On Wed Oct 29, 2008 9:46 am
"Sony H Waluyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbah HMNA,
Penjenengan ki lagi ngoceh opo to?
Apa nek sudah pada tahu dan punya banyak ilmu pengetahuan dan ilmu agama lalu
seseorang akan dikatakan baik hidupnya?
Apakah jika seseorang dinilai baik atau buruk lalu orang lain akan tahu bahwa
sesuatu perbuatan itu baik atau buruk hanya dengan memberi cap bahwa orang ini
jahat atau orang ini baik.
Apakah jika suatu kepercayaan dinilai baik atau jelek lalu orang yg membaca
bisa memahami apanya yg baik dan apanya yg jelek.
Bukankah tidak ada orang di muka bumi ini yang karena telah menganut suatu
agama lalu secara otomatis karena agama yg dianutnya itu, akan menjadikannya
sebagai orang baik.
Baik-buruk seseorang tidak ditentukan oleh agama/kepercayaan yang dianutnya,
Tapi baik-buruk seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh pikirannya dan
oleh perbuatannya.
Seorang atheis adalah jahat bukan karena ia atheis, tapi karena pikiran dan
perbuatannya.
Seseorang tetap akan dinilai jahat, karena pikiran dan perbuatannya sekalipun
ia beragama.
-----------------------
HMNA:
Ente baca baik-baik Seri 178. Tanggapan ente OOT
***************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
178. Fi'il dan Ism, Kebudayaan dan Sivilisasi
Saya adalah salah seorang di antara enam orang pemilik mobil Daihatsu mini,
keluaran 1975, yang mendahului kendaraan umum pete-pete (bhs Makassar untuk
oplet). Kelima pemilik yang lain ialah Prof. H.A.Rahman Rahim, Prof.
H.Burhamzah, dr Soeroso Wirjowidagdo, sekarang sudah pindah ke Jakarta,
(saudara kandung Prof.Dr Somali Wirjowidagdo yang di PTUN-kan), Prof.
H.Soemarmo yang sekarang sudah pensiun dan Prof. H.Syukur Abdullah almarhum. Di
antara keenam pemilik Daihatsu mini tersebut, hanya sayalah yang masih
memilikinya terus hingga kini.
Daihatsu mini itu adalah ism (benda) hasil teknologi. Proses pembuatan dan
pemakaiannya adalah fi'il (kerja). Daihatsu mini sebagai ism, perangkat kasar,
tidaklah berdiri sendiri. Ia terkait pada fi'il, perangkat halus, baik waktu
proses pembuatan maupun pemakaiannya. Dengan demikian secara praktis ism dengan
fi'il, perangkat kasar dengan perangkat halus tidak dapat dipisahkan.
Fi'il mengandung nilai, baik pada proses pembuatan maupun pada pemakaian, itu
adalah kebudayaan. Ism yang diberi nilai, itu adalah sivilisasi. Termasuk dalam
sivilisasi adalah pengetahuan dan keterampilan pemeliharaan ism tersebut.
Pemakaian Daihatsu mini itu tanpa rasa segan dan kikuk yang juga saya pakai ke
pesta perkawinan termasuk dalam kebudayaan, sedangkan pengetahauan dan
keterampilan pemeliharaan Daihatsu mini itu termasuk sivilisasi. Nilai akademis
dalam sebuah lembaga pendidikan adalah kebudayaan. Administrasi adalah
sivilisasi.
Kebudayaan memberi nilai pada sivilisasi. Kebudayaan sebagai perangkat halus
ibarat jiwa bagi sivilisasi sebagai tubuh kasar dan itu menunjukkan bahwa
tataran kebudayaan lebih tinggi dari sivilisasi. Itulah sebabnya tidak dapat
diterima oleh akal sehat jika nilai akademis dalam lembaga pendidikan (seperti
misalnya Program Pasca Sarjana Unhas) diintervensi oleh lembaga administrasi
eksternal (seperti misalnya Pengadilan Tata Usaha Negara), dalam kasus Prof.Dr
Somali Wirjowidagdo yang di PTUN-kan dalam hal-ihwal proses murni akademis. Tak
tahulah kita nanti apakah keputusan PTUN itu akan mempunyai wibawa atas Prof.Dr
Somali Wirjowidagdo sebagai Ketua Program Pasca Sarjana Unhas.
Kebudayaan sebagai pemberi nilai pada sivilisasi ada dua jenis. Yang pertama
kebudayaan yang berisikan nilai yang berasal dari akar yang non-historis, yaitu
dari Sumber Nilai Yang Maha Mutlak. Termasuk dalam hal ini Nilai Mutlak dari
agama wahyu yang dibawakan oleh Nabi Musa dan Nabi 'Isa 'alayhima ssalam (dalam
wujudnya yang asli) dan Nabi Muhammad SAW. Yang kedua adalah kebudayaan yang
berisikan nilai yang berasal dari sumber historis, seperti misalnya kebudayaan
Sumaria, Mesir Kuno dan Yunani. Kebudayaan jenis kedua ini ada yang
menghasilkan agama kebudayaan seperti agama Mesir Kuno, dan agama Parsi Kuno
yang dibawakan oleh Zarathustra (Zoroaster)?
Tanda tanya di atas itu dimaksudkan ialah terbuka kemungkinan bahwa Zarathustra
ini berderajat nabi yang mendapatkan wahyu. Ini masih memerlukan penelitian
yang cermat, namun sangat sulit. Mengapa? Sebuah aliran pemurnian dalam agama
Zarathustra yang bersemboyankan "Kembali ke Ghata", menyatakan bahwa
Zarathustra tidaklah mengajarkan dua Tuhan, Tuhan Terang, Ahura Mazda (Ormuzd)
dan Tuhan Gelap, Angramanyu (Ahriman). Menurut aliran pemurnian ini
Angramanyupun diciptakan oleh Ahura Mazda, jadi tidak beda dengan posisi Iblis
terhadap Allah SWT dalam agama-agama wahyu, Yahudi, Kristen dan Islam. Kitab
suci Ghata telah habis terbakar ketika Alexander the Great raja Macedonia (356
- 232 seb.M.), membakar habis Parcepolis (331 seb.M.), sehingga ajaran
Zatrathustra hanya tinggal dalam ingatan para pendetanya. Inilah jawaban atas
pertanyaan mengapa tersebut di atas itu. (Alexander the Great ini bukanlah
Dzulqarnayn yang disebutkan dalam Al Quran. Itu adalah kesalahan vital dalam
beberapa buku sejarah berbahasa Indonesia yang mempergunakan nama Iskandar
Zulkarnain untuk Alexander the Great. Mengapa? Karena Dzulqarnain dalam Al
Quran diqishshahkan berdialog dengan Allah, sedangkan Alexander the Great
adalah penyembah berhala).
***
Demikianlah, sivilisasi itu adalah konsep materialistik. Semua ilmu dan metode
yang diciptakan (invented, baca seri 177 tentang pengertian mencipta) untuk
mengalihkan benda ke benda yang mempunyai nilai tambah akan bermuara pada
kemajuan sivilisasi dalam wujud keseragaman dan kemudahan hidup zahiriyah.
Negeri yang lebih tinggi sivilisasinya belum tentu kebudayaannya lebih tinggi
pula. Bahkan kalau dilihat kenyataan dalam abad ke-20 ini, kualitas sivilisasi
itu berbanding terbalik dengan kualitas kebudayaan. Kebudayaan masyarakat
Kajang di Sulawesi Selatan misalnya jauh lebih tinggi dari kebudayaan Barat,
walaupun sivilisasi Barat jauh lebih tinggi dari sivilisasi masyarakat Kajang.
Kriteria yang dipakai dalam mengukur tinggi rendahnya sivilisasi adalah Iptek.
Makin maju Iptek makin tinggi nilai tambah yang diberikannya pada barang, makin
terwujud kemudahan hidup material. Kriteria yang dipakai dalam mengukur tinggi
rendahnya kebudayaan adalah nilai-nilai moral yang membudaya pada suatu negeri
yang makin mendekati nilai-nilai moral menurut wahyu.
Manusia adalah Khalifah Allah di globa ini.
-- Wa idzqaala Rabbuka lilmalaikati inny jaa'ilun fiy l.ardhi khalifatan
(S.AlBaqarah, 2:30), artinya: Ingatlah ketika Maha Pengaturmu berfirman kepada
para malaikat, sesungguhnya Aku akan menjadikan Kahlifah di bumi (2:30). Dalam
ayat itu sifat Ar Rabb dari Allah SWT yang dikemukakan. Ar Rabb bermakna Maha
Pengatur, Maha Pemelihara. Jadi tugas utama manusia sebagai Khalifah adalah
memelihara globa ini dari perusakan peradaban oleh mekanisme teknologi.
Masyarakat Kajang kebudayaannya mengandung nilai yang memelihara lingkungannya,
kelestarian hutannya dan kebersihan udaranya. Masyarakat barat merusak
lingkungannya dengan mekanisme teknologi. Nilai-nilai moral yang mengikat
masyarakat Kajang lebih tinggi dari nilai-nilai moral yang mengikat masyarakat
Barat, itupun jika nilai moral yang mengikat masyarakat Barat itu masih ada.
Itulah sebabnya dikatakan di atas bahwa kebudayaan masyarakat Kajang lebih
tinggi dari kebudayaan Barat, walaupun sivilisasi Barat lebih tinggi dari
sivilisasi masyarat Kajang.
Catatan Tambahan:
Kebudayaan = Culture, the quality in society that arises from an interest in
and aquintance with what is generally regarded as excelence in arts, letters
etc.
Sivilisasi = Civilisation, modern conforts and conveniences, as made possible
by science and technology.
Peradaban, sivilisasi yang sudah menyatu dengan kebudayaan. WaLla-hu a'lamu
bisshawab.
*** Makassar, 28 Mei 1995
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/1995/05/178-fiil-dan-ism-kebudayaan-dan.html