Pengantar "Menuju Kehidupan Sebenarnya"

Oleh Ihsan Tanjung
 Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: ”Pada saat 
manusia menemui kematiannya, maka iapun terbangun dari tidurnya.”
 Berarti, kehidupan kita di dunia ini laksana sebuah mimpi. Hal ini sejalan 
dengan firman Allah:
 وَمَا هَذِهِ 
الْحَيَاةُ 
الدُّنْيَا 
إِلَّا 
لَهْوٌ 
وَلَعِبٌ 
وَإِنَّ 
الدَّارَ 
الْآَخِرَةَ 
لَهِيَ 
الْحَيَوَانُ
 لَوْ كَانُوا 
يَعْلَمُونَ
 “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan 
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” 
(QS Al-Ankabut 64)
 Dalam kenyataan sehari-hari tidak sedikit manusia yang justru sangat serius 
dengan kehidupan dunia ini sambil memandang kehidupan akhirat -dengan derita 
neraka dan nikmat surganya- justru sebagai senda gurau dan main-main. Manusia 
sedemikian seriusnya ingin meraih kenikmatan dan keberhasilan dunia seolah itu 
semua merupakan kenikmatan dan keberhasilan final dan hakiki. Mereka berusaha 
sekuat mungkin menghindar dari kegagalan dan penderitaan dunia seolah itulah 
kegagalan dan penderitaan yang sejati.
 Padahal kehidupan di dunia telah Allah taqdirkan bagi setiap manusia. Ada yang 
ditaqdirkan menikmati ”mimpi menyenangkan” di dunia. Ia menjadi orang kaya, 
terpandang, dipuja-puji manusia banyak, serba berkecukupan sehingga hidupnya 
selalu berlimpah. Sementara ada yang di taqdirkan mengalami ”mimpi buruk” 
selama hidupnya di dunia. Ia menjadi orang miskin, serba berkekurangan, 
terpinggirkan, terabaikan bahkan teraniaya.
 Sedikit sekali manusia yang menyadari bahwa mimpi manapun yang dialaminya 
tidaklah menjadi persoalan penting. Kendati, sudah barang tentu, tidak ada 
manusia yang ingin menjalani kehidupan berupa mimpi buruk menjadi orang miskin, 
serba berkekurangan, terpinggirkan, terabaikan bahkan teraniaya. Demikian pula 
sebaliknya. Manusia mana yang menolak ditaqdirkan Allah menjalani kehidupan 
dalam bentuk mimpi menyenangkan menjadi orang kaya, terpandang, dipuja-puji 
manusia banyak, serba berkecukupan sehingga hidupnya selalu berlimpah. Tapi 
seorang mu’min sungguh sadar bahwa isyu utama yang perlu difikirkan adalah 
bagaimana nasibnya saat Allah mencabut nyawanya. Adapun jenis mimpi apa yang 
Allah taqdirkan bagi dirinya hanyalah sebuah ujian/testcase untuk melihat jenis 
respon apa yang bakal ditampilkannya. Persis seperti ucapan Nabi Muhammad saw 
sebagai berikut:
 عَجَبًا 
لِأَمْرِ 
الْمُؤْمِنِ 
إِنَّ 
أَمْرَهُ 
كُلَّهُ 
خَيْرٌ 
وَلَيْسَ 
ذَاكَ 
لِأَحَدٍ 
إِلَّا 
لِلْمُؤْمِنِ
 إِنْ 
أَصَابَتْهُ 
سَرَّاءُ 
شَكَرَ 
فَكَانَ 
خَيْرًا لَهُ
 وَإِنْ 
أَصَابَتْهُ 
ضَرَّاءُ 
صَبَرَ 
فَكَانَ 
خَيْرًا لَهُ
 “Urusan orang beriman itu menakjubkan. Sesungguhnya urusannya semua baik. Dan 
hal itu tidak dialami seorangpun kecuali orang beriman. Bila ia mendapat 
karunia, ia bersyukur. Maka bersyukur itu baik baginya. Bila ia mendapat 
mudharat, ia bersabar. Maka bersabar itu baik baginya.” (Muslim 14/280) 
 Alangkah bodohnya seseorang yang hidup di dunia dalam mimpi meyenangkan namun 
ia lalai akan saat kematian. Sehingga saat ia bangun dari mimpinya ia berada 
dalam kegelisahan dan penyesalan berkepanjangan. Apalagi orang yang hidup di 
dunia dan menjalani mimpi buruk. Lalu saat ia bangun menjalani hidupnya di 
akhirat, ternyata keadaannya lebih buruk lagi, penuh penyesalan dan penderitaan 
abadi. Demikianlah keadaan orang-orang yang tidak beriman akan kehidupan 
akhirat. Mereka menyangka hidup hanya di dunia semata. Mereka tertipu oleh 
dunia. Allah gambarkan logika berfikir mereka sebagai berikut:
 وَقَالُوا 
مَا هِيَ 
إِلَّا 
حَيَاتُنَا 
الدُّنْيَا 
نَمُوتُ 
وَنَحْيَا 
وَمَا 
يُهْلِكُنَا 
إِلَّا 
الدَّهْرُ 
 وَمَا لَهُمْ 
بِذَلِكَ 
مِنْ عِلْمٍ 
إِنْ هُمْ 
إِلَّا 
يَظُنُّونَ
 “Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia 
saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain 
masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka 
tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah 23-24)
 
 Sedangkan orang beriman sangat yakin dan selalu mempersiapkan dirinya 
menghadapi kehidupan sejati, yakni akhirat. Sebab mereka diberitahu Allah bahwa 
akhirat itulah yang hendaknya didambakan.
 تُرِيدُونَ 
عَرَضَ 
الدُّنْيَا 
وَاللَّهُ 
يُرِيدُ 
الْآَخِرَةَ
 “...kalian menghendaki harta benda dunia, sedangkan Allah menghendaki akhirat 
(untukmu)…” (QS Al-Anfal 67)
 Orang beriman sibuk bukan untuk masa tuanya di dunia. Tapi ia sibuk 
mempersiapkan berbagai investasi berupa ’amal ’ibadah dan ’amal sholeh untuk 
masa hidupnya yang sejati, yakni akhirat.
 الْكَيِّسُ 
مَنْ دَانَ 
نَفْسَهُ 
وَعَمِلَ 
لِمَا بَعْدَ 
الْمَوْتِ
 (الترمذي)
 “Orang yang paling cerdas ialah barangsiapa yang
 menghitung-hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal-perbuatan) dirinya
 dan ber’amal untuk kehidupan setelah kematian.”(At-Tirmidzi 8/499)
 Ia sangat terobsesi akan keberhasilannya di akhirat sehingga keberhasilannya 
di dunia menjadi sesuatu yang ia kejar secukupnya. Ia sangat sibuk menghindari 
kegagalan di akhirat sehingga berbagai kegagalan di dunia ia hindari 
sewajarnya. Ingatannya akan akhirat sangat dominan sehingga ingatannya akan 
dunia menjadi sebatas ”asal tidak lupa” bahwa ia masih hidup di dunia.
 وَابْتَغِ 
فِيمَا 
آَتَاكَ 
اللَّهُ 
الدَّارَ 
الْآَخِرَةَ 
وَلَا تَنْسَ 
نَصِيبَكَ 
مِنَ 
الدُّنْيَا
 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) 
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) 
duniawi..” (QS Al-Qashash 77)


Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian 
itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]



       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke