Salam Kasih,
Semoga mayapadaprana mendamaikan kita...
Saya sangat setuju kalau kita mengembalikan fungsi millis ini untuk tujuan
spiritualitas, spiritualitas itu menyatukan dan bila dalam millis ini kita
melihat perbedaan maka jelas bahwa kita belum bisa cukup spiritual atau ada
yang salah dalam spiritualitas kita.
Saya sedih membaca berbagai argumen tentang kedua guru besar kita, andai
beliau-beliau yang berpikiran dangkal ini bisa mendengar suara yesus dan
muhhamad yang masih berkumandang di udara sekitar kita bergema dalam "Mayapada
Prana" pasti beliau-beliau yang berpikiran dangkal ini akan malu sendiri,
mengamati millis ini membuat saya memahami betapa berat perjuangan Muhhamad dan
yesus saat memperkenalkan spiritual kepada para pengikutnya, ibarat menjelaskan
keberadaan matahari kepad orang buta. Manusia memang belum berubah dari zaman
yesus hingga muhhamad dan hingga kini masih sama. Andai muhhamad lahir di zaman
ini kita pasti akan menjadi musuh-musuh beliau, kita pasti akan terbantai habis
tanpa terkecuali...
"Yesus dan muhhamad ibarat pohon dan buah, konyol jika kita menerima buah
tapi menolak pohonnya atau menerima pohon tapi tidak menerima buahnya"
Demikian kami dibesarkan untuk menerima pohon seutuhnya, menerima keberadaan
daun, bunga, buah, ranting, dahan, batang dan akar pohon kebenaran.
Guruku pernah bercerita tentang seekor katak:
Ada seekor katak yang terlahir di sebuah sumur dangkal, ia menetas, jadi
kecebong dan melewatkan masa kecilnya hingga dewasa dalam sumur tersebut
bersama seluruh keluarga dan kawan-kawannya.
Pada suatu hari ada seekor katak lain yang berasal dari laut terperosok
kedalam sumur katak kita ini, si katak kita bertanya: "kamu siapa dan dari
mana?"
Katak laut: Aku kodok, aku berasal dari laut
Katak sumur: Laut!? seperti apakah laut itu?
Katak laut: Ooh laut itu bentangan air yang sangat luas dan besar sekali
Katak sumur: Besar!??? Besar mana laut dibanding sumurku ini?, kata katak
kita sambil melompati satu sisi sumurnya kesisi yang lain.
Katak laut : Saudaraku, kau tak bisa membandingkan laut dengan sumur sempitmu
ini.
Katak sumur: Benarkah? kau pasti bohong, tak ada sumur yang lebih luas dari
sumurku ini. ia kemudian kembali melompati sisi-sisi sumurnya.
Katak laut :Kawanku sumurmu ini sama sekali tidak ada artinya dibanding
luasnya lautan
Katak sumur marah besar mendengar ucapan katak laut, ia berseru pada
kawan-kawannya " kawan-kawan, katak ini adalah pembohong terbesar, ia telah
meremehkan sumur kita, mari kita bunuh saja pembohong ini"
Celaka bagi katak laut...
Saudaraku, demikian keadaan kita seperti katak sumur tersebut, kita lahir dan
dibesarkan dalam sumur kita masing-masing yang dibatasi tebok / dinding sumur
yang tinggi, pandangan kita tehalangi tingginya tembok sumur hingga pengetahuan
kita tentang luasnya lautan terbatas, bahkan untuk membayangkan laut itu
seperti apa saja kita tak mampu.
Saya di besarkan dalam sumur hindu, anda dalam sumur islam dan yang lain
dalam sumur kristen, budha, tao, dll. kita dibesarkan dalam sumur sempit kita
masing-masing.
Pandangan kita tertutupi oleh tembok tinggi dogma-dogma agama kita yang
seiring perjalanan waktu kian meninggi.
Apa gunanya kita bertengkar dan saling membanggakan kebesaran sumur
masing-masing? yang justru membuat kita lupa bahwa diluar sana ada lautan
nanluas menanti, mari kita belajar pada mereka yang pernah kesana.
Kita sudah terbiasa dicekoki pemahaman yang salah tentang agama dan
spiritualitas sejak usia dini hingga kita tak sadar dan tak tahu lagi kebenaran
itu seperti apa, sudah terbiasa minum pahitnya racun akan membuat kita tak lagi
tau rasa manisnya madu.
Damai slalu....
qugo_dupoy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
oke boss.aku setuju
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com