Majalah.Linux wrote:
> 2009/3/17 Yudhi Kusnanto <[email protected]>:
>> Pak Rus, dan kawan-kawan!
>>
>> ada cerita, tentang seorang pematung. suatu hari si pematung selesai
>> menghasilkan karya yang sangat indah (menurutnya!). sang pematung kemudian
>> merenung mencari cara yang tepat untuk memamerkan karyanya tersebut.
>> sampailah pada beberapa pilihan, sebagai berikut:
>>
>> 1. HARAM, bagi siapapun untuk menikmati karyanya kecuali melalui gambar
>>   foto atau video (tentu saja setelah mendapatkan hak -- beli, dong!).
>>
>> 2. BOLEH, bagi siapapun untuk menikmati karyanya dari jarak paling dekat
>>   dua meter, hanya di gallery tertentu -- beli tiket gallery juga, ya.
>>   (lihat boleh, pegang jangan!)
>>
>> 3. BOLEH, bagi siapapun untuk mengagumi karyanya dengan cara menyentuhnya.
>>   pegang-pegang aja sampe puas!!! (tapi cuma replikanya)
>>
>> 4. BOLEH, bagi siapapun untuk membuat adaptasi dan mengubahnya sesuai
>>   selera. yang di-permak tentu bukan karya aslinya.
>>
>> sampe disini sang pematung jadi bingung, mana yang akan dia pilih. nah,
>> dia minta bantuan kawan-kawan, sebaiknya pilih yang mana?
>>
>> salam
> 
> seniman kok ga punya pendirian..
> 
Mbok ya kalo baca itu jangan sepotong-sepotong langsung komentar. Nggak
nyambung bos.

Ini pilihan yang tersedia, apa yang sebaiknya dipilih, begitu.

Lain kali baca sampai tuntas ya, kalo perlu diulang lagi, sampai paham
maksud pernyataan/pertanyaannya. Kalo semua orang baca sekilas lalu
punya kesimpulan yang salah gini, ini yang bikin kacau. Miskomunikasi terus.

--
Donny Kurnia
http://hantulab.blogspot.com
http://www.plurk.com/user/donnykurnia


-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke