Saya setuju dengan anda dan YANTI bahwa selama orang masih hidup di dunia,
yang namanya pamrih akan terus ada, meskipun kadar dan tingakatannya
berlainan, namanya tetap aja 'mengharapkan imbalan'. Orang melakukan
perintah agama, untuk mendapatkan pahala. Menyapa atau tersenyum pada orang
lain, kita mengharapkan dia melakukan hal yang serupa, kalau tidak kita
pasti tersinggung/sakit hati. Anda memberikan begitu banyak ungkapan rasa
sayang, anda mengharapkan hal yang serupa juga dia lakukan untuk anda,
paling ngga 10%-lah ( itu kalo bisa diukur....).
 ----------
From: Happy Tune
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [love] cinta...tanpa pamrih?
Date: Tuesday, December 11, 2001 2:05PM

    Saya kurang bisa terlalu memahami apa yang dimaksud pamrih, kalo
misalnya ada pernyataan : 'cinta sejati atau kasih murni tidak mengharapkan
pamrih'.
    Pastinya pamrih tsb buat kita yah... hemmm.... padahal, mungkin, dari
pengalam saya pribadi sih, pamrih selalu ada. Dalam bentuk dan ukuran yang
berbeda-beda.
    Saya pernah mencintai orang tanpa 'menuntut' suatu kebersamaan yang bisa
'dirayakan' berdua. Saya juga pernah mendampingi seseorang itu dalam susah
dan senang dan dalam segala suasana apa pun!
    Saya saling membangun dengan dia..perhatikan : SALING!
    Saya memberikan banyak sekali buat dia...support, cinta, perhatian,
waktu saya, pengertian, uwaahhh! Banyak deh pokoknya :)
    Dan saya nyaris tidak pernah meminta atau menuntut apapun dari dia,
KECUALI, janji dan jaminan dari dia, kalo dia akan bahagia, kalau dia akan
dan terus mengusahakan untuk bisa bahagia.
    Saya rela abeesh berkorban untuk kemapanan dan kelanggengan dia. Dan
saya tidak pernah merasa cape atau berkeberatan.
    Cuman....
    Tanpa pamrih...hemm...ngga tau juga yah..
    Apa bisa dibilang tanpa pamrih, kalo ada moment2 dimana saya membutuhkan
dia? Dimana saya menginginkan keberadaan dia, sebagai teman bercerita,
berbagi, tukar pikiran.... Moment2 dimana saya memohon kepada Tuhan agar
waktu saya dengan dia bisa diperpanjang?
    Karena, walaupun saya amat mencintainya, saya masih mengharapkan kalau
kita bisa terus begini. Tanpa keluar dari jalur yang seharusnya. Apa itu
egois juga namanya? Apa itu pamrih?
    Karena menginginkan dia bukan untuk 'itu', tapi sebatas bersama saja..
karena kalau bersama dia, saya merasa senang. Dan saya merasa senang kalo
bisa banyak memberi untuk dia tanpa dia harus melakukan pengorbanan atau
apapun ke saya.
    Dan saya masih ingin merasa senang...makanya, sebagai "pamrih"-nya, saya
mengharapkan agar bisa terus begini... Terus memberi ke dia...
    Dimana salah saya?
    Makasih buat semuanya yang udah baca imel panjang ini :)

xoxo

-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke