Dear Bpk Sony Yth,
 
Mematikan Vs Pengendalian Pikiran
Saya pikir ada yang kurang tepat dalam narasi anda, sepanjang pengetahuan saya 
tentang ajaran Budha, tidak pernah diajarkan untuk "mematikan" pikiran..justru 
yang diajarkan adalah "pengendalian" pikiran agar tidak muncul "AKU" yang dapat 
menyebabkan nafsu, keinginan, dll yang justru menenggelamkan subyek ybs. 
Intinya dengan adanya pengendalian, maka sang subyek akan "TAHU" dan "SADAR" 
akan eksistensi dirinya n keterkaitannya dengan Hukum Alam. "Tahu" masih belum 
cukup, harus "Sadar"....Nah, darimana datangnya Kesadaran? Silahkan 
bereksperimen.....Toh seingat saya, salah satu prinsip ajaran Budha 
Sakyamuni adalah : Jangan percaya apa yang dikatakan orang termasuk Budha 
sendiri, namun "Datang, Lihat dan Buktikan....." (Simple n logic but very 
deep!). 
 
Btw saya bukan penganut Budha, hanya sekedar memberikan input tambahan 
sepanjang yang saya tahu.........
 
Dialektika dengan Alam
Ajaran Budha mirip namun tak sama dengan ajaran Tao (Dao = Taoisme) yang muncul 
sejak 4000-4500 tahun silam (lebih awal dari munculnya Budha Sakyamuni dan 
kelahirannya setara dengan Hindu Kuno). Dao mengajarkan Keselarasan n 
Keseimbangan Alam, tidak heran jika ahli2 Dao mempunyai kemampuan2 supranatural 
yang luar biasa pada jaman dulu karena inti filsafat Dao adalah "Bekerja Sama" 
bukan "Mempertentangkan".  Hasil "Kolaborasi" dengan Alam inilah melahirkan 
berbagai jenis cabang ilmu utama dan turunannya (derivative) yang tetap eksis 
hingga kini : Fengshui, Gongfu, Jing Zuo, Qiqong dll.....Jadi sejak ribuan 
tahun hingga kini, sebenarnya nenek moyang kita sudah Tahu dan Sadar akan tata 
cara berkomunikasi dengan Alam Semesta...Cuma sayangnya, seiring dengan 
berkembangnya eksistensi diri, maka muncullah EGO Manusia untuk menguasai alam 
termasuk sesama......  
 
Kiamat
Dalam hal Kiamat, saya sangat setuju dengan opini anda. Bicara soal kiamat, 
bukanlah dalam arti bahwa Bumi ini akan hancur lebur menjadi abu di antariksa 
or menjadi debu di Galaksi Bima Sakti ini. Kiamat dalam arti sebenarnya adalah 
proses penghancuran n pembangunan kembali yang terjadi setiap hari baik 
dalam skala kecil maupun skala besar, namun tidak semua mahluk hidup akan 
mengalami kejadian tersebut di tempat yang sama. Tidak ada kehancuran yang 
permanen dan tidak ada pula kehidupan yang permanen. 
Di dunia ini tidak ada yang tetap (permanen), yang tetap hanyalah "PERUBAHAN".
 
Ex: Gempa bumi Chili adalah kiamat bagi mereka yang menjadi korban (penulis 
tidak bermaksud mengecilkan arti korban). Tsunami di Aceh, Thailand, Srilanka, 
Perang Dunia I, II, Irak dll adalah kiamat bagi mereka yang terjebak pada 
kondisi saat itu dan menjadi korban. Namun kejadian tersebut tidak terjadi 
diseluruh dunia. Pada saat yang bersamaan, di belahan dunia lain justru hidup 
tenang....So? Tidak perlu pusing dengan Kiamat, Surga, Neraka dll....Semuanya 
ada didunia ini. Nikmati n hargai hidup ini...Surga dan Neraka ada didunia ini, 
gak kemana-mana koq......
 
 


Best Regards,
Hendra Bujang
Mobile I   : 0878 7828 7808 
Mobile II  : 0856 190 9109 
"Knowing Is Not Enough, We Must Apply"
"Willing Is Not Enough, We Must Do" 
 

--- On Wed, 3/10/10, Sony H Waluyo <[email protected]> wrote:


From: Sony H Waluyo <[email protected]>
Subject: [Mayapada Prana] Planet bumi adalah suatu bentuk kesadaran kolektif
To: "Sony H Waluyo" <[email protected]>
Date: Wednesday, March 10, 2010, 2:09 PM


  





 

Planet bumi adalah suatu kesadaran kolektif yg lebih tinggi drpd kesadaran 
manusia, shg disebut “ibu pertiwi’… ibu yg melahirkan dan menghidupi kehidupan 
di atasnya. Saat pikiran manusia sbgmana diajarkan banyak agama, bhw di dunia 
ini ada pertarungan antara kelompok setan dg nerakanya dan kelompok malaekat 
pembantu tuhan dg surganya; pada kenyataannya toh Sang Pencipta menciptakan 
nyamuk, yg oleh manusia dianggap sbg binatang “jahat” krn menyebarkan penyakit. 
Bumi menumbuhkan berbagai bentuk kehidupan yg seringkali dirasa “mengganggu” 
kehidupan manusia shg perlu dilakukan penyemprotan nyamuk. Manusia tdk memahami 
cara kerja alam, itu yg mjd masalah timbulnya konflik antara manusia dg 
alamnya. Ajaran2 agama kurang memahami dialektika dg alam. Cukup sulit dipahami 
bhw ritual kuno spt yg tersisa di Bali dlm bentuk penghormatan pohon, spt 
menutupi batang pohon dg kain serta doa dan tabur bunga di pohon besar, 
sebenarnya adalah bagian dr dialog
 dg alam. Alam ini yg berupa batu, pohon, binatang spt nyamuk dan tikuspun bisa 
diajak bicara. Aku kira ada bagian di Alkitab yg menyebutkan hal ini…nabi yg 
bisa bicara dg binatang… 

Terkait dg pikiran, ada banyak hal terkait dg berbagai ajaran... termasuk 
"ajaran mematikan pikiran" spt pada buddha... aku kira lebih tepat 
"mengendalikan pikiran".... basis pikirnya adalah... setiap keberadaan itu 
sendiri adalah bagian dr kesadaran Sang Pencipta... artinya jika pikiran sbg 
bagian dr keberadaan Sang Pencipta semacam itu, yg diwakili oleh 
pikiran/kesadaran ciptaan... mematikan pikiran sama saja dg bunuh diri... 
hmm... Setiap keberadaan kesadaran ciptaan dlm masing2 bentuknya yg unik 
mengemban sustu misi yg merupakan bagian dr keberadaan Sang Pencipta, shg 
pengendalian pikiran sbg ujud kesadaran mungkin lebih tepat dlm skenario 
penciptaan.. ., kecuali jika Sang Pencipta sendiri memang sudah memutuskan utk 
istirahat... upsss.... 

Tulisan di atas tentu saja sama sekali berkebalikan dg ajaran agama2, dimana 
diajarkan utk mencari jalan pulang (keselamatan) dan malah ada yg dg 
mengharapkan bantuan datangnya sang Juru Selamat… sedangkan uraian di atas, 
justru mengatakan bhw kehadiran manusia dan ciptaan lainnya adalah ujud dr 
kehadiran sang Pencipta yg sedang berkarya di dunia fisik dg berbagai rupa 
keunikannya. Jadi mengapa mikirin pulang kesana (mikirin surga), wong kita ada 
disini utk menjalankan suatu misi masing2 sampe tuntas (bio-machine/ tubuh ini 
expired) hmm…..Permainan jailangkung memperlihatkan bagaimana suatu kesadaran 
bisa diinstall ke suatu benda mati, dan itu menguak suatu misteri ttg cara 
kerja alam dan penciptaan makluk2, dan memperlihatkan bhw manusia bisa 
“mengundang/menginst al” kesadaran… 

"Kiamat", hanyalah proses perubahan zaman, sbgmana dikatakan dlm spiritual jawa 
sbg jagad gumelar, jagad gumulung…. gumelar lagi ntar gumulug lagi… begitu 
seterusnya berulang2 terjadi… 
Dan setiap akhir zaman, akan menyisakan manusia2 yg meneruskan proses 
penciptaan utk memasuki babak baru…yg pasti bumi ini akan masih terus ada dan 
menumbuhkan kehidupan yg mungkin jauh berbeda dari waktu ke waktu, zaman ke 
zaman, peradaban ke peradaban, tergantung dr kreativitas makluk2nya yg hidup 
dan berkembang di atasnya.

Love and light always be with you,

Sony H Waluyo
* You are what you think about. Beware of your mind. 
[kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas 
menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit mendefinisikan 
rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang sepakat itulah rasa 
garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit. Demikian juga saat dirasa di 
hati, kasih itu pasti kasih. 
Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah kesadaran... 
intuisi yg akan bermain...menyalurk an cahaya... cahaya adalah ilmu pengetahuan 
dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm mengolah alam dan 
kehidupan].
============ ====== 







      

Kirim email ke