BPM FMIPA yth, 28 Des 98
Trims untuk kiriman catatan forum dialog 4 Des 98. Maaf, baru sekarang saya
dapat memberi tanggapan, setelah saya menyelesaikan beberapa hal lain,
antara lain mencatat Indeks Prestasi mahasiswa FMIPA seusai tahun akademik
97/98, yang menurut saya relevan.
Tanggapan saya diselipkan setelah alinea/pasal terkait, agar lebih jelas.
Tujuan penanggapan ini adalah untuk dijadikan bahan pemikiran, dan semoga
juga menjadi (sebagian), bahan untuk forum dialog berikutnya. Dengan
demikian suasana dialog ('saling mengungkapkan pendapat') makin hidup dan
melatih diri kita untuk masa depan.
Tulisan ini saya tembuskan ke warga FMIPA dan pengurus terkait, dalam
rangka keterbukaan. Keterbukaan merupakan alat kontrol-diri yang amat baik,
termasuk bagi diri saya sendiri. Kekeliruan-pendapat atau ucap saya dengan
ini lebih mudah dikomentari.
Sebagai informasi, distribusi IP(total) mahasiswa FMIPA adalah sbb :
PR.ST. RENTANG I.P. ANGKTN 93 94 95 96 97 TOTAL %
--------------------------------------------------------------------------
MA 3,00 - 4,00 0 0 1 4 4 9 10
2,00 - 3,00 12 9 11 8 7 47 60
1,00 - 2,00 5 5 4 9 3 26 30
FI 3,00 - 4,00 0 0 1 1 1 3 20
2,00 - 3,00 5 1 1 0 4 11 50
1,00 - 2,00 0 2 0 1 3 6 30
IK 3,00 - 4,00 4 9 13 20
2,00 - 3,00 12 19 31 40
1,00 - 2,00 19 10 29 40
--------------------------------------------------------------------------
Ada 4 orang IK'97 ber-IP < 1,00. Tampaknya mereka perlu segera memilih arah
hidup secara lebih baik. Pindah saja?
Apa yang dapat disimpulkan dari data ini?
Menurut saya, tampak bahwa :
= di setiap angkatan terdapat beberapa mahasiswa pandai, dan jumlahnya
berangsur bertambah. Hal ini menggembirakan, karena mereka ini yang akan
terutama merintis nama baik FMIPA (termasuk lulusannya) di lapangan kerja
kelak.
= sebagai kelompok, mutu mahasiswa FMIPA makin baik. Hal ini pertanda baik
pula bagi FMIPA (tentu kita masih harus melihat, bagaimana distribusi IP
angkatan 98, sebagai hasil semester ganjil 98/99).
= selain itu saya juga melihat bahwa sebagian penggerak Semai'98 ber-IP di
bawah 2,00. Hal ini mengingatkan pada saya, agar selanjutnya lebih cepat
memantau distribusi IP ini; karena menurut saya, penggerak kegiatan
mahasiswa sebaiknya HANYA mahasiswa ber-IP > 2,00, malahan jauh lebih baik
jika IPnya > 2,50. Mengapa? Karena mereka yang ber-IP rendah masih mendua
arahnya, sehingga jangan berperan besar di FMIPA. Mereka harus sibuk
memikirkan apakah akan pindah jalur karena tidak cocok bakatnya di FMIPA,
atau mati-matian memusatkan perhatiannya pada studi, dan jangan bergiat
dulu dalam kemahasiswaan (karena tujuan utama berada di program studi FMIPA
ini adalah untuk meraih kesarjanaan, bukannya untuk menjadi tokoh gerakan
kemahasiswaan, misalnya).
Karena itu pula di FMIPA sejak beberapa tahun sudah disyaratkan bahwa calon
pengurus lembaga kemahasiswaan perlu ber-IP > 2,10; baik agar mereka jangan
terpuruk studinya karena bagaimana pun terpakai sebagian waktunya untuk
menjadi pengurus, maupun agar visi mereka tentang tujuan kegiatan
kemahasiswaan (yaitu sebagai ajang latihan, dengan prioritas di BAWAH
prioritas studi) agak jelas.
Apalagi di FMIPA, yang menggeluti ilmu dasar, sehingga visi, strategi,
konsepsi, dan sejenisnya biasa lebih disadari.
Hendaknya mahasiswa angkatan 1998 yang sempat membaca ini, juga sadar akan
cara pandang ini.
Salam, A Rusli
At 02:16 PM 12/7/98 +0700, you wrote:
>Kami informasikan hasil Kegiatan Forum Dialog yang dihadiri oleh Bapak
>Rusli, Bapak Anung, Bapak Ferry dan lebih dari 38 Mahasiswa FMIPA,
>Jumat, 4 Desember 1998 :
>1. Mengenai Semai'98
> * Panitia Semai'98 menyesalkan adanya Email Pak Rusli yang kemudian
>tersebar ke hampir sebagian besar MIPA'98. Email tersebut berisi
>pernyataan yang membingungkan mereka (MIPA'98) dan meragukan kemampuan
>Panitia Semai'98.
Bingung berarti ragu tentang arah jalan yang benar. Justru di jaman
reformasi ini terbuka pintu lebar-lebar untuk berlatih menghadapi dan
memilih jalan yang benar. Jangan kita malah mencoba meneruskan pola Orde
Baru 'ikut saja kehendak pimpinan' dengan menawarkan hanya satu pilihan
('mewajibkan' termasuk pola keliru ini).
Mari kita belajar menghargai perbedaan pendapat, dengan rajin mendengarkan
pendapat yang berbeda, mencari tanggapan yang setepat mungkin, dan memilih
panutan (sementara saja) secara bebas. Asal mau belajar terus, lambat laun
kita akan makin mampu memilih tanpa kebingungan dan tanpa panutan manusia.
Sayang kalau ada anggota Panitia Semai'98 yang menyesalkan penimbulan
'kebingungan', karena mereka pasti tidak akan cocok dengan derap langkah
Komite Mahasiswa Unpar yang anti-pengarahan dan pro-kemerdekaan.
> * Pak Rusli meragukan kemampuan Panitia Semai'98 karena dari
>keseluruhan Panitia hanya sedikit yang terlihat siap dan mengetahui
>kegiatan, serta persiapan Panitia juga masih menimbulkan tanda tanya.
>Sementara itu dari pihak Dosen juga masih banyak yang mempertanyakan acara
>tersebut.
> * Panitia Semai'98 menjelaskan bahwa Panitia Semai'98 bukannya tidak
>siap dan tidak mengetahui persis acara Semai'98 melainkan mempercayakan
>Saudara Mada dan Saudara Tio sebagai Juru Bicara.
Saya melihatnya dari gelagat sejak awal acara Ospek-Fakultas Agustus 98
yang terlambat mulai (ternyata karena ada pemeriksaan tugas-tugas); lalu
dari berbagai reaksi, termasuk yang saya amati di kelas Fisika Dasar yang
saya pegang, yang jelas mayoritasnya tidak suka diwajibkannya tugas
kemahasiswaan, karena penyesuaian diri pada cara belajar di universitas
sudah dirasakan cukup berat. Bahwa hal ini terlupakan, atau tak terasa,
atau terdeteksi, oleh pengurus Ospek dst, menunjukkan juga (ada gelagat
lain yang menguatkan kesan saya) pada saya ketidaksiapan mental maupun
manajerial mereka (bertentangan dengan itikadnya, yang memang saya yakini
AMATlah baik; tetapi itikad dan praktek TIDAK identik).
> * Usulan dari Saudara Mada :
> untuk acara Kepanitiaan yang akan datang diharapkan Pihak Fakultas
>untuk memberi kepercayaan penuh pada Pihak Senat (Mungkin maksudnya bukan
>hanya pada Pihak Senat, tapi pihak lembaga yang melaksanakannya -penulis)
Permintaan jenis ini sering kita dengar pra dan pasca Mei 98 : 'berilah
kepercayaan penuh kepada Pemerintah yang beritikad baik, mahasiswa jangan
banyak menuntut'. Mengherankan bahwa aktivis (?) Komite Mahasiswa Unpar
sampai hati mengucapkan ini. Justru pada jaman reformasi ini kita perlu
SEGERA menumbuhkan sarana kontrol, bukan yang represif ('mewajibkan'),
melainkan yang 'kena' pada hati nurani rakyat lemah (dalam kasus kita,
mahasiswa baru merupakan rakyat lemah ini; bukanlah mahasiswa senior).
Sarana kontrol ini dapat tumbuh dengan membuka pintu pada perbedaan
pendapat, dan kerelaan menjelaskan setiap langkah kita (alasan dan
prakteknya), kalau diminta. Bukannya 'serahkan pada kami, dan jangan bicara
hal yang kontra terhadap langkah kami'; melainkan 'kita jelaskan, jelaskan,
jelaskan, dan berusaha meyakinkan pihak lain tanpa membangkitkan emosi
negatif'.
Saya sebagai pimpinan FMIPA menyalahi wewenang dan tanggung jawab yang
dipercayakan kepada saya oleh Pusat Universitas, kalau saya diam saja
dengan berlindung di balik alasan 'saya sudah mempercayakan ini sepenuhnya
kepada kaum muda FMIPA'. Kalau saya melihat sesuatu yang tidak saya pahami,
saya merasa wajib bertanya, dan kalau jawabnya tidak cukup jelas, saya akan
mengambil kesimpulan dan tindakan yang saya pandang sesuai, dengan
mendengarkan saran berbagai pihak (dosen, staf lain, mahasiswa, pimpinan).
Saya kira itulah yang disebut agak konsisten, juga dalam ilmu dasar yang
dipelihara di FMIPA ini.
> * Beberapa MIPA'98 yang ikut Semai'98 mengatakan bahwa mereka
>merasa enjoy dan justru menikmatinya serta merasakan kekompakan
>di antara mereka ('98).
>Ternyata MIPA'98 yang tidak mengikuti Kegiatan Semai'98 mempunyai beberapa
>alasan, yaitu :
>- adanya perasaan takut
>- waktunya sehabis UTS
>- yang wanita tidak diberikan ijin oleh orangtua
>- adanya rasa tidak percaya karena petisi yang mereka berikan tidak
>diterima
Sejak saya mendengar bahwa peserta Semai'98 sekitar belasan orang (dan yang
tidak ikut 9 kali lebih banyak), saya sudah cukup yakin bahwa acaranya akan
berlangsung baik. Saya ikut datang pada awal acara, untuk 'mencium'
suasana, sebagai ujicoba final. Inilah perbedaan pengelolaan manusia
dibandingkan dengan pengelolaan matematika/fisika/ilmu komputer : dalam
ilmu eksakta, memang sering ekstrapolasi boleh dilakukan ('karena berlaku
untuk rentang data terbatas, semoga dapat dianggap juga berlaku di luar
rentang data yang ada'). Menyebutkan alasan ini merupakan petunjuk 'a
posteriori' bahwa ada kekurangpengalamanan (jadi kalau diekstrapolasi :
kekurangsiapan) pada yang mengucapkan ini.
Saya senang bahwa pada acara Kompetisi MA & FI serta Seminar Ilmu Komputer,
tidak begitu tampak diskriminasi antara yang ikut dan tidak ikut Semai (hal
ini menunjukkan kebijaksanaan baik pada berbagai pihak).
Hal alasan terakhir di atas (tentang petisi), saran saya : untuk
penyambutan-gembira terhadap angkatan 1999 nanti, jangan kita
terjerumus-ulang dalam sikap yang menimbulkan rasa tidak percaya ini.
"Pelanggan adalah raja' merupakan peribahasa yang perlu disimak setiap
panitia di jaman reformasi ini. Jangan menolak, jika tidak perlu. Mari kita
sambut mahasiswa '99 seperti menyambut siswa SMU pada Kompetisi ybl, agar
keberadaan FMIPA menjadi makin menarik karena keakraban, keramahan, dan
keterbukaannya kepada kaum muda.
>2. Gathering Nite
> Acara ini dipersembahkan oleh MIPA'98 sebagai wujud permintaan
>maaf pada Angkatan Atas atas hubungan yang kurang harmonis dalam setiap
>hal kegiatan yang selama ini sudah diselenggarakan oleh Angkatan Atas.
>Mereka menginginkan dengan adanya acara ini bisa mengakrabkan MIPA'98
>dengan Mahasiswa MIPA yang lain. Selain itu ada juga harapan agar
>masyarakat lebih mengetahui keberadaan FMIPA di Unpar ini dan membagi
>perasaan kasih sayang sesama.
>Sementara itu dari Pihak Senat ada beberapa hal yang selama ini ingin
>disampaikan :
>- ingin supaya tidak adapertentangan
>- jika diberi kepercayaan hendaklah kepercayaan itu dijalankan dengan
> jujur dan murni
>- ingin ada kejujuran dan transparansi
>
>MIPA'98 menginginkan agar Kepanitiaan Gathering Nite tidak berdasarkan
>yang ikut MABIM atau Semai'98 melainkan berdasarkan potensi yang dimiliki.
>Hal ini tidak didialogkan lebih lanjut di dalam Forum Dialog karena waktu
>yang terbatas dan juga sebenarnya di akhir Kegiatan Forum Dialog memang
>akan diadakan Rapat Khusus Membahas Gathering Nite.
>
>Pak Rusli memberikan tanggapan mengenai hal tersebut :
>Kegiatan ini sangat sehat dan dapat melatih bermasyarakat. Bagus untuk
>belajar mengelola Pihak Swasta, berunding dengan semua pihak untuk
>bersama- sama menyukseskan acara. Pak Rusli mendapat kesan bahwa Panitia
>memang sudah merasa timnya cukup baik sehingga tinggal bagaimana cara
>meyakinkan Lembaga akan hal itu.
> Di akhir- akhir acara ada juga Mahasiswa yang menanyakan tentang
>susunan Kepanitiaan yang segera dijawab dengan tangkas oleh Saudara Bebep
>yang kebetulan dia juga menjabat sebagai Divisi Kemahasiswaan di dalam
>Senat.
Menurut saya, tidak tepat mengulang lagi istilah 'mempersembahkan' kalau
itu adalah dari yang muda kepada yang lebih senior. Ini terlalu bernada
Orde Baru. Lebih sesuai dengan ungkapan 'preferential option for the poor'
yang seharusnya menjadi Misi Unpar, kalau yang senior mempersembahkan acara
dan bantuan moral-material kepada para yunior.
Angkatan '98 ternyata mampu membangkitkan, dan memupuk inisiatif, membuat
rencana "Kumpul-kumpul" (apa memang sudah waktunya berbahasa Inggris?);
maka sebagai 'orangtua' atau senior (pejabat 'pemerintahan' di FMIPA) kita
patut bersyukur atas inisiatif 'swasta' ini, dan lalu memberi dukungan
moral-material semaksimal mungkin (bukannya menciptakan birokrasi yang
menghambat). Artinya :
Kepercayaan diberikan (kepercayaan hanya dapat diberikan, tidak dapat
diminta, bukan?), sambil tidak segan bertanya kalau ada yang tidak
dipahami. Bertanya tentunya bukan seperti petugas yang curiga, melainkan
sebagai sahabat yang lalu memberi saran konkret konstruktif. Manajer yang
pandai akan senang kalau sudah ada pihak lain melaksanakan programnya
(Senat Mahasiswa FMIPA rasanya punya program mengenalkan keberadaan FMIPA
dan membagi kasih sayang). Jadi Senat dapat memberi dukungan antusias ada
inisiatif terakhir ini, apalagi sambil tetap memperhatikan bahwa
tanggungjawabnya sebagai Senat Mahasiswa FMIPA jangan terpojokkan oleh
akibat yang tidak diinginkan (misalnya defisit dana, pertanggungjawaban
kegiatan yang kurang jelas).
Bagus bahwa angkatan'98 tidak ingin membedakan berdasarkan ikut-tidaknya
pada Mabim dsb. Sikap non-diskriminatif ini perlu kita puji; mari kita
mendukung implementasinya. Marilah kita bersama-sama menumbuhkan terus
sikap-sikap yang sesuai dengan Hak Azasi Manusia di FMIPA ini. Peserta
kuliah Filsafat Pancasila dan Etika Profesi memiliki rumusan Hak Azasi dan
Tanggung Jawab Manusia, untuk dimanfaatkan.
>3. Akademik
> Menyesal juga Isi Dialog ini tidak dilakukan. Ternyata Ibu Monika tidak
>datang (mungkin berhalangan) sehingga kurang afdol jika kita menyampaikan
>uneg- uneg pada Pihak yang justru tidak ada. Lain kali akan kita adakan
>lagi mengenai hal ini.
Ibu Monika adalah Pembantu Dekan, yang sedang cuti, dan tugasnya ditangani
pak Ferry yang hadir. Selain itu, Dekan yang dibantu mereka nyata hadir,
jadi tidak tepat berpendapat bahwa 'Pihak ... justru tidak ada'.
Menurut saya, uneg-uneg perlu segera saja disampaikan, tidak usah menunggu
forum. Gunakanlah kesempatan jumpa di mana saja, atau memo yang dititipkan
ke kotak surat terkait di TU, atau e-mail yang ditujukan ke mailing list
fmipa-p untuk pimpinan, atau fmipa-d untuk staf dosen tetap.
>Demikian isi keseluruhan Acara Forum Dialog.
>Kami dengan senang hati menerima saran membangun yang dapat Kami jadikan
>masukan.
Saya mengusulkan agar dijadwalkan setiap bulan (mulai Februari 99), 60 - 90
menit, pada hari/jam yang berbeda-beda, forum dialog ini. Ini menurut saya
cara yang modern di masa berpilihan-acara banyak ini; seseorang akan lebih
mudah sempat hadir di salah satu jadwal itu.
>salam,
>BPM FMIPA- Unpar.
Terima kasih atas penggunaan sarana elektronik ini, untuk berkomunikasi,
sekaligus belajar mengungkapkan pendapat secara runut dan sejelas mungkin.
Salam, A Rusli 28 Des 98