Dear Moms, Aku cuma mo sharing pengalaman aku saja. Kayaknya aku termasuk orang tua yang terlampau cepat memasukkan anaknya ke PG. Aliya sekarang 2 tahun 10 bulan mulai masuk PG saat berusia 14 bulan (1 tahun 2 bulan). Waktu itu alasannya supaya ada aktifitas untuk aliya. Suami dan saya bekerja, sehari-hari aliya hanya ditemani oleh mbak pengasuh yang tidak punya latar berlakang pendidikan sebagai baby sitter. Berangkat sekitar 30 menit jalan agak macet dari rumah pake mobil. Pulang dg menggunakan taxi ya sekitar 15 menit sekolah - rumah. Bagi aku & suami aliya tidak sekolah tetapi pergi tempat bermain bersama teman2xnya. Agak berat kami mengatakan aliya sekolah. PG-nya bilingual. Aktifitasnya lebih banyak bermain, bernyayi, denger dongeng yang semuanya in English. 1.5 tahun pertama mbak pengasuh menemani aliya di kelas. So lumayan sich... mbak pengasuh jadi ikut2x creative untuk berorigami, bernyanyi & menerapkan aktifitas sekolah di rumah. Aku juga gak maksa aliya untuk berangkat ke sekolah. Pagi2x aku tanya dulu apakah hari ini mo sekolah atau tidak. Bila jawabannya tidak ya... aliya stay di rumah.
Sekarang sudah beberapa bulan ini, aliya malah gak mau stay di rumah. Setiap pagi saat saya siap2x berangkat ke kantor, aliya akan ikutan siap2x berangkat ke sekolah. Bicara in English terkadang muncul, just asking how are you? where is my...... ? Kalo saya tanya dalam bhs Inggris dia jawab dalam bahasa inggris, kalo ditanya dalam bahasa ind ya... dijawab dalam bahasa indonesia. Hm.... it's a good start. Tapi saya juga berdo'a & H2C (harap2x cemas) jangan sampai dia bosen saat di TK nanti. ----- Original Message ---- From: Dian Ibung <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, April 25, 2007 5:57:42 PM Subject: [parentsguide] Playgroup & TK perlu nggak sich ? Moms, Kebetulan saya sedang menulis tentang masalah ini. Tapi blm selesai. Insya Allah setelah selesai akan saya email ke milist. Intinya PG akan menjadi perlu bagi anak yang kurang stimulasi yang menunjang aspek-2 perkembangannya di rumah. Namun, perlu diperhatikan bahwa, sesuai namanya, maka PG yang baik adalah yang memberi stimulus positif dalam bentuk bermain. Dan PG akan menjadi bermanfaat jika si anak sudah siap untuk “sekolah” dan memang ada keinginan dari si anak. Sama sekali bukan paksaan dari orang tua. Ada beberapa poin yang bisa dijadikan tanda kesiapan anak untuk sekolah dan “ujian” bagi si anak untuk mengetahui apa memang ada keinginan dari dirinya untuk sekolah. Untuk TK, soal kesiapan dan paksaan sama dengan PG. TK memiliki nilai lebih karena seharusnya TK menjadi tempat pembelajaran bagi anak untuk transisi dari suasana rumah ke bentuk sekolah yang lebih resmi, lebih kaku dan lebih memungkinkan ia bersosialisai dan mengembangkan kemampuannya dalam situasi belajar mengajar. Namun, seperti juga namanya, TK yang baik adalah yang menyiapkan anak dengan suasana dan proses yang masih diliputi suasana bermain dengan sedikit muatan untuk lebih “resmi, kaku”, dst. Jika masing-masing di atas sudah ok, maka saatnya orang tua “hunting” PG atau TK yang sesuai. PG / TK yang memenuhi persyaratan. Beberapa yang terutama harus diperhatikan adalah materi pembelajaran, suasana pembelajaran, kualifikasi guru, fasilitas dan suasana sekolah (kebersihan, sinar matahari, tersedianya permainan, dst). Jangan ragu untuk minta kejelasan soal kurikulum dll. Sekolah yang baik dengan senang hati akan menginformasikannya . (rinciannya sedang saya kerjakan di tulisan saya nih…hehe) Selanjutnya, anak pun perlu persiapan untuk masuk sekolah. Mulai dari pembicaraan bahwa nanti ia akan masuk sekolah, bla3x, sampai mengikuti kelas percobaan di sekolah yang dituju. Semoga info ini sedikit membantu para orang tua mengenai perlu tidaknya KB dan TK. Regards Dian http://tulisandian. blogspot. com/ __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

