pak wal Suparno jangan gitu dong !!. sutejo jiwo sampai berani sumpah atas nama 
istrinya yang almarhum. pokoknya JK.
padahal beliau sendiri omong dulu dia kaga percaya siapa2 (Golput ). berani 
sumpah kaga dibayar !!!! benaran pak !!!
iklannya gitu koq.
masa sekarang gantian, dia milih,yang lain golput.
 kalau iya mau golput. ngapain cape2ngurusin yang DPT kaga beres itu,toh anggap 
saja ada 25 juta penduduk golput!! sama toh !!!


  ----- Original Message ----- 
  From: Wal Suparmo 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, July 04, 2009 2:54 PM
  Subject: Bls: -:: Milist NB::- Pemimpin sahabatnya Yahudi.





        Salam,
        Membaca tulisan ini, supaya tidak berdosa sebaiknya yang mengaku 
beragama Islam TIDAK MEMILIH alias GOLPUT.  Karena katanya menurut Qur'an tidak 
boleh memilih orang/pemimpin  yang dekat Yahudi dan Kristen.Juga tidak boleh 
memilih orang yang DIANGGAP menghina  agama Islam.Sedang wakil dari orang Islam 
sendiri tidak ada karena tak bermutu dan TIDAK LAKU.INI ADALAH SIKAP YANG 
TERBAIK. Yaapaya?
        Wasasalam ,
        Wal Suparmo
        ,


        --- Pada Sab, 4/7/09, rifky pradana <[email protected]> menulis:


          Dari: rifky pradana <[email protected]>
          Topik: -:: Milist NB::- Pemimpin sahabatnya Yahudi.
          Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
          Tanggal: Sabtu, 4 Juli, 2009, 1:28 PM



          Usai sudah kampanye pilpres. Klimaksnya tadi malam di acara debat 
capres di sebuah stasiun telivisi antara Megawati,SBY, dan JK.. Debat putaran 
ketiga itu, umat akan dapat menyimpulkan terhadap capres yang ada, bagaimana 
ketiganya secara personal. 



          Diantara ketiganya secara objektif dapat dinilai, kelayakan mereka 
memimpin negara yang akan datang. Masing-masing menampilkan sisi-sisi pandang 
dengan latar belakang pribadinya. 



          Siapa diantara mereka yang layak dan berhak dipilih serta diberi 
amanah oleh umat ?.



          Debat antara capres dan cawapres di telivisi tidak segalanya. Memang 
sepintas dan selintas sudah terlihat kemampuan kepemimpinan masing-masing, 
pandangannya terhadap berbagai masalah, cara mereka mensikapinya, dan sekaligus 
kepribadiannya. 



          Apa yang berlangsung secara singkat debat di telivisi itu, 
membuktikan hakekat pribadi dan karakter mereka masing-masing. Dari mulai 
substansi bicaranya, mimik dan gaya bicaranya, dan ekpressi-ekspressi emosinya, 
semuanya nampak jelas. Tidak ada lagi yang tertutupi. Umat dapat berinteraksi 
langsung dengan cara melihat acara debat itu.



          Masa depan Indonesia membutuhkan tipologi pemimpin seperti apa ?.



          Indonesia yang sudah merdeka sejak tahun 1945, dan kini tertinggal 
dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang lebih akhir kemerdekaannya, 
seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Philipina. 



          Mereka bisa lebih maju dibandingkan dengan Indonesia, yang memiliki 
sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang melimpah, tapi para pemimpinnya 
gagal dan tidak dapat mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya. 



          Sehingga, semua potensi itu, semuanya menjadi ‘mubazir’. Malah 
Indonesia mengalami kemunduran.



          Debat capres dan cawapres yang diselenggarakan oleh KPU itu, 
menyangkut aspek-aspek yang mendasar bagi masa depan bangsa. Masing-masing 
capres dan cawapres sudah menegaskan pandangannya, yang berkaitan dengan visi, 
misi, dan masalah-masalah pokok yang dihadapi bangsa, seperti kadaulatan 
negara, sistem demokrasi, hak-hak rakyat, birokrasi pemerintahan, pendidikan, 
kesehatan, otonomi daerah, dan penegakkan hukum, serta aspek kemandirian bangsa.



          Siapa diantara mereka yang memiliki komitment dengan sungguh-sungguh 
dan akan memenuinya ?.



          Tiga capres Megawati, SBY, dan JK telah menunjukkan dihadapan bangsa 
Indonesia serta umat, bagaimana sebenarnya komitment mereka itu, berkaitan 
dengan masalah-masalah pokok itu.



          Siapa diantara mereka yang sanggup mengejar ketertinggalan bangsa 
ini, dan sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan umat, serta meletakkan 
posisi Indonesia yang terhormat di dalam pergaulan internasional ?.



          Megawati sudah pernah berkuasa dan mengelola negara. 



          SBY sudah berkuasa dan terlibat dalam pegelolaan negara. 



          JK menjadi wakil presiden dan terlibat dalam pengelolaan negara. Umat 
dan bangsa ini sudah dapat menilai secara objektif dan jelas, tentang hasil apa 
selama mereka berkuasa. 



          Umat dan bangsa ini tidak seharusnya lagi bisa dimanipulasi hanya 
lewat iklan, dan berbagai kampanye yang penuh retorika, yang tidak sepenuhnya 
dapat menjadi dasar ukuran memilih.



          Ada persoalan yang mendasar di dalam acara debat capres tadi malam, 
yang dipersoalkan JK, berkaitan dengan iklan pemilu presiden satu putaran. 
Iklan ini tak lain dibuat oleh LSI (Lingkaran Survei Indonesia), yang dipimpin 
Denny JA, yang mempunyai afiliasi dengan Fox, yang merupakan lembaga Konsultan 
dari Tim Sukses pasangan SBY-Boediono.



          Menurut JK, iklan pemilu presiden satu putaran telah mendudukan 
demokrasi dalam pandangan uang semata. “Saya menyesalkan demokrasi yang dinilai 
dengan uang”, ucap JK. 



          Lebih lanjut, jika alasannya penghematan dana, lanjut JK, dia sejak 
tahun 2008 telah meminta KPU menekan anggaran biaya. Biaya pemilu yang diajukan 
KPU Rp. 45 trilyun pun dapat ditekan hanya menjadi Rp. 20 trilyun. 



          JK kawatir jika pada 2014 ada iklan untuk ‘lanjutkan terus’, tanpa 
pemilu karena itu akan menghemat Rp. 25 trilyun. 



          Artinya, sejarah politik di Indonesia kembali ke zaman Orde Baru, di 
mana kekuasaan tidak pernah berganti dari tangan satu orang.



          Persoalan lainnya, buruknya tentang DPT, karena masih ada 49 juta 
pemilih yang belum tercantum dalam DPT. Ini juga menjadi persoalan dalam debat 
para capres tadi malam.. 



          Namun, JK menyatakan, bukan semata-mata masalah buruknya birokrasi 
pemerintahan, tapi lebih mendasar lagi, yaitu hak politik rakyat bukan hanya 
persoalan DPT, dan yang paling penting adalah adanya jaminan atas hak rakyat 
menyampaikan aspirasinya. 



          Jika banyak yang tidak dapat menyampaikan aspirasinya, maka 
implikasinya terhadap siapapun yang terpilih memimpin bangsa, pasti akan 
memiliki legitimasi yang rendah.



          Perdebatan malam itu, menjadi lebih fokus lagi, ketika JK, menegaskan 
keterkaitan dengan Bhineka Tunggal Ika, di mana putra kelahiran Watampone itu, 
menyatakan salah satu suku tidak layak memimpin bangsa Indonesia adalah 
pandangan yang rasialis. 



          JK mengajak semua fihak berpikir jernih tidak picik. Memang, sekarang 
ini dikembangkan seolah-olah hanya suku tertentu yang berhak memimpin bangsa 
Indonesia ini.



          Ukurannya sistem meritokrasi, bukan berdasarkan superioritas suku 
mayoritas. Sehingga, menafikan suku-suku lainnya, dan ini seperti disampaikan 
ketika berlangsung kampanye cawapres Boediono di Makassar, di mana Andi 
Mallarangeng mengatakan suku Sulawesi belum waktunya memimpin bangsa ini. Dan, 
Andi mengajak rakyat Sulawesi memilih pasangan SBY-Boediono.  
Pandangan-pandangan yang sangat rasialis ini dikembangkan.



          Tujuannyan meniadakan calon-calon lainnya, yang bukan dari suku 
mayoritas (Jawa). Tentu, setiap capres mempunyai peluang yang sama, tidak 
semata-mata didasarkan asal-usul suku, tapi seperti dikatakan SBY, yang menjadi 
asas adalah sistem meritokrasi.



          Umat perlu menentukan sikapnya dengan pedoman, 

          pertama tidak memilih pemimpin yang menjadikan orang Yahudi dan 
Nashrani sebagai teman setianya (Qur’an, al-Maidah : 51), 

          dan pemimpin yang suka memperolok-olokan atau menjadikan agama 
sebagai ejekan, dan permainan (Qur’an, al-Maidah :57), 

          dan umat dapat menentukan pilihan kepada pemimpin yang memiliki 
seperti digambarkan al-Qur’an,surah al-Mu’minun, ayat 1-11.



          Sifat-sifat terpuji yang bersumber dari pandangan al-Qur’an yang 
harus dimiliki seorang pemimpin inilah yang akan dapat menyelamatkan bangsa dan 
ummat ini. 



          Jika tidak ada syarat atau kriteria seperti diatas, maka umat perlu 
‘tawakuf’ (berhenti) tidak terlibat dalam kegitan politik (siyasah).



          Walahu’alam.



          Artikel ini dapat dibaca di :

          Siapa Layak dan Berhak Dipilih Umat?

          http://www.eramusli m.com/editorial/ siapa-layak- dan-berhak- 
dipilih-umat. htm



          ***



          Profile: Susilo Bambang Yudhoyono.

          http://english. aljazeera. .net/archive/ 2004/07/20084913 557888718. 
html



          ***




















       




------------------------------------------------------------------------------
  Nama baru untuk Anda! 
  Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan 
@rocketmail. 
  Cepat sebelum diambil orang lain!

  

Kirim email ke