Kaidah Yang (Hampir) Ditinggalkan Dalam Beragama (1/4)
, ditulis oleh Administrator
Wednesday, 09 November 2005
"Mengapa umat Islam terpecah belah? Ada yang
berpemahaman seperti ini, ada yang seperti itu?
Sebagian dari mereka, saling 'berantem', padahal
mereka sama-sama memiliki Al-Qur'an yang sama,
sunnah/hadits dari sumber yang sama?" Mungkin
kebingungan ini sering terlintas dalam benak seorang
muslim, yang memperhatikan keadaan saudaranya (kaum
muslimin).
Sebagian dari mereka tidak mengmbil pusing, membiarkan
saudaranya menyimpang jauh, tidak menasehatinya dengan
berkata, "Sudah jangan diganggu, bener atau tidak kita
nggak tahu. Lihat saja nanti ketika hari Kiamat atau
di akhirat, siapa yang benar." Seolah-olah standar
kebenaran yang menjadi tolok ukur telah hilang,
sehingga masuk Surga itu 'untung-untungan' saja.
Rasulullah telah meninggalkan 2 hal yang umatnya tidak
akan tersesat selama-lamanya, yaitu Qur'an dan Sunnah.
Jika lihat kenyataannya, mengapa banyak kaum muslimin
yang beragama dengan keduanya, tapi mengkafirkan
saudaranya, tidak beradab kepada orang tuanya dan
lain-lain? Apakah kita berani menyalahkan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam? Tentu tidak! Maka
artikel ini mencoba untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan di atas, dengan mengetengahkan
suatu kaidah dalam memahami kedua sumber hukum Islam
itu. Kaidah yang sejak dahulu ada pada zaman
Rasulullah.
1 Meniti Al-Qur'an & As-Sunnah Menurut Pemahaman
Salafus Shalih
1
Sejak dahulu sampai sekarang tidak ada satupun kaum
muslimin yang berbeda pendapat bahwa jalan yang
diridhai oleh Allah bagi kita adalah Al-Qur'an dan
As-Sunnah. Kepadanyalah mereka menuju dan dari situlah
mereka bertolak. Kendati mereka berbeda pendapat dalam
proses pengambilan dalil dari kedua sumber ini.
Allah telah memberi jaminan ke-istiqomah-an bagi siapa
saja yang mengikuti Al-Qur'an. Ketika menghikayatkan
perkataan rombongan jin yang beriman, Allah berfirman,
Mereka berkata, "Hai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah
diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab
yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan
kepada jalan yang lurus. (QS. 46: 30).
Allah juga memberi jaminan bagi siapa saja yang
mengikuti rasul. Allah telah berfirman tentang beliau,
Dan sesungguhnya pada kamu benar-benar memberi
petunjuk kepada jalan yang benar. (QS. 42: 52).
Akan tetapi faktor yang membuat kelompok-kelompok
dalam Islam itu menyimpang dari jalan yang lurus
adalah kelalaian mereka terhadap rukun ketiga yang
sebenarnya telah diisyaratkan dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah, yakni memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah
menurut pemahaman salafus shalih. Surat Al-Fatihah
secara gamblang telah menjelaskan ketiga rukun
tersebut. Firman Allah,
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS 1: 6).
Ayat ini mencakup rukun pertama dan kedua, yakni
kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, sebagaimana telah
dijelaskan di atas. Firman Allah,
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau
anugerahkan nikmat kepada mereka; (QS. 1: 7).
Ayat ini mencakup rukun ketiga, yakni merujuk kepada
pemahaman salafus shalih dalam meniti jalan yang lurus
tersebut. Padahal sudah tidak diragukan lagi bahwa
siapa saja yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan
As-Sunnah pasti telah mendapatkan petunjuk kepada
jalan yang lurus. Berhubung metode manusia dalam
memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah berbeda-beda, ada
yang benar dan ada yang salah, maka haruslah memenuhi
rukun ketiga untuk menghilangkan perbedaan tersebut,
yaitu merujuk kepada pemahaman salafus shalih. Ibnul
Qayyim berkata,
Perhatikanlah hikmah berharga yang terkandung dalam
penyebutan sebab dan akibat ketiga kelompok manusia
(yang tersebut di akhir surat Al-Fatihah -pent) dengan
ungkapan yang sangat ringkas. Nikmat yang dicurahkan
kepada kelompok pertama adalah nikmat hidayah, yakni
ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.2
Beliau melanjutkan,
"Setiap orang yang paling mengetahui kebenaran dan
berkomitmen untuk mengikutinya, tentu paling berhak
berada di atas 'Shirathal Mustaqim'. Sudah tidak
diragukan lagi bahwa yang paling berhak disifati
demikian adalah para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum
(semoga Allah meridhai mereka semuanya) ketimbang kaum
Rafidhah... Oleh sebab itu, ulama salaf menafsirkan
Shirathal Mustaqim dengan Abu Bakar, Umar dan seluruh
sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum."3
Uraian di atas merupakan penegasan dari beliau bahwa
generasi yang paling utama dikaruniai oleh Allah ilmu
dan amal shalih adalah para sahabat rasul radhiyallahu
'anhum. Hal itu karena mereka telah menyaksikan
langsung turunnya Al-Qur'an, menyaksikan sendiri
takwil shahih yang mereka pahami dari petunjuk rasul
yang mulis. Sebagaimana dituturkan oleh Abdullah bin
Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
"Barangsiapa diantara kamu ingin mengikuti sunnah,
maka ikutilah sunnah orang-orang yang telah mati.
Karena orang yang masih hidup tidak ada jaminan
selamat dari fitnah (kesesatan). Mereka adalah
sahabat-sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam. Mereka adalah generasi terbaik umat ini.
Generasi yang paling baik hatinya, yang paling dalam
ilmunya, yang tidak banyak mengada-ada, kaum yang
telah dipilih Allah menjadi sahabat Nabi-Nya dalam
menegakkan agama-Nya.
Kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka,
berpegang teguhlah dengan akhlak dan agama mereka
semampu kami. Karena mereka adalah generasi yang
berada di atas Shirathal Mustaqim."4
Beliau juga berkata,
Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba-Nya. Allah
menemukan hati Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah sebaik-baik hati hamba-Nya. Allah memilihnya
untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan membawa
risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba
setelah hati Muhammad. Allah dapati hati
sahabat-sahabat beliau adalah sebaik-baik hamba. Maka
Allah mengangkat mereka sebagai wazir (pembantu)
nabi-Nya, berperang demi membela agama-Nya. Maka,
apa-apa yang dipandang oleh baik oleh kaum muslimin
(para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Dan apa-apa
yang dipandang buruk oleh mereka pasti buruk di
sisi-Nya.5
Kaum muslimin yang dimaksud oleh Abdullah bin Mas'ud
dalam penuturan beliau di atas adalah para sahabat
radhiyallahu 'anhum. Imam Ahmad rahimahullah berkata,
Dasar-dasar As-Sunnah menurut kami adalah berpegang
teguh dengan pedoman yang dipegang oleh para sahabat
rasulullah dan mengikuti jejak mereka.6
Siapa saja setelah mereka yang mendapatkan keridhaan
Allah maka sebabnya adalah mengikuti petunjuk mereka.
Allah berfirman,
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama
(masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan
Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha
kepada Allah. (QS. 9: 100).7
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah
bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu telah disebutkan
penetapan generasi salaf ini sebagai standar dalam
memahami nash (dalil -red. vbaitullah) yang mana tidak
dibenarkan mengada-adakan paham lain di luar pemahaman
mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku, kemudian
generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah
mereka. Kemudian akan muncul satu kaum yang memberi
persaksian sebelum dimintai sumpah atau bersumpah
sebelum dimintai persaksiannya. 8
Dasar tersebut di atas juga didukung oleh bukti-bukti
dan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, di
antaranya firman Allah,
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain
orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan
ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4: 115).
Bentuk pengambilan dalil dari ayat di atas adalah
penyertaan antara menjauhi jalan kaum muslimin dengan
penentangan terhadap rasul, bahwasanya kedua hal itu
mendapat ancaman yang sangat keras. Padahal,
penentangan terhadap rasul saja sebenarnya sudah cukup
mendapatkan ancaman. Sebagaimana disebutkan dalam
firman Allah,
Sesungguhnya orang-orang kafir dan yang menghalangi
(manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul
setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak
dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan
Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.
(QS. 47: 32).9
Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh
Abdullah bin Lahyin dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan
radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia pernah berkhutbah di
hadapan kami lalu berkata, "Ketahuilah bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
berkhutbah di hadapan kami dan bersabda,
Ketahuilah bahwa Ahli Kitab sebelum kalian telah
terpecah belah menjadi 72 golongan. Dan bahwa umat ini
juga akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh puluh
dua di antaranya masuk neraka dan satu golongan di
dalam surga, yakni al-Jama'ah.10
Fokus dalil tersebut terletak pada penyebutan kriteria
Firqoh Najiyah (golongan yang selamat) dengan
al-Jama'ah. Dan tidak menyebutkan orientasinya kepada
Al-Qur'an dan As-Sunnah, padahal golongan ini sama
sekali tidak dapat terlepas dari Al-Qur'an dan
As-Sunnah. Hikmah yang tembunyi di balik itu adalah
sinyalemen kepada al-Jama'ah yang memahami Al-Qur'an
dan As-Sunnah kemudian mengamalkannya menurut yang
dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, dan pada saat itu11
tidak ada jama'ah kecuali sahabat nabi.
Oleh sebab itulah para ulama men-shahih-kan sebuah
lafal yang diriwayatkan dari jalur lain oleh al-Hakim
dan lainnya berkenaan dengan kriteria Firqah Najiyah
Pedoman yang aku dan para sahabatku pada hari ini
berada di atasnya.
Diantaranya juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud dan lainnya dengan sanad yang shahih dari
al-'Irbadh bin Sariyah radhiallahu 'anhu (bahwasanya)
ia berkata,
Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
memberi nasehat yang sangaat mengena hingga membuat
air mata kami menetes dan hati kami bergetaaar. Salah
seorang hadirin berkata, "Wahai Rasulullah, sepertinya
ini adalah nasehat perpisahan, lalu apa yang engkau
wasiatkan kepada kami?" Beliau bersabda,
Saya wasiatkan agar kalian tetap bertakwa kepada
Allah, selalu patuh dan taat meskipun yang memimpin
kalian adalah seorang budak Habasyi. Barangsiapa yang
hidup sepeninggalku ia pasti akan melihat perselisihan
yang amat banyak. Maka dari itu, berpegang teguhlah
dengan sunnahku dan sunnah Khulafaaur Rasyidin yang
mendapat petunjuk setelahku, gigitlah dengan gigi
geraham kalian (maksudnya peganglah sunnah itu
erat-erat). Dan hati-hatilaah kalian dari perkara yang
diada-adakan. Karena seluruh yang diada-adakan itu
adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu pasti sesat.
Fokus dalil tersebut terletak pada penggabungan antara
sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan
sunnah Khulafaaur Rasyidin. Kemudian perhatikan
bagaimana Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam
menjadikan penuturan beliau tersebut sebagai wasiat
bagi umatnya. Hingga para pembacaaa dapat mengetahui
kebenaran asas-asas manhaj salafus shalih ini.
Kemudian coba perhatikan bagaimana Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan meredam
perselisihan dengan berpegang teguh dengan manhaj ini.
Agar pembaca sekalian dapat mengetahui bahwa kaidah
"menurut pemahaman salafus shalih" merupakan pelampung
penyelamat dari perpecahan. Imam Asy-Syathibi
rahimahullah berkata,
Sebagaimana anda lihat sendiri, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam menyertakan sunnah Khulafaaur
Rasyidin dengan sunnah beliau. Bahwa termasuk
mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah
mereka. Sebaliknya, perkara yang diada-adakan
merupakan hal yang berseberangan dengan itu dan sama
sekali bukan termasuk sunnah. Sebabnya, para sahabat
radhiyallahu 'anhum dalam menetapkan sebuah sunnah
selalu mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam atau mengikuti apa yang mereka pahami dari
sunnah nabi secara global maupun terperinci yang
mungkin saja pemahaman itu tersamar atas selain
mereka, (jadi penyertaan sunnah mereka -red
vbaitullah) bukan merupakan tambahan atas sunnah Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam. 12
Sengaja saya bawakan nash-nash (dalil-dalil -red.
vbaitullah) tersebut sebagai dalil kaidah yang sedang
kita bicarakan. Saya lihat Ibnu Abil 'Izz juga
membawakan dalil tersebut ketika mensyarah
(menjelaskan) ucapan Umam Ath-Thahawi,
Kita harus mengikuti sunnah dan al-jama'ah dan harus
menjauhkan diri dari penyimpangan, perselisihan dan
perpecahan.13
Lihat Bagian lainnya:
Kaidah Yang (Hampir) Ditinggalkan Dalam Beragama (1/4)
Kaidah Yang (Hampir) Ditinggalkan Dalam Beragama (2/4)
Kaidah Yang (Hampir) Ditinggalkan Dalam Beragama (3/4)
Kaidah Yang (Hampir) Ditinggalkan Dalam Beragama (4/4)
--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki
...1
Bagian ini disalin dari buku "Pandangan Tajam Terhadap
Politik" hal. 12-24, pustaka Imam Bukhari (cetakan
pertama) yang merupakan terjemahan dari kitab
"Madarikun Nazhar fis Siyasah Bainath Thabbiqaat
Asy-Syar'iyah wal Ihfi'aalat Al-Hamaasiyah" karangan
Syaikh Abdul Malik Ramdhan Al-Jazairi. Diterjemahkan
oleh Abu Ihsan Al-Atsari.
...2
Madarijus Salikin (I/13).
...3
Ibid (I/72-73). Tafsir di atas telah diriwayatkan
secara shahih dari Abul Aliyah dan al-Hasan al-Bashri.
Ibnu Hibban menyebutkan sanadnya secara maushul dalam
kitab As-Sunnah (27), Ibnu Jarir dalam tafsir-nya
(184), Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya (I/21-22),
al-Hakim dalam Mustadrak (II/259) dan dinyatakan
shahih olehnya serta disetujui oleh aAdz-Dzahabi.
Silahkan lihat juga dalam kitab "Al-Imamah war Radd
'Alar Rafidhah" karangan Abu Nu'aim (73). Tafsir
senada dengan itu diriwayatkan juga dari Abullah bin
Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
...4
Diriwayatkan juga perkataan yang senada dengan
penuturan di atas oleh Ibnu Abdil Bar dalam "Jami'
al-Bayan" (II/97), Abu Nu'aim dalam "Al-Hilyah" dari
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu (I/305).
...5
HR. Ahmad dan lainnya. Riwayat ini derajatnya hasan.
...6
"Syarah Ushulul I'tiqad Ahlus Sunnah" karangan
al-Laalikaa'i no. 317 dan Al-Aajurrii dalam
"Asy-Syari'ah" hal. 14.
...7
Silahkan lihat uraian Imam Malik berkenaan dengan ayat
ini dalam kitab "I'lamul Muwaqqi'iin" karangan ibnul
Qayyim (IV/94-95).
...8
Bagi yang masih ragu terhadap bilangan kurun yang
disebutkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
silahkan merujuk kitab "Silsilah Hadits Shahih"
karangan Al-Albani (no. 700).
...9
Silahkan lihat Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah (XIX/194).
...10
HR. Abu Dawud dan lainnya. Derajat hadits ini shahih.
...11
yakni, pada saat ayat itu turun -red. vbaitullah
...12
Al-I'thisham (I/104).
...13
Syarah Aqidah Thahawiyah, hal. 382-383, cetakan Maktab
Islami.
http://vbaitullah.or.id/index.php?option=content&task=view&id=647&Itemid=43
Tertarik masalah Ekonomi? Mari bergabung ke milis Ekonomi Nasional
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/