Bedanya anak prodip dianggap lebih kuat dalam menghadapi cobaan dan lebih cerdas dalam menangani masalah pekerjaan. Sebenarnya dalam fikiran saya anak prodip adalah pahlawan perubahan. Sayang ide ini kurang tersosialisasikan malah sepertinya jadi termarginalkan. Bayangkan : Anak prodip dikumpulkan dari berbagai belahan bumi nusantara untuk didik menjadi pegawai treasury secara khusus. Setelah selesai mereka disebar ke seluruh nusantara untuk memberikan perubahan di kantornya, memberi masukan-masukan yang positif untuk perubahan kantor kita. Setelah selesai di satu kota untuk sebuah penyegaran mereka dipindah ke tempat lain, tempat yang memang memerlukan orang-orang pembaharu. Di kota-kota terpencil anak prodip memberikan pencerahan mengenai teknologi informasi. Mereka memberi contoh tentang pentingnya pendidikan pada masyarakat setempat. Banyak dari anak prodip melanjutkan sekolahnya melalui universitas terbuka. Dan tak jarang berhasil sampai pendidikan jenjang selanjutnya. Masyarakat setempat berharap anak-anak mereka bisa seperti anak-anak prodip itu. Tak jarang ada yang menjadikan mereka menantu. Sehingga terjadi naturalisasi. Apalagi banyak dari mereka yang mempunyai pemahaman agama yang menakjubkan. Dzikir matsurat dan tilawah 1 juz perhari bukanlah beban, malah memberi mereka kekuatan. Dibanding dengan suasana kantor daerah yang tidak mempunyai prodip, kantor kita relatif lebih profesional. Semua pekerjaan semakin efisien dilakukan. Sehingga ekses negatifnya adalah banyaknya waktu luang. Namun anak prodip tidak kehilangan akal. Yang suka olahraga membuat perkumpulan olahraga untuk meningkatkan raganya (body), yang suka dengan hal-hal spiritualitas membuat pengajian atau halaqoh yang meningkatkan jiwanya(soul) , yang suka hal-hal intelektual terus menyebarkan pemikiran-pemikirannya (mind). Terkadang yang menakjubkan hal itu bersatu dalam satu sosok anak prodip. Yang lebih menakjubkan , anak prodip ukhuwahnya kuat. Mungkin karena sudah lama bergaul di kampusnya. Walaupun mereka terpisah jarak, mereka tetap menjalin tali ukhuwah itu. Moto mereka adalah minimalnya adalah husnudzon (berprasangka baik), mudah-mudahanan bisa itsar(mendahulukan orang lain atas kepentingan sendiri). Yang dipusat berusaha memperjuangkan aspirasi teman-teman di daerah. Yang di daerah memberikan masukan-masukan positip bagi teman-temannya di daerah. Yang di pusat berharap suatu saat teman-teman di daerah bisa menggantikan dirinya di pusat, mendapatkan kesemapatan untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, dan yang di daerah berharap teman -teman yang di pusat bisa merasakan kenikmatan beramal di daerah. Komunikasi mereka yang intense satu sama lain membuat mereka saling mengenal (taaruf), dan juga saling mengerti (tafahum) yang pada akhirnya melahirkan sinergi (taawun) dan kegemaran berbagi beban (takaful). Tahun demi tahun berganti, akhirnya dari anak prodip itu ada yang dipercaya menjadi menteri, dan mereka didukung oleh anak-anak buahnya yang siap memberikan terbaik bagi negeri ini...
Sekian : Happy End --- In [email protected], iqbal muhammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > apa sih ya bedanya Pegawai DJPBN Prodip dgn Pegawai DJPBN Non Prodip..? > padahal dalam hak dan kewajiban sama saja, tidak ada beda.. > tapi kenapa dalam mutasi selalu dibedakan..? > kalau hanya karena SEKOLAH GRATIS, okelah... tapi kan ada namanya masa ikatan dinas.. > Nah, sesudah masa ikatan dinas selesai, mestinya kan perlakuan jadi sama, baik hak, kewajiban maupun mutasi. > Banyak sekali contoh yang bisa kita lihat, bahwa pegawai non prodip, dari pertama diangkat pegawai (pelaksana), korpel, sampai jadi kasie pun di daerah itu juga. > > ah gak taulah... lieur euy... > > > # begitu dekat, tapi tak terjangkau # > # begitu nyata, tapi tak terlihat mata # > # begitu rindu aku # > > > --------------------------------- > Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell? > Check outnew cars at Yahoo! Autos. > > [Non-text portions of this message have been removed] >
