ngatkan Berakhirnya Era Energi Murah   Tuesday, 10 June 2008

Memimpin perusahaan produsen minyak terbesar kedua di Eropa bukan pekerjaan
mudah.Apalagi lonjakan harga minyak dunia trennya akan mencapai USD150 per
barel.

ITULAH tantangan yang kini dihadapi CEO BP Tony Hayward yang kemarin dengan
lantang mendeklarasikan berakhirnya era energi murah. Hayward menyalahkan
pemerintah di negara-negara produsen minyak yang gagal mendorong investasi
dan eksplorasi baru.

Hayward berpendapat, untuk mengatasi harga minyak dunia yang terus meroket,
investasi di bidang peningkatan kapasitas produksi minyak harus
digenjot.Kurangnya investasi membuat harga minyak tidak mungkin turun dalam
waktu singkat. "Negara produsen minyak mengalami krisis terburuk saat ini
dengan jumlah investasi terendah dalam 25 tahun terakhir karena rendahnya
harga minyak sebelumnya.

Kondisi itu menyulitkan jaringan distribusi mencapai titik impas," ungkap
Hayward dalam Konferensi Minyak dan Gas Asia di Kuala Lumpur kemarin seperti
dirilis Reuters. Kini yang terjadi sebaliknya. Akibat kurangnya investasi,
permintaan minyak tidak dapat dipenuhi hingga harga melonjak tinggi.Harga
minyak mentah, Jumat (6/6), mencapai USD139,12 per barel di New York dan
sedikit turun menjadi USD137 per barel.

Pria kelahiran 1957 itu memperingatkan,kurangnya pasokan minyak akan
mengakibatkan krisis lebih parah setengah abad ke depan. Untuk itu,Hayward
mendorong industri minyak meningkatkan jumlah produksi di pengilangan minyak
sebesar 5% dari produksi saat ini 35%. Dengan demikian, peningkatan produksi
akan menambah pasokan 170 miliar barel minyak atau total lima tahun pasokan
minyak global.

Dari pengamatan Hayward, rendahnya investasi di bidang produksi dan
eksplorasi terpengaruh oleh besarnya pajak pendapatan minyak dan gas yang
diambil pemerintah. Di sisi lain, perusahaan- perusahaan minyak yang
dikelola pemerintah terus menuntut perlakuan berbeda saat harga energi naik.


"Ini tidak benar dan tidak produktif. Dengan peningkatan harga minyak ini
berarti kita kekurangan uang untuk berinvestasi dalam produksi baru," tutur
CEO perusahaan yang tahun lalu mendapatkan keuntungan 14 miliar
poundsterling. Hayward menganut teori keseimbangan pasar sehingga harga
ditentukan oleh permintaan dan penawaran sampai tercapai posisi stabil.

Menurut penggemar sepak bola ini,saat pasokan tidak memenuhi peningkatan
permintaan, harga minyak akan terus melambung tinggi. Pendapat Hayward
memang tidak diamini semua pihak.Arab Saudi yang menjadi salah satu anggota
berpengaruh di OPEC bersikeras bahwa pasar minyak tetap mendapat pasokan
mencukupi meskipun harga minyak melambung tinggi.

Berdasarkan perkiraan Goldman Sachs, harga minyak mentah dapat mencapai
USD150 per barel pada musim panas ini. "Harga akan melonjak, tidak turun.
Permintaan akan terus meningkat, tapi pasokan tidak dapat terpenuhi," kata
Jeffrey Currie,Kepala Riset Komoditas Global Goldman Sachs.
PrediksiGoldmanSachsini muncul beberapa hari setelah Morgan Stanley membuat
perkiraan serupa pekan lalu bahwa minyak mentah akan mencapai harga USD140
per barel.

Hayward menyadari, industri minyak saat ini menghadapi dua tantangan.
Pertama untuk meningkatkan produksi, kedua untuk menghadapi perubahan iklim.
Ketertarikan Hayward di bidang produksi dan eksplorasi minyak telah tumbuh
sejak di bangku kuliah.Dia meraih gelar sarjana geologi dari Birmingham
University dan menyelesaikan PhD di Edinburgh University.

Setelah lulus, dia bergabung dengan BP pada 1982 dengan pekerjaan pertamanya
sebagai ahli geologi BP di Aberdeen. Lambat laun kariernya melesat dan
memegang sejumlah peran penting di bidang teknis dan perdagangan di BP
Exploration di London, Aberdeen, Prancis, China,dan Glasgow. Kariernya
semakin melesat saat dia mampu menarik perhatian CEO BP saat itu, Lord
Browne, dalam sebuah konferensi kepemimpinan di Phoenix,Arizona, pada 1990.

Hasilnya,dia langsung menjadi asisten eksekutif Browne. Pada 1992, Hayward
pindah ke Kolombia sebagai manajer eksplorasi dan menjadi Presiden
Operasional BP di Venezuela pada 1995. Pada Agustus 1997 dia kembali ke
London sebagai Direktur BP Exploration. Pada 1999 dia menjadi Wakil Presiden
BP Amoco Exploration and Production dan anggota Komite Eksekutif Grup BP
Upstream pada 1999. Dia akhirnya terpilih sebagai Bendahara Grup BP pada
September 2000.

Tanggung jawabnya saat itu meliputi operasional bendahara global,
kesepakatan luar negeri, keuangan perusahaan, keuangan proyek, merger, dan
akuisisi. Pada April 2002 dia menjadi eksekutif wakil presiden dan CEO
eksplorasi dan produksi pada Januari 2003. Munculnya masalah keamanan dan
produksi di Alaska serta laporan terjadinya ledakan di pengilangan minyak di
Texas City membuat Ketua Noneksekutif BP Peter Sutherland mempercepat
penggantian Lord Browne.

Saat itulah Hayward memanfaatkan peluang bagi dirinya untuk dilirik sebagai
pengganti Browne. Maka dalam pertemuan internal manajemen BP di
Houston,Hayward mengkritik manajemen BP yang dianggap lalai mencegah
terjadinya ledakan yang menewaskan 15 orang di Texas City. Nama Hayward pun
semakin populer, apalagi melihat pengalamannya yang luas dalam pengembangan
BP. Akhirnya Hayward terpilih sebagai CEO BP sejak 1 Mei 2007. (syarifudin)

Sumber : SINDO


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************

Kirim email ke