Dalam era reformasi, yang mau membela hak azasi manusia dan membebaskan
masyarakat dari penindasan, cocoklah untuk mengatakan bahwa 'pembeli
dikembalikan ke posisi menjadi 'raja''; dan penjual tidak dapat pasang
harga 'fixed' yang ditentukan sepihak.
Di masa mendatang, penyediaan jasa akan makin diperlukan, dan hal itu
disajikan dengan teknik beriklan secara menarik (dan etika menuntut, secara
jujur tanpa menipu), bukannya dengan berusaha memonopoli atau memaksa
apalagi menodong. Jangan meniru contoh jelek sekelompok kecil orang di
Jakarta.
Saya mendengar bahwa ada yang merencanakan tugas untuk mahasiswa baru
'membawa air 799 cm3', 'membawa nasi goreng versi FMIPA', 'membawa topi
berbentuk setengah bola', dll.
Menurut saya tugas semacm ini tidak pantas diajukan oleh mahasiswa FMIPA,
karena tidak efisien, kecil sekali gunanya, membebani mahasiswa baru
(jadi bukan teladan baik di masa prihatin ini), praktis tidak relevan
dengan studi, dan terutama : melanggar prinsip kemitraan dan kesejajaran
mahasiswa lama dan baru.
Saya persilakan mahasiswa lama FMIPA untuk belajar terus merencanakan acara
yang makin bagus (dibandingkan dengan yang sudah bagus tanggal 22 Agu yl),
jangan malah merosot mengarah ke arah yang menurunkan citra kita sebagai
orang MIPA.
Salam, A Rusli 26 Agu 99
At 09:49 PM 8/24/99 +0700, you wrote:
>
>Yang lebih tepat diartikan barang dagangan adalah acara OSPEK,
>bukan kemahasiswaan. "Harga" dari kemahasiswaan/kelembagaan
>sudah dibayar melalui DKM, yang menjadi sumber keuangan himpunan.
>
>Lagipula, tampaknya anda melupakan salah satu prinsip dari proses jual-beli,
>yaitu penjual tidak memiliki hak sama sekali untuk memaksa pembeli membeli
>barangnya dan pembeli memiliki hak sepenuhnya untuk tidak membeli
>barang dagangan si pembeli.
>
>Ilustrasinya saya perbaiki sedikit :
>
>Penjual menyediakan barang dagangan, pembeli yang mau membeli barang
>dagangan tersebut harus membayar harga tertentu, dan kemudian dapat
>memperoleh manfaat dari barang tersebut.
>
>analogi dengan OSPEK :
>
>Mhs lama mengadakan acara OSPEK, mhs baru yang mau mengikuti acara
>OSPEK tersebut harus mengorbankan sesuatu ( siap dapat tugas banyak,
>siap di-bentak2, siap digojlok fisik, siap di-press mental dll ), dan
kemudian
>dapat memperoleh manfaat dari acara OSPEK tersebut ( tidak kaget
>menghadapi perkuliahan yang berat, secara mental lebih kuat, secara fisik
lebih
>kuat, menjadi orang tahu diri, hormat pada senior, adapatasi dengan
lingkungan
>baru lebih cepat, dan tentu lebih banyak lagi versi panitia OSPEK )
>
>Lionov
>
>
>----- Original Message -----
>From: BPM Fakultas MIPA <[EMAIL PROTECTED]>
>
>> Sdr. Lionov,
>>
>> Menurut hemat saya, Ospek merupakan suatu acara yang wajib diikuti oleh
>> angkatan baru, sebagai salah satu syarat bagi seorang mahasiswa untuk
>> berkiprah di lingkungan kampus khususnya bidang kelembagaan.
>> Lebih tepat jika saya ilustrasikan mhs baru sebagai pembeli yang akan
>> memperoleh suatu barang(kemahasiswaan) dari si penjual (mhs lama) maka
>> sudah seharusnya mhs baru membayar harga(sudah fixed) yang dia akan
>> peroleh itu.
>> Demikian saja menurut saya,
>>
>>
>> dan't (Mat'96)
>>