Kaltim Post, 5 Oktober 2000

Awang Faroek Soal Pasir dari Jepang dan Kompensasi Rp 400 M
"Saya Ikut Bikin UU  LH Masak Mau Merusak�

PENJABAT  Bupati Kutai Timur, H  Awang Faroek Ishak MM menyayangkan komentar minor 
berbagai pihak mengenai rencana kerjasama Pemkab Kutai Timur dengan pemerintah Metro 
Tokyo. Menurutnya, komentar tersebut cenderung tanpa didasari informasi yang cukup 
mengenai kerjasama yang bentuknya adalah, Kutai Timur menjadi tempat penampungan 
pasirakibat letusan gunung berapi Ohyama di Pulau Miyake. Sebaliknya, pemerintah Tokyo 
akan memberikan Kompensasi senilai Rp 400 miliar dalam bentuk fasilitas yang 
dibutuhkan Kutai Timur.

Tolong, berbagai pihak jangan minor dulu, apalagi sampai menyebut pelaksanaan  rencana 
itu akan merusak lingkungan Kutai Timur, "ujar Faroek kemarin di kediamannya Kompleks 
Voorfo Samarinda. Menurut Faroek, kesan bahwa komentar tersebut terkesan asal 
terlontar terlihat dari penyebutan pasir tersebut sebagai limbah. "Sejak kapan pasir 
hasil letusan gunung berapi disebut sebagai limbah, "ujarnya.

Menurut Awang, sebagai mantan anggota DPRRI yang dulu ikut menyusun UU  Lingkungan 
Hidup dan sebagai mantan Kepala Bappedalda Kaltim, ia juga tak ingin keberadaan pasir 
dan debu itu merusak lingkungan.

Ia mengatakan, mengingat kerja sama itu akan dilakukan dengan pihak luar negeri, ia 
sudah melaporkan hal tersebut kepada Menneg Lingkungan Hidup Sonny Keraf dan Menteri 
Kimpraswil Erna Witoelar. Sambutan kedua menteri itu sangat melegakan Kutai Timur. 
"Pak Awang silakan Jalan terus, tempuh semua prosedur kepabeanan, �ujar Faroek 
menirukan ucapan Sonny. Menteri juga mengatakan akan meminta departemen lingkungan 
hidup Jepang mengirimkan sertifikat bebas bahan beracun dan berbahaya atas pasir 
tersebut.

Sedangkan Erna meminta Faroek segera mengirimkan contoh pasir dan debu dari Jepang 
untuk diteliti oleh Litbang DepkimpraswiL.  Penelitian mineralogis dimaksudkan untuk 
memastikan kedua bahan itu bebas dari unsur yang merusak lingkungan, sedangkan studi 
analisa dampak lingkungan untuk menganalisis rencana pemanfaatannya. "Dalam waktu 
dekat hasilnya bisa kita ketahui, "ujar Faroek.

Ia menjelaskan, produk letusan gunung itu dalam istilah geologi (ilmu bebatuan 
mineral) disebut sebagai pyroclastik mate
al. Saat ini dalam jumlah besar,  bahan terse but menutupi kota Mtero Tokyo, baik 
bangunan maupun lahan pertanian sehingga sangat mengganggu. "Dalam keadaan basah, 
material ini akan menjadi Lumpur sehingga dalam jumlah besar akan melunjur menjadi 
lumpur yang sangat erosif dan merusak," kata Faroek.

Namun dalam jumlah tertentu dan secara terkendali, bahan itu berguna menunjang 
kehidupan, karena sebagai bisa dipergunakan sebagai bahan dasar konstruksi seperti 
beton dan batu bata, secara mineralogis juga meningkatkan kesuburan lahan pertanian. 
"Kita tahu, daerah yang memiliki gunung berapi seperti Jawa, Sumatera dan Bali
Umumnya lebih subur dibandingkan daerah yang tak punya gunung berapi, "katanya.

Contoh paling jelas pemanfaatan pasir letusan gunung berapi adalah pasca ledakan 
Gunung Galunggung di Garut. Pasir itu diangkut ke Jakarta untuk menjadi material bahan 
.konstruksi jalan layang CawangGrogol dan material beton jalan tol GrogolCengkareng. 
"Supaya tahu, pasir dari Jepang ini sama jenisnya dengan pasir Galunggung, "ujar 
Faroek.


Kerjasama dengan pemerintah Metro Tokyo tadi akan sangat menguntungkan Kutai Timur. 
Misalnya Sangatta membutuhkan pasir dalam jumlah besar untuk pembangunan sejumlah ruas 
jalan dan bangunan. Pasir dari Jepang tadi sebagian besar akan dipergunakan untuk 
menimbun kawasan rawarawa dan menaikkan permukaannya, sehingga terbebas dari problem 
banjir dan pasang surut. Selain memperoleh pasir dan fasilitas senilai Rp 400 M, kerja 
sama tadi juga dapat menjadi awal yang baik untuk kerjasama di bidang lainnya.

"Yang jelas kompensasi itu tidak dalam bentuk uang. Jepang akan membangun berbagai 
fasilitas sesuai kerja sama itu, kami tinggal menerima hasilnya,"ujar Faroek. 
Disebutkannya, pasir itu akan dikirim ke Kutai Timur dalam kemasan plastik, sehingga 
terhindar dari kemungkinan menyebar ke sekitar tempat penumpukan yang lokasinya tak 
jauh dari Bandara Sangkima dan pelabuhan laut.

"Kami merencanakan begitu, karena bandara dan pelabuhan itu akan diperbesar. Jadi 
pengangkutan pasir itu ke lokasi proyek menjadi mudah dan ongkosnya murah, " ujar 
Faroek. (s silaban)





## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke