Suara Kaltim, 5 Oktober 200 Impor Debu Jepang, Didukung 2 Menteri Menteri LH yang semula gelisah, kini berbalik mendukung rencana impor 3 juta ton debu Jepang ke Sangatta. Material itu diklaim Bupati Awang Faroek bagus, kendati di Tokyo bisa mengundang banjir lumpur. SAMARINDA : Rencana Bupati Kutai Timur Awang Faroek untuk mengimpor 3 juta ton debu letusan gunung berapi dari Jepang, tampaknya semakin mulus. Ide itu akhiranya didukung dua menteri. Bahkan, Menteri Negara Lingkungan Hidup (LH) Sonny Keraf yang semula menuding rencana Bupati Faroek sebagai tindakan gegabah, kini berbalik arah ganti mendukungnya. Menteri Permukiman dan Prasarana wilayah Ny Erna Witoelar prinsipnya sudah oke. Itulah oleholeh Awang Faroek sepulang dari Jakarta, yang disampaikan dalam konferensi pers di kediamannya di Samarinda, kemarin pagi. Awang Faroek menuturkan, Selasa lalu dirinya sudah bertemu Menneg LH Sonny Keraaf dan Menteri Erna Witoelar. "Keduanya mendukung saya untuk mendatangkan material produk gunung berapi yang meletus di Tokyo, asal ditempuh prosedur yang benar," katanya. Bupati Faroek mengatakan, Erna Witoelar menyatakan bahwa kerjasama daerah dengan pihak luar negeri harus dihargai, apalagi pada saat bergulirnya otonomi daerah. Namun Erna menyarankan agar segala sesuatunya dilaksanakan dengan prosedur yang benar. Sedangkan Menneg LH, menurut Awang, selain mendukung, Juga akan membantu Kabupaten Kutai Timur untuk memastikan bahwa impor pasir letusan gunung berapi di Tokyo itu bukanlah limbah, melainkan bahan baku atau material yang bermanfaat banyak bagi daerah. "Selain mendukung kami untuk mendatangkan material itu, dengan catatan melalui prosedur yang benar, Menneg LH juga akan menyurati Komisi Lingkungan Hidup di Jepang untuk memastikan bahwa yang kami impori tu bukan limbah, � ujarnya. Faroek sendiri berani memastikan idenya bagus. "Saya tidak gegabah. Saya tahu persis, pasir bekas gunung berapi itu bukan limbah. Sebaliknya sangat berguna bagi daerah kami, bahkan sangat bermanfaat untuk menyuburkan lahan pertanian kami, " kata Awang Faroek. Menurut Awang, pasir letusan gunung Ohyama di Jepang itu, jika diolah melalui rekayasa teknologi bisa dijadikan sebagai bahan untuk beton dan material bahan pembangunan jembatan, bahan timbunan dan bahan konstruksi. "Tidak perlu khawatir. Tidak akan ada efek lingkungan negatif yang ditimbulkannya. Kami sudah memperoleh contohnya dan telah diteliti oleh Balitbang Kementrian PU, "tambahnya. Dikemukakan, pasir yang akan dikirim ke Kutai Timur itu merupakan material muntahan akibat meletusnya Gunung Ohyama di Pulau Myake, Jepang, Agustus 2000 yang kemudian menutupi sebagian kota Tokyo. "Material pasir muntahan Gunung Ohyama itu membahayakan warga Tokyo karena jika kena air hujan bisa menjadi banjir lumpur yang dapat membahayakan warga kota,"paparnya. Pasir muntahan gunung berapi itu, menurut Awang, dalam istilah geologi disebut pyroclastik material. "Dalam jumlah yang terbatas, bahan baku atau material itu secara mineralogis akan mampu meningkatkan kesuburan lahan pertanian. Jadi jelas, itu bukan limbah, karena yang namanya limbah itu definisinya adalah sisa dari hasil produksi," urainya tangkas. Sama dengan bahan baku (material) pasca letusan Gunung Galunggung di Garut,Jabar, menurut Awang, selain menyuburkan lahan pertanian, juga bisa dimanfaatkan untuk bahan konstruksi, beton, dan pembangunan jalan. Dijelaskan pula, sesuai UU No. 22 / 1999 tentang Otonomi Daerah, setiap daerah memiliki kewenangan untuk bekerjasama dengan pihak luar negeri. "Kami menangkap peluang untuk melakukan kerjasama dengan Gubernur Metropolitan Tokyo, dan kerjasama itu sangat menguntungkan karena kami memperoleh material yang dapat kami manfaatkan untuk pembangunan infrastruktur kota kami, " kata Awang. Dikatakan, Kutai Timur memperoleh kompensasi berupa bantuan proyek pembangunan fisik senilai 400 miliar. "Manfaat yang kami peroleh luar biasa besarnya. Material itu akan kami pergunakan untuk membangun enam ruas jalan beton, termasuk jalan outer ringroad, yang mengelilingi Ibukota Sangatta sepanjang 80 Km lebih," katanya. Sedangkan kompensasi bantuan proyek seniliai Rp 400 miliar, akan diarahkan untuk membangun sarana dan prasarana wilayah, fasilitas sosial, fasilitas umum, termasuk kesehatan dan pendidikan. "Bantuan senilai Rp 400 miliaritu akan berupa rumah sakit, lapangan terbang, sekolah, pasar,dan fasilitas lain yang akan bermanfaat bagi masyarakat banyak," ujarnya. Menurut Awang, jika Kutai Timur tidak menangkap peluang itu, maka Gubernur Metro Tokyo akan memberikannya kepada daerah lain di Indonesia yang juga sangat berminat seperti Jawa Barat, serta pihak luar negeri, yaitu Thailand dan Vietnam. Selain akan membayar kompensasi senilai Rp 400 miliar, Pemerintah Tokyo juga bersedia menyerahkan satu pohon untuk tiap ton pasir gunung berapi itu. "Jadi kami akan memperoleh tiga juta pohon untuk kami tanam di Taman nasional Kutai yang kita ketahui mulai kritis akibat berbagai penjarahan," tuturnya girang. (ant/yat) ## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ## To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
