Oh....maaf- maaf. ingatnya itu. 
iya maaf salah ingat. tapi koq ngapin bawa2 nama ibu buat soal begituan sih ???
suka2.....iya ya...suka2 lagi........
memang banyak cara orang mengekpresikan idolanya dan pilihannya.
salah satunya gitu kali.
adanya potong rambutnya sampai model2 pilihannya.
ada yang pakai cap jempol darah segala.
mudah2an ada perubahan setelah pilpres ini.


  ----- Original Message ----- 
  From: pita 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, July 06, 2009 4:32 PM
  Subject: Re: -:: Milist NB::- Pemimpin sahabatnya Yahudi.





   

  Bukan Alm Istrinya pak,
  tapi Ibunya....Alm Sulastri



    ----- Original Message ----- 
    From: Tan (Lionwings) 
    To: [email protected] 
    Sent: Monday, July 06, 2009 4:17 PM
    Subject: Re: -:: Milist NB::- Pemimpin sahabatnya Yahudi.


     



    pak wal Suparno jangan gitu dong !!. sutejo jiwo sampai berani sumpah atas 
nama istrinya yang almarhum. pokoknya JK.
    padahal beliau sendiri omong dulu dia kaga percaya siapa2 (Golput ). berani 
sumpah kaga dibayar !!!! benaran pak !!!
    iklannya gitu koq.
    masa sekarang gantian, dia milih,yang lain golput.
     kalau iya mau golput. ngapain cape2ngurusin yang DPT kaga beres itu,toh 
anggap saja ada 25 juta penduduk golput!! sama toh !!!


      ----- Original Message ----- 
      From: Wal Suparmo 
      To: [email protected] 
      Sent: Saturday, July 04, 2009 2:54 PM
      Subject: Bls: -:: Milist NB::- Pemimpin sahabatnya Yahudi.


            Salam,
            Membaca tulisan ini, supaya tidak berdosa sebaiknya yang mengaku 
beragama Islam TIDAK MEMILIH alias GOLPUT.  Karena katanya menurut Qur'an tidak 
boleh memilih orang/pemimpin  yang dekat Yahudi dan Kristen.Juga tidak boleh 
memilih orang yang DIANGGAP menghina  agama Islam.Sedang wakil dari orang Islam 
sendiri tidak ada karena tak bermutu dan TIDAK LAKU.INI ADALAH SIKAP YANG 
TERBAIK. Yaapaya?
            Wasasalam ,
            Wal Suparmo
            ,


            --- Pada Sab, 4/7/09, rifky pradana <[email protected]> menulis:


              Dari: rifky pradana <[email protected]>
              Topik: -:: Milist NB::- Pemimpin sahabatnya Yahudi.
              Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
              Tanggal: Sabtu, 4 Juli, 2009, 1:28 PM



              Usai sudah kampanye pilpres. Klimaksnya tadi malam di acara debat 
capres di sebuah stasiun telivisi antara Megawati,SBY, dan JK.. Debat putaran 
ketiga itu, umat akan dapat menyimpulkan terhadap capres yang ada, bagaimana 
ketiganya secara personal. 



              Diantara ketiganya secara objektif dapat dinilai, kelayakan 
mereka memimpin negara yang akan datang. Masing-masing menampilkan sisi-sisi 
pandang dengan latar belakang pribadinya. 



              Siapa diantara mereka yang layak dan berhak dipilih serta diberi 
amanah oleh umat ?.



              Debat antara capres dan cawapres di telivisi tidak segalanya. 
Memang sepintas dan selintas sudah terlihat kemampuan kepemimpinan 
masing-masing, pandangannya terhadap berbagai masalah, cara mereka 
mensikapinya, dan sekaligus kepribadiannya. 



              Apa yang berlangsung secara singkat debat di telivisi itu, 
membuktikan hakekat pribadi dan karakter mereka masing-masing. Dari mulai 
substansi bicaranya, mimik dan gaya bicaranya, dan ekpressi-ekspressi emosinya, 
semuanya nampak jelas. Tidak ada lagi yang tertutupi. Umat dapat berinteraksi 
langsung dengan cara melihat acara debat itu.



              Masa depan Indonesia membutuhkan tipologi pemimpin seperti apa ?.



              Indonesia yang sudah merdeka sejak tahun 1945, dan kini 
tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang lebih akhir 
kemerdekaannya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja dan 
Philipina. 



              Mereka bisa lebih maju dibandingkan dengan Indonesia, yang 
memiliki sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang melimpah, tapi para 
pemimpinnya gagal dan tidak dapat mendayagunakan semua potensi yang 
dimilikinya. 



              Sehingga, semua potensi itu, semuanya menjadi ‘mubazir’. Malah 
Indonesia mengalami kemunduran.



              Debat capres dan cawapres yang diselenggarakan oleh KPU itu, 
menyangkut aspek-aspek yang mendasar bagi masa depan bangsa. Masing-masing 
capres dan cawapres sudah menegaskan pandangannya, yang berkaitan dengan visi, 
misi, dan masalah-masalah pokok yang dihadapi bangsa, seperti kadaulatan 
negara, sistem demokrasi, hak-hak rakyat, birokrasi pemerintahan, pendidikan, 
kesehatan, otonomi daerah, dan penegakkan hukum, serta aspek kemandirian bangsa.



              Siapa diantara mereka yang memiliki komitment dengan 
sungguh-sungguh dan akan memenuinya ?.



              Tiga capres Megawati, SBY, dan JK telah menunjukkan dihadapan 
bangsa Indonesia serta umat, bagaimana sebenarnya komitment mereka itu, 
berkaitan dengan masalah-masalah pokok itu.



              Siapa diantara mereka yang sanggup mengejar ketertinggalan bangsa 
ini, dan sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan umat, serta meletakkan 
posisi Indonesia yang terhormat di dalam pergaulan internasional ?.



              Megawati sudah pernah berkuasa dan mengelola negara. 



              SBY sudah berkuasa dan terlibat dalam pegelolaan negara. 



              JK menjadi wakil presiden dan terlibat dalam pengelolaan negara. 
Umat dan bangsa ini sudah dapat menilai secara objektif dan jelas, tentang 
hasil apa selama mereka berkuasa. 



              Umat dan bangsa ini tidak seharusnya lagi bisa dimanipulasi hanya 
lewat iklan, dan berbagai kampanye yang penuh retorika, yang tidak sepenuhnya 
dapat menjadi dasar ukuran memilih.



              Ada persoalan yang mendasar di dalam acara debat capres tadi 
malam, yang dipersoalkan JK, berkaitan dengan iklan pemilu presiden satu 
putaran. Iklan ini tak lain dibuat oleh LSI (Lingkaran Survei Indonesia), yang 
dipimpin Denny JA, yang mempunyai afiliasi dengan Fox, yang merupakan lembaga 
Konsultan dari Tim Sukses pasangan SBY-Boediono.



              Menurut JK, iklan pemilu presiden satu putaran telah mendudukan 
demokrasi dalam pandangan uang semata. “Saya menyesalkan demokrasi yang dinilai 
dengan uang”, ucap JK. 



              Lebih lanjut, jika alasannya penghematan dana, lanjut JK, dia 
sejak tahun 2008 telah meminta KPU menekan anggaran biaya. Biaya pemilu yang 
diajukan KPU Rp. 45 trilyun pun dapat ditekan hanya menjadi Rp. 20 trilyun. 



              JK kawatir jika pada 2014 ada iklan untuk ‘lanjutkan terus’, 
tanpa pemilu karena itu akan menghemat Rp. 25 trilyun. 



              Artinya, sejarah politik di Indonesia kembali ke zaman Orde Baru, 
di mana kekuasaan tidak pernah berganti dari tangan satu orang.



              Persoalan lainnya, buruknya tentang DPT, karena masih ada 49 juta 
pemilih yang belum tercantum dalam DPT. Ini juga menjadi persoalan dalam debat 
para capres tadi malam.. 



              Namun, JK menyatakan, bukan semata-mata masalah buruknya 
birokrasi pemerintahan, tapi lebih mendasar lagi, yaitu hak politik rakyat 
bukan hanya persoalan DPT, dan yang paling penting adalah adanya jaminan atas 
hak rakyat menyampaikan aspirasinya. 



              Jika banyak yang tidak dapat menyampaikan aspirasinya, maka 
implikasinya terhadap siapapun yang terpilih memimpin bangsa, pasti akan 
memiliki legitimasi yang rendah.



              Perdebatan malam itu, menjadi lebih fokus lagi, ketika JK, 
menegaskan keterkaitan dengan Bhineka Tunggal Ika, di mana putra kelahiran 
Watampone itu, menyatakan salah satu suku tidak layak memimpin bangsa Indonesia 
adalah pandangan yang rasialis. 



              JK mengajak semua fihak berpikir jernih tidak picik. Memang, 
sekarang ini dikembangkan seolah-olah hanya suku tertentu yang berhak memimpin 
bangsa Indonesia ini.



              Ukurannya sistem meritokrasi, bukan berdasarkan superioritas suku 
mayoritas. Sehingga, menafikan suku-suku lainnya, dan ini seperti disampaikan 
ketika berlangsung kampanye cawapres Boediono di Makassar, di mana Andi 
Mallarangeng mengatakan suku Sulawesi belum waktunya memimpin bangsa ini. Dan, 
Andi mengajak rakyat Sulawesi memilih pasangan SBY-Boediono.  
Pandangan-pandangan yang sangat rasialis ini dikembangkan.



              Tujuannyan meniadakan calon-calon lainnya, yang bukan dari suku 
mayoritas (Jawa). Tentu, setiap capres mempunyai peluang yang sama, tidak 
semata-mata didasarkan asal-usul suku, tapi seperti dikatakan SBY, yang menjadi 
asas adalah sistem meritokrasi.



              Umat perlu menentukan sikapnya dengan pedoman, 

              pertama tidak memilih pemimpin yang menjadikan orang Yahudi dan 
Nashrani sebagai teman setianya (Qur’an, al-Maidah : 51), 

              dan pemimpin yang suka memperolok-olokan atau menjadikan agama 
sebagai ejekan, dan permainan (Qur’an, al-Maidah :57), 

              dan umat dapat menentukan pilihan kepada pemimpin yang memiliki 
seperti digambarkan al-Qur’an,surah al-Mu’minun, ayat 1-11.



              Sifat-sifat terpuji yang bersumber dari pandangan al-Qur’an yang 
harus dimiliki seorang pemimpin inilah yang akan dapat menyelamatkan bangsa dan 
ummat ini. 



              Jika tidak ada syarat atau kriteria seperti diatas, maka umat 
perlu ‘tawakuf’ (berhenti) tidak terlibat dalam kegitan politik (siyasah).



              Walahu’alam.



              Artikel ini dapat dibaca di :

              Siapa Layak dan Berhak Dipilih Umat?

              http://www.eramusli m.com/editorial/ siapa-layak- dan-berhak- 
dipilih-umat. htm



              ***



              Profile: Susilo Bambang Yudhoyono.

              http://english. aljazeera. .net/archive/ 2004/07/20084913 
557888718. html



              ***




















           




--------------------------------------------------------------------------
      Nama baru untuk Anda! 
      Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan 
@rocketmail. 
      Cepat sebelum diambil orang lain! 



  

Kirim email ke