Antara Kopi dan Cangkirnya
Salah satu kebiasaan saya adalah membaca berbagai buku, artikel dan majalah 
yang memperkaya jiwa. 
Saya memilih melakukan hal ini dari pada menghabiskan waktu sekedar membaca 
berita selebritis. 
Kali ini artikel di layar monitorku berasal dari salah seorang teman di milis 
alumni kampus. 
Kubaca pelan-pelan, karena dari awal isinya sudah menawarkan kedalaman.
Berikut isi imel tersebut, yang ternyata dikutip dari SWA 16/XX1I/10-23 Agustus 
2006.
Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang 
profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. 
Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan 
menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. 
Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada 
berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.
Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. 
Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, 
kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka 
miliki dan duduki.
Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari 
mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka pakai. 
Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni 
kehilangan makna hidup. 
Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam 
menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. 
They have money but not life.
Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi 
hangat dan seperangkat cangkir. 
Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina 
oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan 
untuk perlengkapan perkemahan sederhana. 
" Serve yourself, " kata profesor, memecah kegerahan suasana. 
Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang 
melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang 
profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.
" Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan 
indah. 
Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. 
Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan 
wajar. 
Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak 
dapat menikmati hidup ? " sang profesor memulai wejangannya. 
" Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in 
society are the cups. 
They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of 
life. 
Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee 
provided, " kali ini kalimatnya mulai menekan hati. 
" So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead, " demikian ia 
berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.
Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, 
saya ikut tertegun. 
Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi 
mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. 
Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan 
memutarbalikkan kopi dan cangkir. 
Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.
Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat 
dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. 
Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya 
bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. 
Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin 
bercahaya.
Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi enak. 
Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. 
Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. 
Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. 
Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. 
Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi 
kopi. 
Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.
Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup yang 
terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan 
kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih 
mahal lagi. 
Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak 
enaknya dengan cangkir yang mahal. 
Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan 
angkat. 
Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban 
gempa di Yogyakarta. 
Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental 
development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. 
Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community 
development yang wah. 
Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai 
kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.
Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, 
semakin enak dan menjadi sangat enak. 
Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan 
eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. 
Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi 
acap sebaliknya. 
Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari 
yang keras. 
la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan 
kebiasaan. 
Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah 
bersalah kala disuap. 
Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan 
pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. 
Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.
Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, 
"Take no thought for your life, 
what you shall eat or drink, 
nor your body what you shall put on. 
Is not the life more than meat and the body than raiment ? " 
Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal 
seharusnya kita fokus pada kopi.
Imel itu diakhiri dengan seruan sederhana 
Enjoy your coffee, my friend ! 
Saya pun merasakan adanya sindiran halus dari imel tadi. 
Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak 
penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. 
Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun 
sering kali seseorang lupa.
Masih sambil menatap kosong ke layar monitor, 
Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu. 
Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini saya 
abaikan.

Mudah"an tergiang dihati para sobat
Salam Kopi siang"
Hehehehehe


Sent from my BlackBerry@ blueninja_roqib-atib.. nga kenceng..kenceng..cenggg..

Kirim email ke