2008/2/27 Resza Ciptadi <[EMAIL PROTECTED]>:
>  Ini dia yang saya maksud, orientasinya pasar bukan ilmunya sendiri,
>  ini adalah pertanda benar dugaan saya bahwa lembaga akademis kita
>  memang institusi bisnis, saya sebenarnya tidak melarang lembaga
>  pendidikan akademis berbisnis tapi proporsionallah, jangan justru yang
>  dominan bisnisnya. Kesannya mahasiwa itu semacam produk yang harus di
>  keluarkan secara besar-besaran(karena makin besar makin
>  menguntungkan), cash flow tergantung keluar masuknya mahasiswa dari
>  kampus. Makin cepat keluar makin baik karena yang masuk baru dengan
>  bayaran lebih tinggi sudah banyak menunggu. Cari ajah solusi yang
>  praktis, mo ngerti ke ga ke, yang penting sudah diajarkan, meskipun
>  teori.
>

Nah, jika seperti ini mah sudah bukan [semata-mata] urusan pendidikan
informatika lagi, melainkan pendidikan di Indonesia dalam arti luas.
Tidak perlu menutup mata atau dipungkiri, memang spanduk penerimaan
mahasiswa baru menjual pendidikan agar alumninya mudah bekerja.

Solusinya juga dapat dibuat mudah (dan buat apa dibuat sulit?):
gunakan saja pengetahuan dan perasaan kita akan kewajaran ("common
sense" deh) untuk menilai sebuah lembaga pendidikan masuk kriteria
lebih condong berorientasi pasar atau pada pengetahuan. Masing-masing
punya segmen penggemar dan saya kurang suka memvonis yang lain sebagai
"pasaran" atau "kurang idealis." Mengajak biasanya lebih mudah
diterima dan jauh dari ofensif dibanding memberi label pada pihak
lain. Itu salah satu fungsi KPLI yang menurut saya tumbuh biasanya di
sekitar daerah kampus.

-- 
amal

-- 
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke