Trims atas komentar. Saya umumnya setuju dengan pandangan Anda. Semoga pandangan-pandangan ini dapat menjadi masukan bagi lingkungan kita. Salam, A Rusli 2 Apr 99 At 08:52 AM 4/1/99 +0700, you wrote: >Date: Wednesday, March 31, 1999 9:47 AM >Subject: [dosen] Ceramah prof Samaun Samadikun > > >>Rekan yth, 29 Mar 99 >> >>Mendengar diskusi di Ruang 1201 FI pk 11 - 12 tadi pagi, dengan prof Samaun >>Samadikun, EL ITB yang pernah Ketua LIPI dan kini anggota Dewan Riset >>Nasional komisi Industrialisasi, ingin saya komentarkan : >> >>1) Boleh juga gagasan yang berkembang di EL, agar ITB mendefinisikan >>dirinya bukan lembaga pendidikan SAJA, melainkan lebih suatu lembaga ilmu >>dan teknologi, yang juga melaksanakan kegiatan pendidikan, penelitian, >>pengabdian. >>Di samping merupakan langkah cerdik (maunya) untuk dapat mengakses dana >>MenRisTek yang selama ini hanya dipakai LIPI dan BPPT (100 milyar rp pada >>98/99, sama dengan seluruh dana yang diperoleh ITB dari Pemerintah), ini >>kiranya juga menekankan bahwa kita mau berorientasi pada ilmu, dan bukannya >>pada sibuk mengajari mahasiswa secara rutin. > >Saya fikir tema Tri Dharma Perguruan Tinggi masih tetap relevan. Porsi >Penelitian >dapat saja diperbesar dengan suatu track record yang sangat baik. Misalnya >apakah >kualitas (dan bukan hanya kuantitas) penelitian di ITB sudah dapat >dibanggakan ? >Setahu saya sih dari porsi RUT I s/d VII ini dosen ITB yang terlibat >berkisar 30% (?) >dan jumlah ini memang suatu jumlah yang sangat besar dibandingkan dengan >porsi LIPI >dan lembaga lainnya. Saya hanya khawatir masalah kualitas penelitian ITB. >> >>2) Artinya, menurut saya, adalah bahwa dalam segi pendidikan, mahasiswa >>lebih dapat diajak untuk menjadi orang berpikir, mencari solusi, mencari >>ilmu, dan bukannya sekedar terbosan-bosan mendengarkan dosen dan membaca >>diktat. >>Kalau ini diyakini para dosen, maka mahasiswa kiranya dapat dirangsang >>untuk menjadi aktif dalam meraih ilmu, bersama dengan dosennya, menangani >>tantangan-tantangan ilmu, sambil juga belajar sejumlah basis ilmiah pada >>masing-masing kuliah. > >Untuk kuliah dasar saya fikir metode konvensional masih dapat diteruskan >dengan adanya >upaya peningkatan kualitas. Untuk kuliah tingkat lanjut, dan apalagi >Pascasarjana (S2) metode >pengajaran perlu direformasi dengan berbagai terobosan sehingga dosen dan >mahasiswa >secara bersama-sama mendapat manfaat yang optimal dari perkuliahan tersebut. > >> >>3) Satu konsekuensi yang saya simpulkan, adalah bahwa kuliah terutama >>berisi presentasi kerangka-kerangka ilmu, disusul diskusi eksploratif >>bersama mahasiswa. >>Ujian cukup sederhana-sederhana saja, kalau dosennya dapat mengenali >>kerajinan setiap mahasiswanya, sehingga pemerisksaan ujian juga lebih >>mudah, dan penilaian personal (BUKAN KKN!) lebih berperan, dalam memberi >>nilai selaras dengan prestasi meraih ilmu dan upaya si mahasiswa. > >Saya setuju dengan catatan jumlah peserta kuliah harus dibatasi sekitar 20 >orang. >> >>4) Maka keluhan yang saya baca di mailing list himafi bahwa 'kuliah membuat >>mengantuk dan tidak menarik' dapat menjadi 'kuliah yang sulit tetapi >>menunjukkan situasi di agak garis depan' dengan 'harus belajar sendiri, dan >>giat bertanya'. > >Kesan seperti itu timbul dari kesalahan kedua belah pihak, ya dosennya >demikian juga >mahasiswanya. Lihat komentar saya sebelum paragraf ini. > >> >>5) Saya kira, ini memang idealis, dan sulit terlaksana, tetapi saya kira, >>kalau dosennya mau, kita dapat berbuat cukup banyak di kelas kita >>masing-masing. > >Dosen memang dapat mengambil inisiatif awal tetapi keberhasilan kuliah dan >Tugas Akhir harus merupakan kerjasama yang baik antara Dosen dan >mahasiswanya. >Hanya saja karena dosen telah pernah menjadi mahasiswa, maka kewajibannya >menjadi lebih besar. > >> >>6) Di samping itu, budaya 'nrimo' mahasiswa, sungkannya bertanya, takutnya >>dipandang 'tidak sopan', dapat terus dikikis. >>Juga penghargaan akan perbedaan pendapat, perelaan ketidakseragaman, sikap >>melayani yang muda (oleh dosen, oleh mahasiswa lama terhadap mahasiswa >>baru) dapat mulai dipupuk. > >Mungkin saya keberatan jika nrimo sudah merupakan budaya mahasiswa. Ada >baiknya >dosen memberikan encouragement kepada mahasiswa untuk sering bertanya dan >memberikan penghargaan pada usaha tersebut. > >> >>7) Yang tadi pagi ingin saya tanyakan pendapatnya, tapi tidak sempat diberi >>waktu, adalah : Menurut saya, dalam budaya 'menghafal' dan 'tak biasa >>berpikir kritis konstruktif - memecahkan masalah' masa kini, terobosan yang >>dapat diambil adalah 'mengajarkan hanya beberapa konsep dasar, lalu >>mengajak mahasiswa mencernakannya, dengan tugas membaca buku, membuat >>makalah sehalaman beberapa kali, dsb. >>Ilmu formal akan sedikit saja diperoleh, tetapi kemampuan berpikir kritis - >>memecahkan masalah' akan membuat mahasiswa lebih berani membaca sendiri >buku >>teks selanjutnya, belajar sendiri, makin merdeka dari dosennya. > >Saya setuju saja, karena menurut pengamatan saya pelaksanaan sistem SKS >masih belum >optimal digunakan, baik oleh dosen maupun oleh mahasiswanya >> >>8) Satu ucapan prof Samaun yang menarik hati adalah 'kami di Elektro saat >>ini cuma mendidik teknisi, sedangkan kalian di FI sedang mendidik >>engineer', dan 'mestinya kami kelak kembali mendidik engineer, dan kalian >>di FI mendidik applied scientists'. >>Saya artikan bahwa dengan belajar ilmu dasar, mahasiswa FMIPA akan lebih >>mampu menghadapi variabilitas tempat kerja kelak, dibandingkan dengan >>mahasisa teknik yang lebih dilatih keterampilan teknis 'saja'. > >Sebenarnya good engineer yang dikemukakan Pak Samaun saya duga lebih >dikaitkan pada >kualitas engineer di Luar negeri yang memiliki good Basic Sciences, >sedangkan kurikulum >di Teknik Elektro ITB porsi Fisika hanya sebatas Fisika Dasar saja. >Gelombang em diajarkan >oleh para dosen di Elektro, Fisika Modern hanya pilihan (yang akhirnya tidak >dipilih). Tetapi >yang penting bagi kita bahwa pengakuan Fisika menghasilkan Good Engineer >hanya merupakan >hasil samping dari Tujuan Kurikulum Fisika. Hasil lebih luas menurut saya >lebih pada pemberian >dasar Fisika dan Sains yang memadai serta beberapa sisi praktis kemampuan >Instrumentasi, >Komputasi, Interpretasi Data (Fisika Bumi) dan keterlibatan dalam Fisika >Material. > >>9) Ucapan di atas memang dapat diencerkan sebagai 'suatu pujian kecil dan >>sedikit basa basi', dan ditimpali bahwa 'tapi teknisi Elektro, karena >>manusianya cerdas-cerdas, menjadi teknisi yang cukup mampu menghadapi >>variabilitas juga', sedangkan 'mahasiswa FMIPA, karena mayoritasnya sekedar >>asal sekolah, sering rendah motivasinya, sehingga daya belajarnya, lalu >>daya saingnya juga cenderung lebih rendah'. >>Akan tetapi, kalau kita dapat menyadarkan mahasiswa kita bahwa kemampuan >>belajar yang kuat akan membuka banyak jalan di masa depan, dan membuat >>mereka terbiasa bekerja keras (dan bukannya terutama idealis tanpa kekuatan >>kuantitatif), maka kurang pintarnya dapat cukup diimbangi dengan kuatnya >>konsep dan kemampuan memecahkan masalahnya. > >Sebenarnya prestasi lulusan Teknik Elektro untuk berkiprah di bidangnya >secara >Internasional memerlukan pendalaman Fisika sampai Fisika Kuantum secara >minimal. >Kecerdasan mahasiswa Elektro bukan merupakan kontribusi para dosen Elektro >ITB, >tetapi lebih pada image di Masyarakat kita yang masih mengagungkan pamor >lulusan teknik Elektro dibanding lulusan Fisika. Mereka di Teknik Elektro >menghadapi >problem serius juga, karena banyak lulusannya yang tidak dapat melanjutkan >ke jenjang S3 >bidang Elektro di USA, karena tidak bisa mengejar ketertinggalannya dalam >Mekanika Kuantum. > >> >>Semoga ada komentar terhadap ini. > >Terima kasih atas posting pandangan mata pak Rusli. > >> >>Salam, A Rusli > >Wassalam, >Sukirno
