Dony - The Arasta - Syahrastany wrote:

> > Setuju......
> > tentu sebelum mengambil keputusan kita sudah memikirkan konsekuensinya nanti....
> > tapi bagaimana jika setelah semuanya terjadi, kemudian ada yang berubah, atau yang
> > kita harapkan terjadi, ternyata tidak semua terkabulkan
> > Misalnya, kita mulai merasa "service" dari pasangan kita kurang memuaskan, 
>sementara
> > di lain pihak ada yang menawarkan "service" yang lebih memuaskan
> > ......hayoo...gimana ?????
> > Apakah kita harus tetap berpegang pada komitmen kita sebelumnya ??????
>
> itu gunanya komitmen .. dan komitmen untuk bersama harus dimiliki bersama
> artinya komitmen bukan sepihak
> kalo masalah ada yang lebih baik, memang tiap orang tidak ada yang
> sempurna, kelemahan ada untuk bisa dipahami. Itu lah komitmen.

Berarti perjanjiannya  lebih ditekankan untuk saling menerima dan mengerti satu sama 
lain,
menerima dan mengerti segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Untuk itulah, menurut gua, kita  juga harus bisa menerima dan mengerti segala kelebihan
dan kekurangan kita.
Mengapa kita harus "memalsukan" diri kita kepada pacar ?
karena kita tidak bisa merima diri kita sendiri sebagaimana adanya, kita ingin selalu
terlihat "sempurna" di depan si do'i.
Mengapa kita tidak tunjukkan siapa diri kita, mengapa tidak kita katakan,

"Oh...yayang ku beginilah adanya diriku, jelek, rakus, pemarah, jujur, pemalu dan tidak
sombong dll, terimalah diriku sebagaimana adanya, aku tau kamu juga jelek dan suka
ngompol, tapi nggak apa-apa, aku terima dirimu apa adanya"

kalau kita sudah "unjuk gigi", lihat reaksinya, apa yang terjadi......
(Ini kalau kita masih pacaran, kalau udah nikah nggak perlu di unjukin, giginya udah
kelihatan :-),)
jika dia berpaling......ya sudah......cari lagi.... buat apa kita mempertahankan 
seseorang
yang nggak bisa menrima diri kita.  makanya menurut gua, semuanya berawal dari masa
pacaran.

> Bukannya karena ada yang lebih baik kita harus melupakan komitmen
> kita. Justru komitmen itu ada karena kita harus bisa menjaga sesuatu yang
> kita miliki dengan pemahaman adanya konsekwensi ini dan itu, termasuk
> perubahan yang tidak diharapkan.

Seandainya kita telah punya komitmen (dan kita sadar dengan komitmen kita) untuk saling
menerima dan saling mengerti satu sama lain, gua rasa nggak ada masalah. Mau jadi apa
keq...pokokke
I LOVE YOU


> Justru dengan komitmen juga, kita akan
> bisa tetap menjaga agar perubahan yang bisa ditolak, bisa kita tolak.
>

Mengapa kita harus menolak suatu perubahan ??, bukankah segala sesuatu itu berubah ?
termasuk diri kita ?, bukankah apapun yang kita lakukan perubahan itu tetap terjadi. ?

Sekarang pertanyaannya :
Maukah kita belajar untuk bisa menerima diri kita dan orang lain sebagaimana adanya ???

salah satu sudut pandang..
salam
iwan

> hanya sekedar pemikiran
> Dony SYahrastany
>
> - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
> -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
> To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
> Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke