On Fri, 24 Sep 1999, A Rusli wrote:

> Pihak pimpinan Universitas mengingatkan saya bahwa pengiriman email yang
> tercantum dikirim ke pihak luar Unpar dapat berdampak :
>       1) Unpar mulai diragukan taraf akreditasinya
>       2) Akreditasi Matematika, Fisika, dan Ilmu Komputer dapat terhenti
>               prosesnya, karena Unpar dapat dinilai tidak terbuka dalam data.
> Hanya kalau keluhannya dibaca secara simpatik, dapat masih ditarik
> kesimpulan bahwa ini terutama soal mengelola ruang kuliah yang perlu
> diperbaiki, bukannya soal tiadanya ruang.
> 
> Saya lalu mendapat informasi dari TU FMIPA bahwa Jaw Thong sengaja
> mengeja-keliru alamat luar Unpar itu.
> Hal ini dapat diartikan menunjukkan itikad baiknya; akan tetapi sebaliknya
> juga menunjukkan pola-laku yang saat ini banyak dilakukan di lingkungan
> masyarakat umum (termasuk perilaku sebagian mahasiswa), yaitu : menggertak
> atau menakut-nakuti.
> Citra-diri kita akan surut akibatnya; citra warga FMIPA, di mata masyarakat
> umum saat ini pun, akan surut. Maka secara umum, email yang kiranya
> bermaksud baik, menjadi surut atau malah negatif dampaknya, malah email
> selanjutnya dapat tidak berdampak lagi, kecuali kalau dipakai merusak
> kepentingan lebih banyak warga FMIPA dan Unpar dengan menyentuh akreditasi
> lembaga.
> 
> Ini contoh betapa dalam suatu masyarakat yang ingin
> bermitra-sejajar-demokratis, setiap pihak perlu memakai otak-sejuk dan agak
> lebih banyak berpikir-keras tentang dampak suatu tindakan. Emosi dan sikap
> 'pokoknya saya beritikad baik' menjadi kurang cukup.
> 
> Soal ruang bagi FMIPA, sudah dibahas di tingkat pimpinan Unpar, dan sedang
> dirancang perubahan-perubahan yang saya nilai baik.

saya pikir wajar saja seorang mhs unpar (dari jurusan apa saja), pada awal
kuliah dijanjikan sesuatu, dan ternyata janji tsb. tidak dipenuhi sampai
pada saat akan lulus ( bahkan seharusnya sudah lulus ). Sebagai mhs
dengan segala kewajibannya dipenuhi, maka mhs tsb berhak menuntut apa 
yang dijanjikan. Terlebih pada awal kuliah mendapatkan perlakuan yang
tidak adil seperti pengusiran oleh mhs, pekarya dari fakultas setempat,
bahkan terjadi seorang dosen muda mipa terusir oleh seorang pekarya,
gara-gara kuliah sampai jam 18:00 lebih belum selesai. 
saya pun turut bersyukur, sdr. jaw thong salah mengetikkan alamat pihak
luar. 
Menurut saya inti permasalahannya pengelolaan ruangan belum optimal, atau
memang ruangan yang kurang diakibatkan pertumbuhan jumlah mahasiswa. Ini
yang harus diselesaikan pihak pimpinan beserta yayasan unpar.
sebagai contoh pembangunan gedung 8, apakah ada perencanaannya, kalau ada,
untuk berapa ribu jumlah mhs fti dan fmipa, termasuk ruang untuk
administrasi, dosen, lab., ekstra kurikuler mhs., dari jumlah tsb., apakah
penerimaan mhs baru juga memperhitungkan angka tsb? (jangan-jangan tanpa
memperhitungkan kapasitas yang telah direncanakan/terpasang).

Sandy

Kirim email ke