Menurut saya seperti ini. Biaya kuliah di kampus-kampus "seperti" Gunadarma(bukan hanya Gunadarma) tidaklah murah, bahkan ada kampus yang biaya per sksnya lebih murah, tapi kampus tersebut bisa memberikan ruangan full AC disetiap kelasnya dan labnya juga lebih baik, dan dosennya tampak lebih makmur (rata-rata bawa mobil, bukan naik bis atau kereta) tetapi ownernya tidak terlalu kaya (saya kenal sekali dengan pemiliknya), tetapi di kampus kita tercinta ini, dosen nya rata-rata gajinya kecil, hidup pas-pas an padahal fasilitas kampus juga nggak bagus-bagus amat, keliatan nya ownernya benar-benar "pebisnis ulung" sehingga, lebih mementingkan "bisnis" dibanding mutu atau ingin berbakti untuk dunia pendidikan demi nusa bangsa cuma pameo belaka. Banyak juga teman-teman saya yang jadi dosen, kalau teriak dia takut kehilangan pekerjaan sebagai dosen. Padahal buku sekarang mahal-mahal, biaya hidup makin tinggi. Mungkin harus dicari jalan keluar bagaimana agar "Gap" antara owner dan dosen jangan terlalu curam.atau cari investor untuk kemitraan kepemilikan Kampus, beberapa dosen yg seperjuangan bergabung. Karena sesungguhnya dosen dan owner itu mitra, bukan "pekerja"
Sam > On Fri, 23 Jan 2004, adi wrote: > > > > > > > > > Seandainya dosen-dosen terus memutuskan tidak mengajar, dan memilih > > > > pekerjaan lain hanya gara-gara gaji gimana ya > > > > > > > > > > Hidup itu adalah pilihan... apakah seorang ingin jadi dosen, pengusaha, > > > pegawai negeri dll, tapi yang pasti, kita harus mempunyai tanggung jawab > > > terhadap pilihan yang kita pilih. Tidak ada alasan untuk seseorang > > > mengesampingkan tanggung jawab yang diembannya, baik itu tanggung jawab > > > profesi, moral maupun sosial. > > > > > ha ha memang susah kalo masih mhs, kita dulu juga berpikir simpel, > > guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tapi hidupnya suka terhina, > > masa ada guru yang jadi ojek, alasanya untuk biaya hidup, kasian juga > > ya > > > salut sama oemar bakri > > Saya ingat satu film ketika saya masih SD (artinya sebelum tahun 80). Film > itu dapat banyak penghargaan, yg main "Mang Udel". Ceritanya tentang guru > yang jujur dan mengabdi (pokoknya guru yg ideal lah). Suatu saat dia > mendapat kemalangan dan harus mengeluarkan duit yg besar. Dia meminta > bantuan sana sini, tidak ada yg memberi dan akhirnya menjual kertas milik > sekolah (tentu saja ini salah). > > Seingat saya akhirnya dia dipecat dari pekerjaan guru (atau dipenjara saya > lupa). > > Nah kurang lebih seperti itulah nasib guru/dosen di Indonesia (dosen > mungkin lebih baik). Diharapkan ideal tapi jarang dibantu oleh > masyarakatnya. > > IMW > > NB : walau saya sudah menonton dan film itu berkesan, tapi tidak membuat > saya kapok utk jadi guru/dosen > > > > * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- > * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id > * Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] > * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] > * Administrator: [EMAIL PROTECTED] > > * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id * Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Administrator: [EMAIL PROTECTED]
