2008/2/26 Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]>: > 2008/2/26 Resza Ciptadi <[EMAIL PROTECTED]>: > > > > He2.., karena disruh terus mari kita teruskan. > > pertama2 kita definisikan konteks yang saya maksud akademis disini > > adalah Fakultas Ilmu Komputer khususnya jurusan Informatikanya, jadi > > mungkin tidak pas dengan kondisi Fakultas lain. > > Jika demikian, perlu juga dibedakan antara kurikulum yang berlaku > nasional (misalnya ditetapkan oleh Diknas) dan yang dipilih oleh > perguruan tinggi tersebut. Siapa tahu memang ada perbedaan di antara > keduanya sehingga kita tidak menyamaratakan.
Wah yang ini saya ga tau deh, saya pikir kalo sudah ditentukan diknas(apa itu Akreditasi apa??) yah univ harus nunut, kalo cuma per univ yah hasilnya mirip sekarang memang ada yang kearah FOSS tapi sepertinya lebih banyak yang tidak. > > GNU/Linux lahir di lingkunagan FOSS sendiri merupakan kultur akademis. > > Maka yang menjadi keritik saya sepertinya GNU/Linux seperti tamu tak > > diundang di rumah sendiri, ini lah yang membuat saya heran. Kenapa > > harus GNU/Linux+distribusinya yang harus di pakai? Karena di > > informatika banyak sekali mata kuliah yang lebih jelas bila memakai > > GNU/Linux+aplikasinya dibanding over Window$, meski mungkin > > window$+aplikasinya perlu diberikan, tapi dalam koposisi yang lebih > > kecil(mungkin di jalankan diatas emulator bila perlu). > > Setuju dan praktis memang demikian: > * sistem operasi belajar menggunakan Minix; > * teori kompilasi menggunakan yacc, kompilator yang dibuka kode sumbernya; > > (itu pengalaman di tahun 1990, sebelum perangkat lunak bebas marak) Betul, pa. Ini ilmu komputer pa, ilmu yang "menghidupkan" barang mati(H/W) menjadi fungsional(hidup). Cuma Tuhan saja yang mampu menghidupkan, tapi beliau meniupkan ruhnya kedalam makhluk yang paling sempurna yang namanya manusia. Mencipta kehidupan adalah sifat Beliau yang dititipkan kepada kita. Rasanya nelongso melihat "pelacuran" ilmu ini semata2 untuk uang:-( > > Dulu teman2 saya > > selalu mengeluh buat apa Kalkulus dipake kerja juga ngak, susahnya > > bukan maen. Dosen kalkulus secara diplomatis menjawab, "Saya juga > > males ngajar kalian anak IT (kebetulan dosennya dari MIPA), TAPI ini > > penting untuk melatih pola pikir kalian". Nah alasan yang sama yang > > membuat saya berpendapat GNU/Linux harus mendapatkan tempat lebih luas > > di informatika, karena kampus punya otoritas untuk MEWAJIBKAN, kalo > > dianggap susah ya memang pada tempatnya kalo mo gampang pilih jurasan > > atau fakultas lain(meskipun saya juga dapet statistik saya lihat anak > > matematik bahanya lebih susah lagi dari saya untuk statistik), pilihan > > banyak kok kenapa harus ambil Informatika? > > Seharusnya pak/bu dosen kalkulus tidak perlu menyebut malas mengajari > anak didiknya, berkesan kurang baik. :( Sebenernya sih ngomongnya sambil becanda, lagi sapa berani ngomong kalo ga dalam kondisi santai. > > Perlu dipastikan dulu tentang alasan susah tersebut, boleh jadi bukan > di situ intinya. Perlu pendekatan kalau kata Bung Harry. :-) Betul pa, susah sih ga yang pasti bahannya lebih banyak. Saya termasuk orang yang tidak percaya akan orang pintar, yang saya percayai adalah orang yang bekerja keras. Kalo sudah paham/kenal semua jadi mudah bukan. > Yang perlu diingat juga, ada beberapa perguruan tinggi yang memang > berfasilitas sangat minim (malah boleh dikata tak layak --maaf), ini juga alasan lain kenapa Linux bisa membantu. Linux bisa diinstal dari mulai komputer berspek rendah sampai yang paling canggih. Untuk sistem operasi bahkan mungkin hanya memerlukan dua disket ukuran 1,2 Mb. Saya pikir kalo sudah berani mendirikan Fakultas Ilmu Komputer, mampu lah membeli komputer 486(dimana linux bisa jalan) > sehingga mata kuliah yang diajarkan benar-benar seperti teori melulu, > jadi boro-boro sampai memikirkan menyediakan lab. Linux misalnya. Yang > seperti ini memang landasan di bawahnya belum siap kalau menurut saya, > jadi "informatika" diperah semata-mata karena sedang laris. Sedih > memang, jurusan apapun jika keadaannya seperti itu ya jauh dari target > ideal pendidikan. Ini yang jadi keprihatinan saya. > > Mungkin kalau ada penyataan tidak ah Informatika kita tidak nunut > > Window$/dos, mungkin coba kita lihat ruang-ruang praktek kita, apa > > sistem operasi yang di pakai? apa compiler yang dipakai untuk > > algoritma, apakah Borland Turbo C/Turbo Pascal atau GCC/Java?. Satu > > Sekali lagi, di tahun 1990 sudah seperti harapan di atas. Turbo > Pascal, Turbo C/C++, Turbo Vision, dkk. adalah sekian kompilator yang > populer di kelas informatika. Waktu itu perangkat lunak bebas memang > belum populer. MFC yang merupakan singkatan dari Microsoft Foundation > Class (di produk C++ mereka) diplesetkan menjadi Microsoft Fans Club > dan muncul tandingannya, LAM: Liga Anti Microsoft. > > Memang ada perkembangan yang menyedihkan: karena perguruan tinggi > sulit memelihara "mainframe" dan komputer mini, akhirnya diganti > dengan PC, sehingga menjadi terkesan komputer = PC dan kita tahu > hegemoni Microsoft di dunia PC. Namun menurut saya dengan perkembangan > Linux saat ini dan adanya koneksi Internet, ada keseimbangan baru. > > Tentu tidak semua sekolah informatika seperti gambaran saya di atas, > atau... memang "kelangkaan" yang saya alami? Mudah-mudahan tidak. :) > > > Lagi, yang disampaikan asfik benar adanya(100% teori pada mata kuliah > > OS), terus terang ini sangat membosankan dan membuat para peserta > > didik dapet C :-P. Andai OS pake link yang ditunjuk asfik(kalo ga > > salah pake linux 0.01), andai saja teori bahasa dan automata dan > > teknik kompilasi memakai yacc/bison dengan php1 sebagai contoh > > kasusnya mungkin tidak begitu membosankan, karena motivasi peserta > > didik biasanya akan terangkat bila mengetau bagaimana pemakaian sebuah > > konsep, ini informatika pa yang segala sesuatunya bisa langsung > > dipraktikan karena peserta didik biasanya punya di kos/rumah masing2. > > Nanti dulu... kuliah sistem operasi (apalagi hingga masuk ke kernel > dalam Minix) memang tidak mudah. Minix memang membantu, namun perlu > diingat juga staf pengajar yang kompeten di bidang ini sangat langka. > Teori bahasa dan pengembangan kompilator juga termasuk mata kuliah > "abstrak" yang kita kekurangan pakar di sana. Lahan kering, menurut > saya. Katakanlah yang sesama berbasis matematika pun, analisis numerik > lebih praktis dibanding tiga mata kuliah di atas. > > Jadi perlu diperjelas dulu: apakah staf pengajar mata kuliah di atas > sudah siap dengan materi praktikum? Jika sudah, pilihan alat bantu > memang yang di atas, tidak ada yang lain. :) Wah ini memang contohnya kurang populer(basah), bagaimana dengan mata kuliah jaringan komputer, saya pikir ISO 7 layer akan lebih dipahami bila ngeset2 routing, dan pembatasan bandwith. > > > -- > amal > > -- > Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] > Arsip dan info: http://linux.or.id/milis > > -- Resza http://jakarta.linux.or.id http://www.bonekatux.com -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

