> Waktu itu, 31-Jul-2003, kamu (adi) menulis:
> > > Masak sih? Bukannya malah mendorong perkembangan
> IT? Kan sekarang
> > > perusahaan pembuat software tidak perlu takut
> lagi produk bikinan mereka
> > > dibajak.
> >
> > ok. saya kaitkan dengan milis ini: linux-aktivis.
> tinjauan
> > di atas bergantung pada posisi kita berdiri,
> sebagai pendukung
> > linux, pendukung opensource in general (walaupun
> linux berlisensi
> > GPL), atau pendukung free software (GNU/GPL)?
> >
> > alasan bahwa dengan UU HAKI tsb. dapat
> menggairahkan bisnis
> > perangkat lunak di Indonesia pada akhirnya hanya
> melahirkan
> > kapitalis baru :-) ini justru yang mau diperangi
> oleh GNU,
> > supaya ada keseimbangan antara pengguna dan
> developer dalam
> > hak. masalahnya bentuk bisnis semacam ini nyaris
> tak terdengar
> > di Indonesia.
> >
> > yang saya tahu, ada sekelompok anak muda berusaha
> mengembangkan
> > rimbalinux, dengan pola pikir yang di atas.
> walaupun saya ikutan
> > milisnya, tapi tidak tahu perkembangan riilnya
> sudah sampai di
> > mana :-)
> >
>
> Bukan ngeles pak.. gelombangnya terlalu besar untuk
> ditabrak, kecuali
> finansial mapan. Terpaksa pola pikir tersebut
> dipinggirin dulu, tidak untuk
> dihapuskan, dan suatu saat ditengahkan kembali.
>
> Bisa jadi kalau sudah mapan berubah lagi, malah
> hapus sama
> sekali.. tau dah.. Mudah mudahan ada yang ngingetin
> jika itu terjadi.
>
> Dulu waktu usaha baru mau berdiri, dan cari pemodal,
> hampir semua investor bilang
> saya terlalu idealis. Meskipun akhirnya bergerak
> dengan modal sendiri
> (dengkul dan mulut - hehehe..diperbuas pisan) tapi
> prioritas sekarang
> agak berubah. Semua resources disini dipakai untuk
> 'fast money' meskipun
> secara prinsip tetap dipegang (misal hanya
> mengerjakan software yang
> tools developmentnya bersifat open source atau bisa
> running di platform
> open source OS).
>
> Itu yang dari luar. Secara internal, pengembangan
> software open source secara bazaar, tetap butuh
> super ego. Ada satu
> orang developer yang betul betul bisa manage, atau
> mengambil keputusan
> sendiri. Leading. Saya sudah mencoba delegasikan,
> tapi kurang jalan. Dan
> kalau lihat development kernel, gnu, apache Anda
> akan tahu salah satu
> sebab mereka tetap develop dan membesar. Ada Linus,
> Stallman, Brian dll.
>
> btw makasih sudah di 'slenthik'. Mungkin waktunya
> strategi ulang atau
> prioritas ulang. hehehhe...
>
> --
> fade2bl.ac
Wah,... seru nih.
Saya cuma mo kasih input / response kali buat para
linux-aktivis. dengan berlakunya UU HAKI banyak
perusahaan yang pada ngurusin License (OS + Aplikasi).
mungkin saatnya kita harus berani tampil beda / beda
dari kebanyakan orang yang cuma melemparkan masalah /
kesalahan bukannya malah mensupport resource yang ada
(developer Open Source) udah bagus ada yang mo buat OS
Linux apapun nama distronya, tapi setelah dikaji dan
melihat kebutuhan end user justru kita malah membuat
bingung end user dengan banyaknya distro yang ada.
Dari kenyataan yang ada diatas.. end user itu gak
hanya butuh OS tapi aplikasi yang banyak dipake di
lingkungan kantor, kenapa? ("Developer Open Source")
gak ikut dalam salah satu project atau mengeroyoki
pembuatan satu aplikasi "bukan OS loh". realitasnya
Di linux-aktivis itu banyak yang cuma "COMMENTATOR"
..:) termasuk saya..:)) dan kalo pun ada yang jago
develop ... si developernya masih pada ngurusin
"PERUT" .. ini aja udah beda sama pemikiran developer
di "BARAT" .. mereka bisa hidup dengan hanya jadi
developer Open Source.
Di Open Source contoh aplikasi yang paling banyak
dipake padanannya adalah StarOffice gak tau sekarang
namanya apa?, kalo mau jujur dari kita
(linux-activis)berapa persen yang belum pernah pake
Microsoft (OS, Aplikasi)?.
Sekarang berapa persen yang ikut dalam training
(inhouse training [kampus,lembaga2 training,dll])
belum pernah pake komputer sama sekali? nah dari yang
sudah pernah pake Microsoft / yang belum sama
sekali,.. bisa dipastikan yang sudah pernah pake
Microsoft pasti akan mencari padanan APLIKASI yang
mereka pake di MS... nah kalo yang belum pernah pake
pasti gak bakalan tanya padanannya..?
Kembali ke realitas yang ada.. sadar / gak sadar kita
menghadapi mungkin 80 - 90 % end user yang sudah
pernah pake MICROSOFT...[ini gak ada statistiknya yah
...:)]
Konsep Thin Client yang ada di Open Source banyak yang
bagus2.. misalnya:
- LTSP
sebenernya ini konsep yang bagus loh untuk
menghilangkan sama sekali license yang ada,.. gak
perlu harddisk di client otomatis gak perlu OS di
client.... nah disini developer ditantang untuk
mengembangkan 'LTSP' supaya bisa di jual dan bisa
bersaing dengan produk sejenis misalnya:
- CITRIX Meta Frame server
Ada yang udah pernah nyoba?, si Citrix ini butuh
harddisk di client dan butuh OS, tapi dia bisa multi
Network (NOT DHCP) dan bisa diakses oleh wireless
protocol dan embedded OS yang ada misalnya saya punya
Palm dan bisa diakses dari Palm yang notabene
wireless. Dan ini CITRIX ini harganya $400 dolar /
client + OS Client.
dari contoh kasus diatas ada gak kita yang mendirikan
CMP / atau bukan CMP lah community (aktivis linux
indonesia) yang yang mengembangkan konsepnya Thin
Client "LTSP" ini supaya bisa bersaing dengan produk
sejenis dan laik jual... Ini baru satu contoh loh.
Yang saya tahu linux-aktivis member pasti punya
segudang pengalaman & cara untuk memajukan Open Source
di Indonesia.
Icalism
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software
http://sitebuilder.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]