Nice Post bro

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of PJ_Boy 34
Sent: 29 Oktober 2009 10:17
To: [email protected]
Subject: [NOC] Renungan Siang Hari Ini

 

  

Antara Kopi dan Cangkirnya
Salah satu kebiasaan saya adalah membaca berbagai buku, artikel dan majalah
yang memperkaya jiwa. 
Saya memilih melakukan hal ini dari pada menghabiskan waktu sekedar membaca
berita selebritis. 
Kali ini artikel di layar monitorku berasal dari salah seorang teman di
milis alumni kampus. 
Kubaca pelan-pelan, karena dari awal isinya sudah menawarkan kedalaman.
Berikut isi imel tersebut, yang ternyata dikutip dari SWA 16/XX1I/10-23
Agustus 2006.
Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang
profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. 
Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan
menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. 
Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara
pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan
ini.
Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. 
Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi,
kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang
mereka miliki dan duduki.
Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas
dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka
pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat,
yakni kehilangan makna hidup. 
Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam
menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. 
They have money but not life.
Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi
hangat dan seperangkat cangkir. 
Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina
oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan
untuk perlengkapan perkemahan sederhana. 
" Serve yourself, " kata profesor, memecah kegerahan suasana. 
Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang
melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang
profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.
" Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal
dan indah. 
Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. 
Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal
dan wajar. 
Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak
dapat menikmati hidup ? " sang profesor memulai wejangannya. 
" Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in
society are the cups. 
They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality
of life. 
Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee
provided, " kali ini kalimatnya mulai menekan hati. 
" So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead, " demikian ia
berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.
Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan
akrabnya, saya ikut tertegun. 
Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi
mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. 
Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan
memutarbalikkan kopi dan cangkir. 
Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang
cantik.
Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita
lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. 
Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya
bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. 
Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin
bercahaya.
Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi
enak. 
Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. 
Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan.

Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. 
Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. 
Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk
membenahi kopi. 
Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin
ketinggalan.
Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup
yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai
dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang
lebih mahal lagi. 
Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa
tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. 
Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh
dan angkat. 
Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban
gempa di Yogyakarta. 
Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental
development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. 
Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community
development yang wah. 
Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai
kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan
bau.
Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih
enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. 
Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal
dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. 
Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi
acap sebaliknya. 
Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi
hari-hari yang keras. 
la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan
kebiasaan. 
Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah
bersalah kala disuap. 
Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan
pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. 
Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.
Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, 
"Take no thought for your life, 
what you shall eat or drink, 
nor your body what you shall put on. 
Is not the life more than meat and the body than raiment ? " 
Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir
padahal seharusnya kita fokus pada kopi.
Imel itu diakhiri dengan seruan sederhana 
Enjoy your coffee, my friend ! 
Saya pun merasakan adanya sindiran halus dari imel tadi. 
Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak
penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. 
Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun
sering kali seseorang lupa.
Masih sambil menatap kosong ke layar monitor, 
Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu. 
Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini
saya abaikan.

Mudah"an tergiang dihati para sobat
Salam Kopi siang"
Hehehehehe


Sent from my BlackBerry@ blueninja_roqib-atib.. nga
kenceng..kenceng..cenggg..



Kirim email ke