Mas Hendra,

 

Matur nuwun tanggapannya. 

Mohon maaf krn tulisan itu (bagian mematikan vs mengendalikan) juga muncul
seteal beberapa waktu lalu sempat berdiskusi dg seorang tokoh buddha yg pd
intinya mengatakan tujuan hidup utk melebur kembali dg sang Pencipta, dan
beliau sangat keberatan saat saya sampaikan ttg versi kebatinan jawa sedulur
papat kalimo pancer yg mana menurut sudut pandang ini berarti bhw melebur dg
Sang Pencipta tetaplah memiliki kesadaran sbg kesadaran kolektif pancer
(cakra pusat alam semesta) krn menurut pendapat beliau melebur berarti
"hilang semua pikiran" atau dg kata lain "mematikan pikiran".

 

Namun tentunya diskusi tsb adalah suatu pendapat dr seorang tokoh dan boleh
jadi hanyasalh suatu pendapat scr seseorang yg tdk mewakili Buddha sbg
ajaran.

 

Dan tentunya uraian saya secara keseluruhanpun tetaplah hanya merupakan
suatu sudut pandang dr sekian banyak sudut pandang ttg misteri alam semesta
dan kisah kehidupan.. Jadi hanya sekedar meramaikan saja.. dan mestinya
pembaca kritis dlm bersikap dan terus-menerus menggali lebih jauh.krn maklum
saja selama kita hidup di alam fisik ini sangat terbatas persepsi kita atas
misteri alam semesta ini.   

Oleh karena itu sekali lagi terimakasih sekali atas tanggapannya.

 

Salam damai selaras, love and light always be with you,

 

Sony H Waluyo

* You are what you think about. Beware of your mind. 

[kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas
menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit
mendefinisikan rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang
sepakat itulah rasa garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit.
Demikian juga saat dirasa di hati, kasih itu pasti kasih. 
Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah
kesadaran...intuisi yg akan bermain...menyalurkan cahaya... cahaya adalah
ilmu pengetahuan dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm
mengolah alam dan kehidupan].

================== 

 

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Hendra Bujang
Sent: Wednesday, March 10, 2010 3:04 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Mayapada Prana] Planet bumi adalah suatu bentuk kesadaran
kolektif

 

  


Dear Bpk Sony Yth,

 

Mematikan Vs Pengendalian Pikiran

Saya pikir ada yang kurang tepat dalam narasi anda, sepanjang pengetahuan
saya tentang ajaran Budha, tidak pernah diajarkan untuk "mematikan"
pikiran..justru yang diajarkan adalah "pengendalian" pikiran agar tidak
muncul "AKU" yang dapat menyebabkan nafsu, keinginan, dll yang justru
menenggelamkan subyek ybs. Intinya dengan adanya pengendalian, maka sang
subyek akan "TAHU" dan "SADAR" akan eksistensi dirinya n keterkaitannya
dengan Hukum Alam. "Tahu" masih belum cukup, harus "Sadar"....Nah, darimana
datangnya Kesadaran? Silahkan bereksperimen.....Toh seingat saya, salah satu
prinsip ajaran Budha Sakyamuni adalah : Jangan percaya apa yang dikatakan
orang termasuk Budha sendiri, namun "Datang, Lihat dan Buktikan....."
(Simple n logic but very deep!). 

 

Btw saya bukan penganut Budha, hanya sekedar memberikan input tambahan
sepanjang yang saya tahu.........

 

Dialektika dengan Alam

Ajaran Budha mirip namun tak sama dengan ajaran Tao (Dao = Taoisme) yang
muncul sejak 4000-4500 tahun silam (lebih awal dari munculnya Budha
Sakyamuni dan kelahirannya setara dengan Hindu Kuno). Dao mengajarkan
Keselarasan n Keseimbangan Alam, tidak heran jika ahli2 Dao mempunyai
kemampuan2 supranatural yang luar biasa pada jaman dulu karena inti filsafat
Dao adalah "Bekerja Sama" bukan "Mempertentangkan".  Hasil "Kolaborasi"
dengan Alam inilah melahirkan berbagai jenis cabang ilmu utama dan
turunannya (derivative) yang tetap eksis hingga kini : Fengshui, Gongfu,
Jing Zuo, Qiqong dll.....Jadi sejak ribuan tahun hingga kini, sebenarnya
nenek moyang kita sudah Tahu dan Sadar akan tata cara berkomunikasi dengan
Alam Semesta...Cuma sayangnya, seiring dengan berkembangnya eksistensi diri,
maka muncullah EGO Manusia untuk menguasai alam termasuk sesama......  

 

Kiamat

Dalam hal Kiamat, saya sangat setuju dengan opini anda. Bicara soal kiamat,
bukanlah dalam arti bahwa Bumi ini akan hancur lebur menjadi abu di
antariksa or menjadi debu di Galaksi Bima Sakti ini. Kiamat dalam arti
sebenarnya adalah proses penghancuran n pembangunan kembali yang terjadi
setiap hari baik dalam skala kecil maupun skala besar, namun tidak semua
mahluk hidup akan mengalami kejadian tersebut di tempat yang sama. Tidak ada
kehancuran yang permanen dan tidak ada pula kehidupan yang permanen. 

Di dunia ini tidak ada yang tetap (permanen), yang tetap hanyalah
"PERUBAHAN".

 

Ex: Gempa bumi Chili adalah kiamat bagi mereka yang menjadi korban (penulis
tidak bermaksud mengecilkan arti korban). Tsunami di Aceh, Thailand,
Srilanka, Perang Dunia I, II, Irak dll adalah kiamat bagi mereka yang
terjebak pada kondisi saat itu dan menjadi korban. Namun kejadian tersebut
tidak terjadi diseluruh dunia. Pada saat yang bersamaan, di belahan dunia
lain justru hidup tenang....So? Tidak perlu pusing dengan Kiamat, Surga,
Neraka dll....Semuanya ada didunia ini. Nikmati n hargai hidup ini...Surga
dan Neraka ada didunia ini, gak kemana-mana koq......

 

 

Best Regards,

Hendra Bujang
Mobile I   : 0878 7828 7808 

Mobile II  : 0856 190 9109 

"Knowing Is Not Enough, We Must Apply"

"Willing Is Not Enough, We Must Do" 

 



--- On Wed, 3/10/10, Sony H Waluyo <[email protected]> wrote:


From: Sony H Waluyo <[email protected]>
Subject: [Mayapada Prana] Planet bumi adalah suatu bentuk kesadaran kolektif
To: "Sony H Waluyo" <[email protected]>
Date: Wednesday, March 10, 2010, 2:09 PM

  

 

Planet bumi adalah suatu kesadaran kolektif yg lebih tinggi drpd kesadaran
manusia, shg disebut "ibu pertiwi'. ibu yg melahirkan dan menghidupi
kehidupan di atasnya. Saat pikiran manusia sbgmana diajarkan banyak agama,
bhw di dunia ini ada pertarungan antara kelompok setan dg nerakanya dan
kelompok malaekat pembantu tuhan dg surganya; pada kenyataannya toh Sang
Pencipta menciptakan nyamuk, yg oleh manusia dianggap sbg binatang "jahat"
krn menyebarkan penyakit. Bumi menumbuhkan berbagai bentuk kehidupan yg
seringkali dirasa "mengganggu" kehidupan manusia shg perlu dilakukan
penyemprotan nyamuk. Manusia tdk memahami cara kerja alam, itu yg mjd
masalah timbulnya konflik antara manusia dg alamnya. Ajaran2 agama kurang
memahami dialektika dg alam. Cukup sulit dipahami bhw ritual kuno spt yg
tersisa di Bali dlm bentuk penghormatan pohon, spt menutupi batang pohon dg
kain serta doa dan tabur bunga di pohon besar, sebenarnya adalah bagian dr
dialog dg alam. Alam ini yg berupa batu, pohon, binatang spt nyamuk dan
tikuspun bisa diajak bicara. Aku kira ada bagian di Alkitab yg menyebutkan
hal ini.nabi yg bisa bicara dg binatang. 

Terkait dg pikiran, ada banyak hal terkait dg berbagai ajaran... termasuk
"ajaran mematikan pikiran" spt pada buddha... aku kira lebih tepat
"mengendalikan pikiran".... basis pikirnya adalah... setiap keberadaan itu
sendiri adalah bagian dr kesadaran Sang Pencipta... artinya jika pikiran sbg
bagian dr keberadaan Sang Pencipta semacam itu, yg diwakili oleh
pikiran/kesadaran ciptaan... mematikan pikiran sama saja dg bunuh diri...
hmm... Setiap keberadaan kesadaran ciptaan dlm masing2 bentuknya yg unik
mengemban sustu misi yg merupakan bagian dr keberadaan Sang Pencipta, shg
pengendalian pikiran sbg ujud kesadaran mungkin lebih tepat dlm skenario
penciptaan.. ., kecuali jika Sang Pencipta sendiri memang sudah memutuskan
utk istirahat... upsss.... 

Tulisan di atas tentu saja sama sekali berkebalikan dg ajaran agama2, dimana
diajarkan utk mencari jalan pulang (keselamatan) dan malah ada yg dg
mengharapkan bantuan datangnya sang Juru Selamat. sedangkan uraian di atas,
justru mengatakan bhw kehadiran manusia dan ciptaan lainnya adalah ujud dr
kehadiran sang Pencipta yg sedang berkarya di dunia fisik dg berbagai rupa
keunikannya. Jadi mengapa mikirin pulang kesana (mikirin surga), wong kita
ada disini utk menjalankan suatu misi masing2 sampe tuntas (bio-machine/
tubuh ini expired) hmm...Permainan jailangkung memperlihatkan bagaimana
suatu kesadaran bisa diinstall ke suatu benda mati, dan itu menguak suatu
misteri ttg cara kerja alam dan penciptaan makluk2, dan memperlihatkan bhw
manusia bisa "mengundang/menginst al" kesadaran. 

"Kiamat", hanyalah proses perubahan zaman, sbgmana dikatakan dlm spiritual
jawa sbg jagad gumelar, jagad gumulung.. gumelar lagi ntar gumulug lagi.
begitu seterusnya berulang2 terjadi. 
Dan setiap akhir zaman, akan menyisakan manusia2 yg meneruskan proses
penciptaan utk memasuki babak baru.yg pasti bumi ini akan masih terus ada
dan menumbuhkan kehidupan yg mungkin jauh berbeda dari waktu ke waktu, zaman
ke zaman, peradaban ke peradaban, tergantung dr kreativitas makluk2nya yg
hidup dan berkembang di atasnya.

Love and light always be with you,

Sony H Waluyo

* You are what you think about. Beware of your mind. 

[kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas
menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit
mendefinisikan rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang
sepakat itulah rasa garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit.
Demikian juga saat dirasa di hati, kasih itu pasti kasih. 
Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah
kesadaran... intuisi yg akan bermain...menyalurk an cahaya... cahaya adalah
ilmu pengetahuan dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm
mengolah alam dan kehidupan].

============ ====== 

 



Kirim email ke