panjang amat ded... bikin bb lemot nih.. wkwkwkwkwkkwwk baca dlu ahhh
2009/10/29 PJ_Boy 34 <[email protected]> > > > Antara Kopi dan Cangkirnya > Salah satu kebiasaan saya adalah membaca berbagai buku, artikel dan majalah > yang memperkaya jiwa. > Saya memilih melakukan hal ini dari pada menghabiskan waktu sekedar membaca > berita selebritis. > Kali ini artikel di layar monitorku berasal dari salah seorang teman di > milis alumni kampus. > Kubaca pelan-pelan, karena dari awal isinya sudah menawarkan kedalaman. > Berikut isi imel tersebut, yang ternyata dikutip dari SWA 16/XX1I/10-23 > Agustus 2006. > Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah > seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak > didengarkan. > Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan > menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. > Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara > pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan > ini. > Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. > Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, > kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang > mereka miliki dan duduki. > Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas > dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka > pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, > yakni kehilangan makna hidup. > Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin > dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. > They have money but not life. > Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi > hangat dan seperangkat cangkir. > Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina > oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan > untuk perlengkapan perkemahan sederhana. > " Serve yourself, " kata profesor, memecah kegerahan suasana. > Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang > melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang > profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya. > " Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal > dan indah. > Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. > Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal > dan wajar. > Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak > dapat menikmati hidup ? " sang profesor memulai wejangannya. > " Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position > in society are the cups. > They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality > of life. > Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee > provided, " kali ini kalimatnya mulai menekan hati. > " So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead, " demikian ia > berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama. > Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan > akrabnya, saya ikut tertegun. > Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi > mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. > Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan > memutarbalikkan kopi dan cangkir. > Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang > cantik. > Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita > lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. > Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya > bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. > Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, > semakin bercahaya. > Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi > enak. > Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. > Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah > kepemilikan. > Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. > Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. > Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk > membenahi kopi. > Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin > ketinggalan. > Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup > yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai > dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang > lebih mahal lagi. > Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa > tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. > Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh > dan angkat. > Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban > gempa di Yogyakarta. > Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental > development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. > Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community > development yang wah. > Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai > kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan > bau. > Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih > enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. > Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal > dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. > Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang > terjadi acap sebaliknya. > Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi > hari-hari yang keras. > la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan > kebiasaan. > Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah > bersalah kala disuap. > Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan > pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. > Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan. > Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, > "Take no thought for your life, > what you shall eat or drink, > nor your body what you shall put on. > Is not the life more than meat and the body than raiment ? " > Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir > padahal seharusnya kita fokus pada kopi. > Imel itu diakhiri dengan seruan sederhana > Enjoy your coffee, my friend ! > Saya pun merasakan adanya sindiran halus dari imel tadi. > Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak > penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. > Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun > sering kali seseorang lupa. > Masih sambil menatap kosong ke layar monitor, > Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu. > Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini > saya abaikan. > > Mudah"an tergiang dihati para sobat > Salam Kopi siang" > Hehehehehe > > > Sent from my BlackBerry@ blueninja_roqib-atib.. nga > kenceng..kenceng..cenggg.. > > -- Ronald Ninja RR RED NOC#008

