At 04:52 PM 9/17/99 +0700, Yulianus Zega wrote:
>On Thu, 16 Sep 1999, A Rusli wrote
>Pertanyaan atas komentar Bapak,
>1. Apakah Batasan Untuk Perlakuan Yang Tidak Pantas  itu ?
>   Apakah Esensi masalah pantas tidaknya sesuatu pada caranya 
>   atau pada magna dari perlakuan tersebut ?
>   Contoh,
>   Dimiliter Para Prajurid Di Bentak Untuk Tujuan Kedisiplinan.
>   Caranya   : Dibentak.
>   Tujuan/Magna Perlakuan tersebut : Mendisiplinkan
>   Apakah disini ada pelanggaran hak azasi manusia  ?
>   Tidakkah kita berpikir betapa feminimnya para prajurit bila bentakan
>   diharamkan didunia ini karena itu perlakuan yang tidak pantas ? 
>
>   Saya berpendapat  bahwa adalah sangat tidak bijaksana untuk membatasi
>   bahwa segala  sesuatu yang mengandung unsur 'kekerasan/tegas/hukuman..'
>   adalah perlakuan yang tidak pantas.
>   Tetapi bergantung apakah tindakan  tersebut mengandung sesuatu tujuan
>   yang positip atau tidak.

Tanggapan : Contoh Anda diambil dari lingkungan militer. Yang masuk militer
adalah sejenis sukarelawan. Yang masuk ke universitas adalah orang yang mau
meraih kesarjanaan, bukannya minta latihan militer.
Jadi contoh Anda tidak dapat dipakai membenarkan pembentakan pada sesama
mahasiswa. Anda telah salah pilih contoh dengan begitu yakinnya. Ini kurang
baik bagi citra tentang Anda.

Memang segala sesuatu yang mengandung kekerasan adalah tidak pantas. Acuan
saya adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, tentunya. Di Pembukaan
UUD'45 saja sudah disebut 'Kemerdekaan adalah hak segala bangsa', tapi
sejumlah mahasiswa yang mestinya sudah sedikit dapat berpikir sehat, masih
saja mau membatasi kemerdekaan adiknya, dengan mencegah aliran informasi ke
mereka.

>2. Jikalau Ospek Hanya Sebatas Pemberian Informasi Tentang Pengenalan
>   Kampus, Kenapa Universitas Tidak Membakukan saja  semua informasi
>   tentang Seluk Beluk Kampus sehingga  setiap tahun Mahasiswa tidak perlu
>   Ospek dan mahasiswa senior tidak perlu capek-capek bentuk kepanitiaan.
>   
>   Ospek Menurut saya tidak sesederhana pendapat Bapak    :
>   Yang pertama Ospek adalah acara intern Mahasiswa_ dari mahasiswa untuk
>   Mahasiswa, jadi  acara ospek itu ditentukan oleh Mahasiswa itu sendiri
>   tanpa diintervensi oleh kepentingan apapun yang berasal dari luar,
>   yang penting itu positip. Karena  merekalah (mahasiswa)yang saling
>   berinteraksi  sehari-hari sehingga mengetahui dengan jelas apa yang
>   kurang/lebih diantara mereka dan perlu untuk dibenahi.
>
>   Contohnya jika  mahasiswa merasakan kurangnya  rasa  persatuan 
>   diantara mereka mungkin mereka akan menggadakan acara mempererat rasa
>   persatuan....ya tidak ada hubungannya memang dengan pengenalan kampus
>   tapi itulah kebutuhan utama mereka saat itu (masalah mempererat
>   persatuan ), ini hanya contoh.

Tanggapan : Jika budaya-membaca lulusan SMU sudah makin baik, memang dapat
cukup memberi kepada mereka buku berisi semua aturan dan informasi.
Akan tetapi misalnya di Twente University, untuk mhs Indonesia yang akan
masuk S2 di sana (tanya ibu Gregoria, FI'93 FMIPA yang lulusan sana) masih
juga disediai acara yang menjelaskan lika liku kampus dan sejumlah tata
cara; itu metode yang agak efisien, dan interaktif, dapat langsung bertanya
dan memperoleh jawab,kalau mau. Acaranya sukarela 100 %. Tiada paksaan
sedikit pun.

Memang sedang ada salah kaprah; sebenarnya mahasiswa lama tidak perlu
dilibatkan dalam Orientasi Studi (karena mereka belum cukup berpengalaman
tentang studi itu; baru beberapa tahun; lumayan kalau IPnya lumayan); hanya
karena keinginan mhs lama untuk ikut berkenalan dengan adiknya, dan karena
pengenalan kampus (fasilitasnya) memang sudah dapat dipandu mhs lama, maka
mhs lama dilibatkan. Sialnya, sebagian mhs lama ternyata kurang dewasa,
tergoda keinginan menonjolkan kelebihannya, dsb, sehingga keadaan jadi rumit.

Mhs lama boleh-boleh saja membuat acara penyambutan mhs baru, asalkan
menghormati hak azasi mereka (ini yang suka dilupakan mhs lama). Sayangnya,
mhs lama berlindung di balik nama Ospek, padahal sebenarnya acara mereka
bukannya orientasi studi atau pengenalan kampus yang benar (malah cenderung
meleset dari makna benarnya).

Konsep 'persatuan' rupanya terkotori paham 'Orde Baru' yang menggunakan
konsep itu untuk memberangus perbedaan pendapat. Persatuan sekelompok
manusia sebenarnya didasarkan atas kesukarelaan dan kesadaran bahwa
bersama-sama mereka dapat lebih kuat; tapi jangan dibalik (yaitu : 'harus
kuat', dengan mengorbankan kemerdekaan).

>3. Saya melihat banyak  banyak email yang masuk sana sini yang membahas        
>   tentang Ospek terutama masalah wajib(harus) atau sukarela.
>  
>   Bagi saya pribadi tidak mempermasalahkan apakah hal ini sebaiknya
>   Diwajibkan atau sukarela......
>
>   Hanya saja menurut saya,
>   MAHASISWA IKOMP 1999 ADALAH MAHASISWA YANG AKAN MENJADI CALON-CALON
>   PEMIMPIN MASA DEPAN BANGSA DAN NEGARA INI. MERAKA SUDAH CUKUP DEWASA
>   UNTUK MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG TERBAIK BAGI DIRINYA SENDIRI.
>   BIARKAN MEREKA MEMUTUSKAN SENDIRI APAKAH ACARA OSPEK ITU BERGUNA 
>   BAGI DIRINYA UNTUK TERLIBAT ATAU TIDAK  !!!!
>
>   Adalah baik bila kita tidak mempengaruhi keputusan mereka, manis
>   tidaknya ospek tahun ini yang jelas dia telah belajar satu hal yaitu
>   mengambil keputusan sesuai dengan hati nuraninya.

Tanggapan : Mengapa begitu takut akan pendapat berbeda? Mengapa meminta
pandangan berbeda agar tutup mulut? Mengapa hanya berani mengatakan
'percayalah, kami bermaksud baik' sambil meminta penyerahan diri sebagai
gantinya? Itu cara 'Orde Baru' dan sikap 'monopoli' yang begitu merajalela
di masa lalu.
Kemerdekaan yang diraih bangsa ini perlu dibela, terutama bagi pihak yang
relatif lebih lemah.
Mahasiswa baru berada di posisi lebih lemah daripada mhs lama (karena masih
banyak terkuasai budaya 'tidak boleh membantah', tidak berani menuntut hak
azasinya, belum tahu aturan seperti 'nilai kuliah dan praktikum tidak
dipengaruhi ikut-tidaknya pada kegiatan kemahasiswaan', dsb), maka amat
patut dibela.
Kalau saya sudah melihat bahwa mhs baru sudah cukup sadar-hak dan keadaan,
dana berani mempoertahankannya, dan sikap mhs lama sudah memperlakukan mhs
baru secara setara (seperti kalau mhs mengadakan seminar atau kompetisi dan
menawarkan kepada calon pesertanya untuk membeli tiketnya), tentu saya
tidak akan begitu lantang mengingatkan mhs baru akan hak azasinya.
Yang saya lihat, adalah bahwa beberapa mhs lama masih dikuasai konsep
'penindasan adalah pantas asal dilakukan orang yang meyakini dirinya
beritikad baik'. Konsep itu datang dari jaman lalu yang suram, dari
penguasa, dan menguntungkan orang yang berkuasa saja.

>4. Walaupun terlambat  (baru buka mail box) 
>   Buat adik-adik ikomp 199  saya ucapkan selamat datang
>   Diikomp Unpar, Jadilah dirimu sendiri ....
>   
>   Untuk para cowok, kita biasa main bola lawan Fak/Jur  lain,
>   cari info  kapan main lagi soalnya kita kurang tenaga...nih.
>      .....
>      Bila Latihan ini tidak membuat kamu menyerah
>      Maka kamu sudah bertambah kuat
>        
>               Survival Instructur_ Mahitala Unpar 1996            
>      Hormat Saya,
>     Julianus Zega
>      Ya'ahowu  !     
>  
>-----------------------------------
>  
>
>> Mestinya dalam acara Ospek murni (yang mengandung 0 % perlakuan tidak
>> pantas, dan hanya berisi pemberian informasi akademis dan cara belajar di
>> universitas, serta pengenalan kampus seperti lokasi fasilitasnya) hal
>> seperti ini ditegaskan; saya lupa, maaf. Semoga dengan ini hal ini agak
>> teperbaiki.
>> 
>> Realita pelaksanaan 'Ospek', yang disertai sikap beringas, pemberian tugas,
>> perlakuan 'demi ketahanan mental' dsb merupakan pelanggaran etika warga
>> akademik, dan contoh keliru tentang apa kehidupan kampus ini. Pembasmian
>> kekeliruan ini amat sulit tapi harus terus diupayakan.
>> Sulitnya pembasmian ini menurut saya timbul karena orang-orang kita ini
>> terlalu ingin menikmati kesempatan 'berkuasa tanpa batas' secara instant
>> tanpa perlu berprestasi terlebih dahulu. Teladan negatif petinggi dan
>> penguasa bangsa ini ikut mempersulit upaya ini, karena sebagian dari kita
>> masih suka meniru.
>> 
>> Salam,               A Rusli 16 Sep 99
>> 
>> At 11:27 AM 9/14/99 +0700, you wrote:
>> >Begini, Pak saya ada pertanyaan       "") dengan alasan belum mengikuti
>> >ospek dan agar dapat      skripsi dan sidang harus ospek dulu dengan
>> >angkatan bawah?        gara-=gara tidak ikut ospek tidak boleh skripsi? 
>> >Bagaimana menurut pandangan Bapak ?     I look forward for an early reply.
>> >Hormat saya, R
>> 
>
>

Kirim email ke