Salam,
Membaca tulisan ini, supaya tidak berdosa sebaiknya yang mengaku beragama Islam 
TIDAK MEMILIH alias GOLPUT.  Karena katanya menurut Qur'an tidak boleh memilih 
orang/pemimpin  yang dekat Yahudi dan Kristen.Juga tidak boleh memilih orang 
yang DIANGGAP menghina  agama Islam.Sedang wakil dari orang Islam sendiri tidak 
ada karena tak bermutu dan TIDAK LAKU.INI ADALAH SIKAP YANG TERBAIK. Yaapaya?
Wasasalam ,
Wal Suparmo
,


--- Pada Sab, 4/7/09, rifky pradana <[email protected]> menulis:

Dari: rifky pradana <[email protected]>
Topik: -:: Milist NB::- Pemimpin sahabatnya Yahudi.
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Sabtu, 4 Juli, 2009, 1:28 PM











    
            
            


      
      Usai sudah kampanye pilpres. Klimaksnya
tadi malam di acara debat capres di sebuah stasiun telivisi antara
Megawati,SBY, dan JK.. Debat putaran ketiga itu, umat akan dapat menyimpulkan
terhadap capres yang ada, bagaimana ketiganya secara personal.  

   

Diantara ketiganya secara objektif dapat
dinilai, kelayakan mereka memimpin negara yang akan datang. Masing-masing
menampilkan sisi-sisi pandang dengan latar belakang pribadinya.  

   

Siapa diantara mereka yang layak dan
berhak dipilih serta diberi amanah oleh umat ?. 

   

Debat antara capres dan cawapres di
telivisi tidak segalanya. Memang sepintas dan selintas sudah terlihat kemampuan
kepemimpinan masing-masing, pandangannya terhadap berbagai masalah, cara mereka
mensikapinya, dan sekaligus kepribadiannya.  

   

Apa yang berlangsung secara singkat debat
di telivisi itu, membuktikan hakekat pribadi dan karakter mereka masing-masing.
Dari mulai substansi bicaranya, mimik dan gaya bicaranya, dan
ekpressi-ekspressi emosinya, semuanya nampak jelas. Tidak ada lagi yang
tertutupi. Umat dapat berinteraksi langsung dengan cara melihat acara debat
itu.



 

Masa depan Indonesia membutuhkan tipologi
pemimpin seperti apa ?. 

   

Indonesia yang sudah merdeka sejak tahun
1945, dan kini tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang lebih
akhir kemerdekaannya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja
dan Philipina.  

   

Mereka bisa lebih maju dibandingkan dengan
Indonesia, yang memiliki sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang
melimpah, tapi para pemimpinnya gagal dan tidak dapat mendayagunakan semua
potensi yang dimilikinya.  

   

Sehingga, semua potensi itu, semuanya
menjadi ‘mubazir’. Malah Indonesia mengalami kemunduran. 

   

Debat capres dan cawapres yang
diselenggarakan oleh KPU itu, menyangkut aspek-aspek yang mendasar bagi masa
depan bangsa. Masing-masing capres dan cawapres sudah menegaskan pandangannya,
yang berkaitan dengan visi, misi, dan masalah-masalah pokok yang dihadapi
bangsa, seperti kadaulatan negara, sistem demokrasi, hak-hak rakyat, birokrasi
pemerintahan, pendidikan, kesehatan, otonomi daerah, dan penegakkan hukum,
serta aspek kemandirian bangsa. 

   

Siapa diantara mereka yang memiliki
komitment dengan sungguh-sungguh dan akan memenuinya ?. 

   

Tiga capres Megawati, SBY, dan JK telah
menunjukkan dihadapan bangsa Indonesia serta umat, bagaimana sebenarnya
komitment mereka itu, berkaitan dengan masalah-masalah pokok itu. 

   

Siapa diantara mereka yang sanggup
mengejar ketertinggalan bangsa ini, dan sekaligus menyelesaikan
persoalan-persoalan umat, serta meletakkan posisi Indonesia yang terhormat di
dalam pergaulan internasional ?. 

   

Megawati sudah pernah berkuasa dan
mengelola negara.  

   

SBY sudah berkuasa dan terlibat dalam
pegelolaan negara.  

   

JK menjadi wakil presiden dan terlibat
dalam pengelolaan negara. Umat dan bangsa ini sudah dapat menilai secara
objektif dan jelas, tentang hasil apa selama mereka berkuasa.  

   

Umat dan bangsa ini tidak seharusnya lagi
bisa dimanipulasi hanya lewat iklan, dan berbagai kampanye yang penuh retorika,
yang tidak sepenuhnya dapat menjadi dasar ukuran memilih. 

   

Ada persoalan yang mendasar di dalam acara
debat capres tadi malam, yang dipersoalkan JK, berkaitan dengan iklan pemilu
presiden satu putaran. Iklan ini tak lain dibuat oleh LSI (Lingkaran Survei
Indonesia), yang dipimpin Denny JA, yang mempunyai afiliasi dengan Fox, yang
merupakan lembaga Konsultan dari Tim Sukses pasangan SBY-Boediono. 

   

Menurut JK, iklan pemilu presiden satu
putaran telah mendudukan demokrasi dalam pandangan uang semata. “Saya 
menyesalkan demokrasi yang dinilai
dengan uang”, ucap JK.  

   

Lebih lanjut, jika alasannya penghematan
dana, lanjut JK, dia sejak tahun 2008 telah meminta KPU menekan anggaran biaya.
Biaya pemilu yang diajukan KPU Rp. 45 trilyun pun dapat ditekan hanya menjadi
Rp. 20 trilyun.  

   

JK kawatir jika pada 2014 ada iklan untuk
‘lanjutkan terus’, tanpa pemilu karena itu akan menghemat
Rp. 25 trilyun.  

   

Artinya, sejarah politik di Indonesia kembali ke zaman Orde Baru, di mana
kekuasaan tidak pernah berganti dari tangan satu orang. 

   

Persoalan lainnya, buruknya tentang DPT,
karena masih ada 49 juta pemilih yang belum tercantum dalam DPT. Ini juga
menjadi persoalan dalam debat para capres tadi malam..  

   

Namun, JK menyatakan, bukan semata-mata
masalah buruknya birokrasi pemerintahan, tapi lebih mendasar lagi, yaitu hak 
politik rakyat bukan hanya persoalan
DPT, dan yang paling penting adalah adanya
jaminan atas hak rakyat menyampaikan aspirasinya.  

   

Jika banyak yang tidak dapat menyampaikan
aspirasinya, maka implikasinya terhadap siapapun yang terpilih memimpin bangsa,
pasti akan memiliki legitimasi yang rendah. 

   

Perdebatan malam itu, menjadi lebih fokus
lagi, ketika JK, menegaskan keterkaitan dengan Bhineka Tunggal Ika, di mana
putra kelahiran Watampone itu, menyatakan salah satu suku tidak layak memimpin
bangsa Indonesia adalah pandangan yang rasialis.  

   

JK mengajak semua fihak berpikir jernih
tidak picik. Memang, sekarang ini dikembangkan seolah-olah hanya suku tertentu 
yang berhak memimpin bangsa Indonesia
ini. 

   

Ukurannya sistem meritokrasi, bukan
berdasarkan superioritas suku mayoritas. Sehingga, menafikan suku-suku lainnya,
dan ini seperti disampaikan ketika berlangsung kampanye cawapres Boediono di
Makassar, di mana Andi Mallarangeng mengatakan suku Sulawesi belum waktunya
memimpin bangsa ini. Dan, Andi mengajak rakyat Sulawesi memilih pasangan
SBY-Boediono.  Pandangan-pandangan yang sangat rasialis ini dikembangkan. 

   

Tujuannyan meniadakan calon-calon lainnya,
yang bukan dari suku mayoritas (Jawa). Tentu, setiap capres mempunyai peluang
yang sama, tidak semata-mata didasarkan asal-usul suku, tapi seperti dikatakan
SBY, yang menjadi asas adalah sistem meritokrasi. 

   

Umat perlu menentukan sikapnya dengan
pedoman,  

pertama
tidak memilih pemimpin yang menjadikan
orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setianya (Qur’an, al-Maidah : 51),  

dan pemimpin yang suka memperolok-olokan atau menjadikan agama
sebagai ejekan, dan permainan (Qur’an, al-Maidah :57),  

dan umat dapat menentukan pilihan kepada
pemimpin yang memiliki seperti digambarkan al-Qur’an,surah al-Mu’minun, ayat
1-11. 

   

Sifat-sifat terpuji yang bersumber dari
pandangan al-Qur’an yang harus dimiliki seorang pemimpin inilah yang akan dapat
menyelamatkan bangsa dan ummat ini.  

   

Jika tidak ada syarat atau kriteria
seperti diatas, maka umat perlu ‘tawakuf’
(berhenti) tidak terlibat dalam kegitan politik (siyasah). 

   

Walahu’alam. 

   

Artikel ini dapat dibaca di : 

Siapa Layak dan Berhak Dipilih Umat? 

http://www.eramusli m.com/editorial/ siapa-layak- dan-berhak- dipilih-umat. htm 

   

*** 

 Profile: Susilo Bambang Yudhoyono.http://english. aljazeera. .net/archive/ 
2004/07/20084913 557888718. html ***








      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke