Mbah HMNA,

 

Coba kita sorot tulisan Mbah di bawah ini:

 

“Masyarakat Kajang kebudayaannya mengandung nilai yang memelihara 
lingkungannya, kelestarian hutannya dan kebersihan udaranya. Masyarakat barat 
merusak lingkungannya dengan mekanisme teknologi. Nilai-nilai moral yang 
mengikat masyarakat Kajang lebih tinggi dari nilai-nilai moral yang mengikat 
masyarakat Barat, itupun jika nilai moral yang mengikat masyarakat Barat itu 
masih ada. Itulah sebabnya dikatakan di atas bahwa kebudayaan masyarakat Kajang 
lebih tinggi dari kebudayaan Barat, walaupun sivilisasi Barat lebih tinggi dari 
sivilisasi masyarat Kajang.”

 

Komentar:

 

Kebudayaan masyarakat Kajang mana yg mengandung nilai memelihara lingkungan? 
Pernyataan ini terlalu generalisir, sebab hutan Indonesia rusak karena ulah 
orang2 Indonesia sendiri. Adalah benar bahwa produk mentah hutan Indonesia itu 
dikirim keluar dan dimanfaatkan oleh pihak luar, tetapi mekanisme regulasi dan 
praktek korup/bosok orang2 Indonesia sendiri yg membuat produk2 hutan itu 
dirambah dan dirusak. Rasa2nya tdk ada orang bule yg mbabat hutan di Indonesia, 
tapi lemahnya dan korupnya pejabat dan pengawasannya yg memungkinkan terjadinya 
pengrusakkan hutan, yg dilakukan oleh tangan2 orang2 Indonesia sendiri yg 
katanya orang2 beragama.

 

Lalu apakah orang barat gak cinta lingkungan? Waduh…terbalik atuh. Coba lihat 
standarisasi produk otomotif yg ada sekarang ini. Tdk ada standarisasi mesin 
ramah lingkungan yg ditetapkan oleh Indonesia. Yang ada standard Euro1 dan 
Euro2. Sementara itu kota2 di eropa juga dikembangkan dg tetap menjaga dan 
memelihara keseimbangan luas tanah yg tertutup bangunan dan lahan terbuka. 
Sedang di Indonesia ampun deh, lah wong sampah saja bertebaran dimana2. 

Eropa banyak mengembangkan tehnologi yg makin efisien dan bermanfaat bagi 
manusia, tapi Indonesia masih lebih banyak hanya menjadi penonton dan pengguna 
saja, padahal banyak energi alternative yg tersedia yg lebih ramah lingkungan 
utk dikembangkan.  

Dlm hal perhatian pd masalah social, di barat ada jaminan social yg menjamin 
orang2 gelandangan dan pengangguran; apakah Indonesia punya, dan berjalan dg 
baik,  sekalipun hal ini diatur dlm UUD 45?

 

Jadi, katakan mana yg baik yg kita orang Indonesia punya tapi juga katakan apa 
kekurangannya supaya diperbaiki

Dan katakan apa yg baik dari masyarakat barat utk dijadikan contoh, dan apanya 
yg kurang supaya tidak ditiru yg jelek2 itu. 

 

Dhemit Sonthul - Sony H Waluyo

 

* You are what you think about. Beware of your mind. 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of H. 
M. Nur Abdurrahman
Sent: Wednesday, October 29, 2008 9:05 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Mayapada Prana] Seri 178

 

  

On Wed Oct 29, 2008 9:46 am
"Sony H Waluyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 

Mbah HMNA,

 

Penjenengan ki lagi ngoceh opo to?
Apa nek sudah pada tahu dan punya banyak ilmu pengetahuan dan ilmu agama lalu 
seseorang akan dikatakan baik hidupnya?
Apakah jika seseorang dinilai baik atau buruk lalu orang lain akan tahu bahwa 
sesuatu perbuatan itu baik atau buruk hanya dengan memberi cap bahwa orang ini 
jahat atau orang ini baik. 
Apakah jika suatu kepercayaan dinilai baik atau jelek lalu orang yg membaca 
bisa memahami apanya yg baik dan apanya yg jelek.
Bukankah tidak ada orang di muka bumi ini yang karena telah menganut suatu 
agama lalu secara otomatis karena agama yg dianutnya itu, akan menjadikannya 
sebagai orang baik.
Baik-buruk seseorang tidak ditentukan oleh agama/kepercayaan yang dianutnya,
Tapi baik-buruk seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh pikirannya dan 
oleh perbuatannya.
Seorang atheis adalah jahat bukan karena ia atheis, tapi karena pikiran dan 
perbuatannya.
Seseorang tetap akan dinilai jahat, karena pikiran dan perbuatannya sekalipun 
ia beragama.
-----------------------
HMNA:
Ente baca baik-baik Seri 178. Tanggapan ente OOT
***************************************************
 

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

 

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
178. Fi'il dan Ism, Kebudayaan dan Sivilisasi

 

Saya adalah salah seorang di antara enam orang pemilik mobil Daihatsu mini, 
keluaran 1975, yang mendahului kendaraan umum pete-pete (bhs Makassar untuk 
oplet). Kelima pemilik yang lain ialah Prof. H.A.Rahman Rahim, Prof. 
H.Burhamzah, dr Soeroso Wirjowidagdo, sekarang sudah pindah ke Jakarta, 
(saudara kandung Prof.Dr Somali Wirjowidagdo yang di PTUN-kan), Prof. 
H.Soemarmo yang sekarang sudah pensiun dan Prof. H.Syukur Abdullah almarhum. Di 
antara keenam pemilik Daihatsu mini tersebut, hanya sayalah yang masih 
memilikinya terus hingga kini.

 

Daihatsu mini itu adalah ism (benda) hasil teknologi. Proses pembuatan dan 
pemakaiannya adalah fi'il (kerja). Daihatsu mini sebagai ism, perangkat kasar, 
tidaklah berdiri sendiri. Ia terkait pada fi'il, perangkat halus, baik waktu 
proses pembuatan maupun pemakaiannya. Dengan demikian secara praktis ism dengan 
fi'il, perangkat kasar dengan perangkat halus tidak dapat dipisahkan.
Fi'il mengandung nilai, baik pada proses pembuatan maupun pada pemakaian, itu 
adalah kebudayaan. Ism yang diberi nilai, itu adalah sivilisasi. Termasuk dalam 
sivilisasi adalah pengetahuan dan keterampilan pemeliharaan ism tersebut. 
Pemakaian Daihatsu mini itu tanpa rasa segan dan kikuk yang juga saya pakai ke 
pesta perkawinan termasuk dalam kebudayaan, sedangkan pengetahauan dan 
keterampilan pemeliharaan Daihatsu mini itu termasuk sivilisasi. Nilai akademis 
dalam sebuah lembaga pendidikan adalah kebudayaan. Administrasi adalah 
sivilisasi.
 
Kebudayaan memberi nilai pada sivilisasi. Kebudayaan sebagai perangkat halus 
ibarat jiwa bagi sivilisasi sebagai tubuh kasar dan itu menunjukkan bahwa 
tataran kebudayaan lebih tinggi dari sivilisasi. Itulah sebabnya tidak dapat 
diterima oleh akal sehat jika nilai akademis dalam lembaga pendidikan (seperti 
misalnya Program Pasca Sarjana Unhas) diintervensi oleh lembaga administrasi 
eksternal (seperti misalnya Pengadilan Tata Usaha Negara), dalam kasus Prof.Dr 
Somali Wirjowidagdo yang di PTUN-kan dalam hal-ihwal proses murni akademis. Tak 
tahulah kita nanti apakah keputusan PTUN itu akan mempunyai wibawa atas Prof.Dr 
Somali Wirjowidagdo sebagai Ketua Program Pasca Sarjana Unhas.

 

Kebudayaan sebagai pemberi nilai pada sivilisasi ada dua jenis. Yang pertama 
kebudayaan yang berisikan nilai yang berasal dari akar yang non-historis, yaitu 
dari Sumber Nilai Yang Maha Mutlak. Termasuk dalam hal ini Nilai Mutlak dari 
agama wahyu yang dibawakan oleh Nabi Musa dan Nabi 'Isa 'alayhima ssalam (dalam 
wujudnya yang asli) dan Nabi Muhammad SAW. Yang kedua adalah kebudayaan yang 
berisikan nilai yang berasal dari sumber historis, seperti misalnya kebudayaan 
Sumaria, Mesir Kuno dan Yunani. Kebudayaan jenis kedua ini ada yang 
menghasilkan agama kebudayaan seperti agama Mesir Kuno, dan agama Parsi Kuno 
yang dibawakan oleh Zarathustra (Zoroaster)?
Tanda tanya di atas itu dimaksudkan ialah terbuka kemungkinan bahwa Zarathustra 
ini berderajat nabi yang mendapatkan wahyu. Ini masih memerlukan penelitian 
yang cermat, namun sangat sulit. Mengapa? Sebuah aliran pemurnian dalam agama 
Zarathustra yang bersemboyankan "Kembali ke Ghata", menyatakan bahwa 
Zarathustra tidaklah mengajarkan dua Tuhan, Tuhan Terang, Ahura Mazda (Ormuzd) 
dan Tuhan Gelap, Angramanyu (Ahriman). Menurut aliran pemurnian ini 
Angramanyupun diciptakan oleh Ahura Mazda, jadi tidak beda dengan posisi Iblis 
terhadap Allah SWT dalam agama-agama wahyu, Yahudi, Kristen dan Islam. Kitab 
suci Ghata telah habis terbakar ketika Alexander the Great  raja Macedonia (356 
- 232 seb.M.), membakar habis Parcepolis (331 seb.M.), sehingga ajaran 
Zatrathustra hanya tinggal dalam ingatan para pendetanya. Inilah jawaban atas 
pertanyaan mengapa tersebut di atas itu. (Alexander the Great ini bukanlah 
Dzulqarnayn yang disebutkan dalam Al Quran. Itu adalah kesalahan vital dalam 
beberapa buku sejarah berbahasa Indonesia yang mempergunakan nama Iskandar 
Zulkarnain untuk Alexander the Great. Mengapa? Karena Dzulqarnain dalam Al 
Quran diqishshahkan berdialog dengan Allah, sedangkan Alexander the Great 
adalah penyembah berhala).

 

                              ***

 

Demikianlah, sivilisasi itu adalah konsep materialistik. Semua ilmu dan metode 
yang diciptakan (invented, baca seri 177 tentang pengertian mencipta) untuk 
mengalihkan benda ke benda yang mempunyai nilai tambah akan bermuara pada 
kemajuan sivilisasi dalam wujud keseragaman dan kemudahan hidup zahiriyah.

 

Negeri yang lebih tinggi sivilisasinya belum tentu kebudayaannya lebih tinggi 
pula. Bahkan kalau dilihat kenyataan dalam abad ke-20 ini, kualitas sivilisasi 
itu berbanding terbalik dengan kualitas kebudayaan. Kebudayaan masyarakat 
Kajang di Sulawesi Selatan misalnya jauh lebih tinggi dari kebudayaan Barat, 
walaupun sivilisasi Barat jauh lebih tinggi dari sivilisasi masyarakat Kajang.

 

Kriteria yang dipakai dalam mengukur tinggi rendahnya sivilisasi adalah Iptek. 
Makin maju Iptek makin tinggi nilai tambah yang diberikannya pada barang, makin 
terwujud kemudahan hidup material. Kriteria yang dipakai dalam mengukur tinggi 
rendahnya kebudayaan adalah nilai-nilai moral yang membudaya pada suatu negeri 
yang makin mendekati nilai-nilai moral menurut wahyu.

 

Manusia adalah Khalifah Allah di globa ini.
-- Wa idzqaala Rabbuka lilmalaikati inny jaa'ilun fiy l.ardhi khalifatan 
(S.AlBaqarah, 2:30), artinya: Ingatlah ketika Maha Pengaturmu berfirman kepada 
para malaikat, sesungguhnya Aku akan menjadikan Kahlifah di bumi (2:30). Dalam 
ayat itu sifat Ar Rabb dari Allah SWT yang dikemukakan. Ar Rabb bermakna Maha 
Pengatur, Maha Pemelihara. Jadi tugas utama manusia sebagai Khalifah adalah 
memelihara globa ini dari perusakan peradaban oleh mekanisme teknologi.

 

Masyarakat Kajang kebudayaannya mengandung nilai yang memelihara lingkungannya, 
kelestarian hutannya dan kebersihan udaranya. Masyarakat barat merusak 
lingkungannya dengan mekanisme teknologi. Nilai-nilai moral yang mengikat 
masyarakat Kajang lebih tinggi dari nilai-nilai moral yang mengikat masyarakat 
Barat, itupun jika nilai moral yang mengikat masyarakat Barat itu masih ada. 
Itulah sebabnya dikatakan di atas bahwa kebudayaan masyarakat Kajang lebih 
tinggi dari kebudayaan Barat, walaupun sivilisasi Barat lebih tinggi dari 
sivilisasi masyarat Kajang.

 

Catatan Tambahan:   
Kebudayaan = Culture, the quality in society that arises from an interest in 
and aquintance with what is generally regarded as excelence in arts, letters 
etc.
Sivilisasi = Civilisation, modern conforts and conveniences, as made possible 
by science and technology.
Peradaban, sivilisasi yang sudah menyatu dengan kebudayaan. WaLla-hu a'lamu 
bisshawab.
                              
*** Makassar, 28 Mei 1995
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]



Kirim email ke