyataan, =
``bagaimana=20
mungkin tanaman yang mampu membunuh serangga itu bisa aman bagi =
manusia?``=20
Pernyataan tersebut hanya tampak seolah benar jika disandingkan dengan=20
kenyataan, bahwa orang bisa tewas jika minum racun serangga. Tapi hal =
itu=20
mengingkari tidak kurang dari dua kenyataan berikut. (1) Bahwa gen yang=20
disisipkan dalam tanaman transgenik itu hanya punya efek racun pada =
serangga=20
(OPT target) tertentu saja, dan tidak bersifat racun bagi organisma =
lainnya. Dan=20
(2) bahwa efek alergisitas dan toksisitas (dua indikator penting =
keamanan=20
pangan) bukan soal spesifik karena tanaman itu adalah transgenik, =


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke