Kawan-kawan, 

Informasi awal yang diringkaskan oleh Tri ini saya sudah lebih dari cukup
bahwa situasinya sudah di garis merah.  Kelihatannya memang yang "sukses"
hanya sedikit dari yang "gagal."  Dan dari yang sedikit itu virusnya
ternyata tidak menyebar dengan luas ke tempat lain sebagai lesson learned,
kenapa? 

Dari hiruk pikuk reformasi, kawasan konservasi kelihatan relatif stagnan
dalam perubahan kebijakan; relatif tidak ada perubahan (paling tidak, saya
tidak aware kalau ada perubahan yang signifikan).  Ini menarik.  Pada
kenyataanya hiruk pikuk luar biasa ternyata makin terjadi di TN seperti
kasus-kasus itu.

Oleh karena itu dengan waktu kita yang makin sempit, aku menyambut baik
gagasan untuk sekedar ketemu secara kongkrit untuk membuka lagi wacana
taman nasional ini.  Dan menjajagi kemungkinan adanya pemikiran baru atau
kontrak sosial baru tentang pengurusan TN ini.  

Kongkrit saja, saya usulkan beberapa nama yang sudah disebut Tri (PKA,
Pemda WWF, CI, TNC, WCS, FFI, Birdlife, Wetland International, Walhi,
Plasma, Konphalindo, YLL, Yali, Latin, Warsi, Yabshi,  AMAN, dsb) bisa
menjadi host borongan.

Salam,

Rahmad.-

============



At 12:18 AM 10/18/00 +0700, you wrote:
>Dear rekan-rekan di dalam milist,
>
>Menyimak diskusi akhir-akhir ini di dalam milist ini, saya menangkap pesan
>bahwa permasalahan yang menyangkut Taman Nasional (TN) di Indonesia memang
>semakin runyam.  Berikut ini beberapa catatan kasus yang  berkaitan dengan
>keberadaan TN dan permasalahannya di berbagai pelosok nusantara, sbb:
>1. TN Leuser (Aceh/Sumut): penebangan liar
>2. TN Kerinci Seblat (Sumbar/Bengkulu/Sumsel/Jambi): penebangan liar
>3. TN Bukit Tiga Puluh (Riau): ancaman kelapa sawit, rencana tambang dan
>penebangan liar
>4. TN Bukit Barisan Selatan (Lambung/Bengkulu): perambahan lahan, penebangan
>liar dan kelapa sawit
>5. TN Way Kambas (Lampung): muncul sengketa mengenai hak atas tanah pada
>lokasi habitat gajah
>6. TN Ujung Kulon (Jabar): sengketa lahan pemukiman di dalam TN
>7. TN Meru Betiri (Jatim): rencana penambangan emas di dalam kawasan TN
>8. TN Gunung Rinjani (NTB): penebangan liar
>9. TN Tanjung Puting (KalTeng): kasus penebangan liar dan krisis habitat
>orang utan
>10. TN Kutai (KalTim): kasus pasir Jepang, pemukiman dan penebangan liar
>11. TN Gunung Palung (KalBar): penebangan liar
>12. TN Rawa Aopa Watumohai (SulTra): pengusiran masyarakat adat 'Moronene'
>dari tanah leluhurnya, perburuan rusa secara liar
>13. TN Nani Wartabone (Sulut): penambangan emas
>14. TN Lorents (Papua): kasus tambang emas Freeport dan rencana pembukaan
>jalan oleh Korea
>15. TN Laut: indikasi sengketa batas wilayah laut antar kabupaten/propinsi
>(?)
>16. ...? dst. dsb.
>
>Sementara, juga ada beberapa catatan yang agak 'berbeda' pada beberapa kasus
>TN lainnya seperti:
>1. TN Lore Lindu (SulTeng): diakuinya keberadaan masyarakat adat 'Orang
>Katu' di dalam kawasan TN
>2. TN Bukit Duabelas (Jambi): diusulkan sebagai upaya untuk 'mengukuhkan'
>keberadaan suku Talang Mamak
>3. ...? dst.dsb.
>
>Saya percaya bahwa rekan-rekan dapat mengkoreksi data diatas, dan atau
>menambahkannya dengan informasi yang aktual mengenai keberadaan TN-TN lain
>di Indonesia, yang pada intinya akan berpesan sama: 'TN di Indonesia saat
>ini berada dalam kondisi yang labil, 'tidak diakui' dan terancam'.  Semakin
>terbukanya akses terhadap sumberdaya di dalam TN itu sebagian disebabkan
>karena euforia reformasi (dipacu oleh status TN yang sebetulnya merupakan
>suatu 'open access' regime?), adanya kerancuan wewenang di tingkat lapangan
>oleh pemerintah daerah (karena munculnya kebijakan desentralisasi), dan
>ketidakmungkinan petugas PKA untuk mengelola wilayah TN yang luas secara
>sendirian (tidak mungkin hanya pegawai negeri yang mengelola kawasan
>konservasi yang luasnya mencapai 19 juta hektar itu).
>
>Apapun, nampaknya memang penting untuk memunculkan kembali 'wacana taman
>nasional' ke permukaan.  Justru mungkin, menurut saya, ini mungkin saat yang
>tepat untuk mulai mendiskusikan kembali berbagai aspek mengenai Taman
>Nasional di Indonesia.  Sebagaimana disebut dalam email terdahulu (mas
>Naryo) bahwa kita bisa saja mendiskusikan topik ini pada berbagai
>dimensinya: baik pada tingkat filsafatnya (berikut sejarah TN itu
>sendiri --secara global dan nasional), ilmu pengetahuan yang menyertainya
>(lokal atau import), aspek budayanya (lokal atau campuran), politik
>keberpihakannya (lokal setempat, atau kepentingan pemerintah daerah, atau
>atas kepentingan bisnis global plus kepentingan nasional/pusat), serta bisa
>juga membahas pada tingkatan pengelolaannya (manajemen/tehnis).  Kita bisa
>mulai dari yang makro dulu, atau bisa pula dimulai dari yang mikro (kasus).
>Terserah saja.
>
>Saat ini sebetulnya cukup banyak lembaga yang terlibat dalam isu pengelolaan
>TN di Indonesia, selain lembaga pemerintah yang ada (PKA dan juga Pemda?).
>Ada juga banyak lembaga berskala internasional (seperti WWF, CI, TNC, WCS,
>FFI, Birdlife, Wetland International dsb), lembaga lokal nasional (macam
>Walhi, Plasma, Konphalindo, YLL, Yali, Latin, Warsi, Yabshi, dsb dengan
>jaringannya) serta organisasi masyarakat setempat (semacam AMAN atau yang
>lainnya), yang peduli dan punya kegiatan yang berkaitan dengan TN (entah pro
>atau kontra).
>
>Maka sebetulnya kita bisa saja mengorganisir diri untuk mulai membuka arah
>menuju pada suatu pertemuan --entah pada tingkat lokal, regional, atau
>nasional-- untuk ikut membuka 'wacana taman nasional' dan kemudian ikut
>merumuskan kembali 'masa depan taman nasional di Indonesia'.  Atau yang
>menurut beberapa kawan, disebut-sebut dengan istilah 'bagaimana merumuskan
>kontrak sosial (yang baru) untuk TN'.  Tentunya antar para pihak.
>
>Jadi, pertanyaannya kemudian adalah: apakah ada yang tertarik untuk
>memulainya?!
>
>Jika ada, maka baiknya dilakukan secara bersama dalam suatu kelompok kecil
>dulu dan kemudian dapat berkembang dalam suatu pertemuan yang lebih besar,
>yang mungkin dapat dilakukan kelak pada tingkatan regional atau nasional.
>
>Bagaimana?
>
>
>Salam,
>TN (Tri Nugroho)
>Fasilitator
>Program Kehutanan Multipihak DfID
>
>
>
>
>
>
>>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
>
>
>
>



>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke