Mas Sony,

Menurut pendapatku kejawen itu ILMU PASRAH - ilmu pulang kembali ke 
jatidiri BUKAN ilmu2 klenik dan kanuragan.
Kejawen yang asli akan mengusir pengikutnya yang sudah mulai main 
sakti2an- itu tercatat pada sejarah ilmu2 kejawen yang asli di Jawa.
Tapi ada juga akhirnya orang2 yang tersingkir ini akhirnya juga mendirikan 
padepokan ilmu2 seperti yang dikuasainya ( sempalan ).

Di dunia ini selalu ada yang lurus juga yang bengkok dan yang kurang lurus 
juga karena situasi dan kondisi yang menuntut demikian maka dalam 
perjalanannya memang ilmu2  kanuragan dan klenik ini berkembang  dan 
dimanfaatkan dalam peperangan dan perebutan kekuasaan yang selalu 
menumpahkan darah termasuk guru2 yang akhirnya secara terpaksa mengajarkan 
kanuragan saat perang dengan musuh atau penjajah Belanda.

Mungkin ada yang mau koreksi silahkan.

Salam,

jesseprakasa/zhen-shan-ren hao!!





"Sony H Waluyo" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [EMAIL PROTECTED]
25/07/2008 09:31
Please respond to
[EMAIL PROTECTED]


To
<[EMAIL PROTECTED]>, <[email protected]>
cc

Subject
[Spiritual-Indonesia] telenji abizzzz....









Mbah2,
numpang sharing perjalanan saja….
 
Kejawen tdk akan pernah menjadi agama, dan itu memang sama sekali tidak 
perlu. Kejawen bukan agama melainkan jalan spiritual khas manusia jawa. 
Kejawen sangat lentur beradaptasi dan berkembang. Dasar kejawen adalah 
alam, berawal dari animisme dan dinamisme, yg di wilayah timur kemudian 
dikenal sebagai tantra dan di barat (Mesir) dikenal dg Majusi. Dinamikanya 
sangat mirip antara tantra dan majusi, yg pada tingkat awal mendorong 
perkembangan ilmu kanuragan, kekebalan dan klenik. Pada level atas setelah 
mencapai kesadaran memasuki tahapan spiritualitas. Sekalipun dalam tahap 
spiritualitas kanuragan ditinggalkan tetapi kanuragan sendiri menjadi 
dasar utk menapaki spiritualitas. Hal ini juga digambarkan dlm Injil pd 
kisah para murid Yesus yg mampu membuat berbagai mujizat, menangkap 
penglihatan (lidah api, burung merpati, langit terkuak). 
 
Dinamika spiritualitas memang sulit dipahami dg mengandalkan otak karena 
itu spiritualitas tdk mengajarkan pemahaman dg otak/pikiran yg terbatas, 
tetapi sebaliknya, kepasrahan, mau mendengar (entah berapa kali Yesus 
mengingatkan “barang siapa bertelinga hendaknya mendengar”), dan utk itu 
diperlukan mau menelanjagi diri, membuka topeng2 kepalsuan, kemunafikan, 
polos di hadapan Tuhan yg diwujudkan dlm kepolosan dan keluguan di hadapan 
sesama manusia. Maka Yesus setiap kali menyembuhkan mengingatkan hal ini 
dg berkata, “jangan berbuat dosa lagi”. Penyakit datang dari ulah manusia 
yg berdosa. Penyakit hanyalah cambuk, penthung, tongkat gembala. Ketika 
sakit manusia terpaksa membaringkan diri, tak berdaya, lemah, gak bisa 
apa-apa. Hal ini memaksa orang utk pasrah menerima kebaikan orang lain… 
uluran tangan orang lain… mendengar orang lain.. melihat… mengamati… 
 
Maka Yesus sesungguhnya sama sekali tidak mendirikan suatu agama apapun, 
melainkan jalan spiritual…jalan yg harus dilakoni….nglakoni urip…di bawah 
tutunan tongkat gembala…Kidung Agung banyak menggambarkan ttg 
“penelanjangan diri” dan menggunakan ekspresi2 yg berbau porno… tetapi 
itulah gambaran hubungan suci…. tanpa dosa…tanpa topeng….yg dalam 
spiritualitas jawa digambarkan dg lingga-yoni….dan kepolosan dengan 
ngracut busananing kamanungsan (melepas baju kemanusiaan) untuk mencapai 
kesadaran sejati bahwa manusia bukan makluk raga tetapi makluk roh…makluk 
spiritual…yg tidak pernah mati…yg bersatu…manunggal dg Gusti-nya… inilah 
rahasia gnosisme…yg justru asli dikembangkan oleh para murid langsung 
Yesus …tanpa bentuk institusi atau kelembagaan yg kaku…yg sampai saat ini 
sulit dipahami dg kacamata dogmatis…karena mengandalkan otak….olah 
pikiran…ora bakal nyandak (gak bakal nyampai)….sebab semua harus 
dialami…dilakoni…sebab semua rahasia itu dibukak melalui pengalaman 
hidup….kitab basah menurut kejawen….dan kitab suci adalah kitab 
kering…yang memandu untuk memahami pengalaman hidup setiap manusia yang 
masing-masing unik…yg tentu saja sulit utk dilembagakan…karena setiap 
pribadi adalah istimewa…unik…menapaki jalan dan pilihan hidup 
masing-masing…. Semua jalan yg dipilih apapun pilihanannya adalah jalan 
spiritual….hanya saja kalo ada jalan yg lebih mudah mengapa milih nglakoni 
urip yang sulit….
 
Nuwun,
 
Dhemit Sonthul
 
 
 

Kirim email ke