Anak saya yang paling kecil bernyanyi
gembira. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu iklan kampanye pak JK. Di sini JK, 
di sana JK.  Anak saya senang banget dengan nyanyian itu
sampai-sampai anak saya lupa sama lagu indo mie, SBY presidenku. 
 
Ini bukan karangan saya, atau saya
mengada-ngada tetapi ini nyata dari apa yang saya lihat dan apa yang saya
dengar sendiri. 
 
Rupanya pak JK sedang naik daun,
Elektabilitasnya semakin naik, sampai-sampai anak saya Berlian, yang baru
berusia 6 tahun senang sekali dengan iklan lagunya pak JK yang lebih mengena di
kalangan rakyat banyak..

Entah mengapa setelah bapak Andi Malaranggeng mengatakan di dalam kampanyenya
bahwa orang Bugis belum saatnya menjadi presiden, membuat orang banyak menjadi 
tidak simpatik. 
 
Sebagai orang yang dilahirkan di Jakarta
dan berdarah Sunda (karena orang tua dari Bandung), saya sendiri merasakan
sesuatu yang tidak enak terdengar di telinga. Pak AM seolah-olah merendahkan
suku Bugis atau orang Makasar. Bagi saya yang bukan orang Makasar, tentu saya
sangat menyayangkan pernyataan beliau. 
 
Akhirnya, jangan salahkan bila suara pak
SBY kini mulai lari ke pak JK. Itu dikarenakan tim sukses pak SBY yang salah
dalam membuat pernyataan. 
 
Ingatlah, rakyat sekarang sudah cerdas
dalam memilih !.
 
Dulu saya adalah pendukung pak SBY, namun
karena saya melihat orang-orang yang berada di seputar pak SBY saat ini kurang
begitu oke, maka saya menjadi kurang bersimpatik. Contohnya seperti kasus pak
AM ini. 
 
Bagi saya pak SBY adalah figur yang sangat
disegani. Baik hati, santun dalam berbicara, dan banyak memberikan contoh
kepada kita untuk senantiasa berlaku sabar. Tidak cepat emosional dan menuduh
orang lain. 
 
Tetapi mendengar kampanye pak SBY kemarin
di istora Senayan Jakarta, membuat saya semakin mantap untuk memilih pak JK
menjadi presiden.
 
Selamat tinggal pak SBY, dan selamat
datang pak JK. 
 
Dari lubuk hati yang terdalam saya telah
menemukan sosok pemimpin yang sesungguhnya. 
 
Untuk menuliskan ini saya tidak dibayar,
tetapi dari pertarungan batin setelah melihat penderitaan rakyat yang begitu
besar di kepemimpinan pak SBY.
 
Banyak hal yang telah dibuat oleh seorang
Jusuf Kalla, sehingga saya sangat menyayangkan bila pak SBY memilih pasangan
lainnya. 
 
Menurut saya, beliau kurang berterima
kasih dengan pak JK. Beliau lupa bahwa beliau bisa seperti ini karena hasil
kerjasama dengan pak JK.
 
Dari hasil perenungan yang mendalam dan
setelah menyaksikan debat capres di televisi, mendengar, dan membaca dari
berbagai sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, dan bukan kampanye hitam,
ternyata pak JK jauh lebih baik daripada pak SBY. 
 
Bagaimana dengan anda ?.
 
Salam Blogger Kompasiana
 
Artikel ini dapat dibaca di :
Selamat Tinggal Pak SBY, dan Selamat Datang Pak JK
http://public.kompasiana.com/2009/07/05/selamat-tinggal-pak-sby-dan-selamat-datang-pak-jk/
 
***
   
Penyanyi Frangky Sahilatua menulis lirik
lagu. Judulnya KPU Busuk. Salah satu liriknya : Pemilu Sepanyol, Separuh 
Nyolong.
 
Mungkin syair itu berlebihan. Cuma, pelan2
saya mulai khawatir.
 
Saya ingin sekali pilpres ini berlangsung
aman. Bagaimanapun, pilpres telah mendidik masyarakat untuk menerima perbedaan,
salah satu pilar demokrasi. Selain itu, kita ingin, setelah pilpres, pemimpin
terpilih, siapapun dia, segera melaksanakan program dan janji2nya.
 
Hati nurani saya secara jujur sudah
memilih salah satu calon. Tapi saya akan mendukung siapapun pilihan rakyat. 
Semoga
pilpres berlangsung lancar. Bila ada masalah, semoga saja masih dalam batas2
yang bisa diterima masyarakat.
 
Hanya saja, harapan itu terganggu karena
beberapa gejala berikut :
 
1. KPU mengundang masyarakat untuk mencurigainya.
 
Masalah DPT belum beres. Bahkan Kompas
edisi Kamis menulis: “Hingga enam hari
menjelang pemilu presiden, daftar pemilih tetap yang seharusnya bukan dokumen
rahasia negara masih menjadi dokumen yang misterius.”
 
Sikap KPU yang tidak membuka dokumen DPT
seluas-luasnya, bahkan kepada tim resmi
kampanye capres, tentu saja mengundang kecurigaan. 
 
Apalagi, trauma rekayasa habis2an dalam
Pilkada Jatim belum hilang benar.
 
Kedua, soal
spanduk sosialiasi. Agak aneh bahwa KPU bisa “lalai” membuat spanduk yang
mengarahkan coblosan ke pasangan tertentu. 
 
Isi spanduk pasti sudah melewati check and
recheck, melewati prosedur administrasi di internal KPU (dari bawah hingga ke
pimpinan), bahkan telah melewati proses dari KPU ke percetakan. Setelah dicetak
pun, pasti spanduk itu harus dicek. Sudah dicetak, dicek lagi, sebelum keluar
perintah untuk memasangnya di jalan-jalan. 
 
Kok bisa lalai ?. Kok alasannya begitu
sederhana ?. Kok tidak ada sanksi apapun di internal KPU atas “kelalaian” itu ?.
 
Ketiga, sosialiasi coblosan. Blanko yang disiapkan KPU lagi2 mengundang
kecurigaan karena mengarahkan “sosialiasi” untuk mencoblos calon
tertentu. 
 
Permainan2 yang begitu vulgar agak mengusik semangat kita untuk
menyaksikan pilpres ini berlangsung fair.
 
2. Polri.
 
Seperti KPU, Polri mengundang masyarakat
untuk mencurigainya manakala terang2an tidak mau memproses sejumlah pengaduan 
Bawaslu. 
 
Agak aneh bila Polri menolak memproses pengaduan terkait
calon tertentu, tapi segera memproses manakala dugaan pelanggaran dilakukan 
calon
lain.
 
Polri telah membuang sebagian besar
tabungan kredibilitasnya dalam kasus pencopotan Kapolda Jawa Timur.
 
3. Lembaga survey.
 
Tadinya saya berharap lembaga survei
merawat citranya agar manakala ada kesangsian terhadap hasil yang dirilis KPU,
lembaga survei bisa menjadi semacam konfirmasi, semacam pembanding.
 
Masalahnya, sebagian masyarakat kita tidak
lagi seperti dulu, yang begitu percaya pada lembaga survei karena pengalaman
dan akurasi mereka. Proses pilpres ini telah menghancurkan kredibilitas itu,
setidaknya di sebagian kelompok masyarakat.
 
Sangat sulit mencari satu lembaga lembaga
survei yang bisa dipercaya masyarakat. 
 
Dalam situasi itu, hasil quick count
lembaga survei pada hari H coblosan berpotensi mengundang pertanyaan, apapun 
hasil
pilpres versi quick count lembaga survei.
 
4. Media Massa.
 
Masih ada harapan untuk beberapa media cetak, tapi tidak televisi. 
 
Bagaimana polling debat capres itu dipaku
mati hingga angka untuk calon tertentu tidak boleh di bawah 50 persen (untuk 
memperkuat kampanye satu putaran ?)
merupakan satu fakta penting yang menggerogoti kredibilitas TV.
 
Masalah2 itu muncul, yang menghantam
kredibilitas lembaga2 yang seharusnya bisa menjadi pegangan masyarakat, di
tengah kompetisi pilpres yang begini ketat. 
 
Tokoh2 terbelah antara mendukung capres
ini dan capres itu. 
 
Sulit menemukan tokoh yang bisa diterima
sebagai kekuatan moral oleh semua kelompok atau setidak2nya, sebagian besar
kelompok masyarakat.
 
Mungkin masalahnya tidak separah itu
–semoga.  
Saya tidak ingin lagu pemilu Sepanyol,
separuh nyolong menjadi populer.
 
Artikel ini dapat dibaca di :
Pilpres Sepanyol, Separuh Nyolong.
http://public.kompasiana.com/2009/07/05/pilpres-sepanyol-separuh-nyolong/
 
***


      

Kirim email ke