judul mail ama isinya banyakan basa basinya pak budisan.... saya respek ama pak budisan karena bapak respek ama pak sis... tapi apakah bapak respek ama saya andaikata saya tidak respek ama pak sis.... oke pak ini kritik, MPN dah jelas2 tidak didukung sepenuh hati oleh pak sis, buktinya pergantian kursi es 3 dari bu wiwieng ke bu tati (skrg dah balik lagi) yg notabene komandannya MPN launching MPN siapa yg mbiayai, bukan setditjen, tapi malah suatu proyek pengembangan sistem manajemen keuangan berbasis IT (itu lo GMFRAP kalo ada temen yg gak tau) pelatihan MPN siapa yg mbayari, GMFRAP juga... anggaran MPN yang dah direvisi en ada di DIPA DIA, gak pernah bisa disentuh...(pas jaman pergantian es 3 itu) MPN itu kesepakatan banyak pihak, djp en djbc, djapk termasuk didalamnya..kalo toh sekarang dah berjalan, bukannya harus disesali tapi tetap didukung upaya penyempurnaannya, bukannya nyari celah tuk membinasakannya...(jangan2 ini termasuk hasil rapim?!,soalnya aku disuruh bikin surat ke bank2 nanya berapa uang negara yg tdk bisa disetor gara2 MPN, setelah kep ktr dipanggil kanwil) trus sbg arsitek pola mutasi apa betul pak.. yg kutahu pola mutasi menyangkut kebijakan, kalo arsitek kan ada wujud fisiknya, nah apa pola mutasi dah keluar SE nya, gak kan? oke kalo sekarang dah ada pola mutasi yg jelas, tapi apa iya akan efektif berjalan, apa iya transparan, apa bener dipatuhi, lha wong temenku seangkatan kemaren bareng aku mutasi tapi gak pernah berangkat (baru 6 bln belum ada setahun), e tau2 namanya muncul di SK pelaksana kemaren balik lagi ke Pusat tanpa pernah menyentuh daerah penempatannya itu (selamat to, ente sangat sangat beruntung sekali...smoga aku ketularan ntar to, tungguin...hehehe) yo wis lah, ada sebab tentu ada akibat sekarang yg jelas bapak dan temen2 lain jgn dengki apalagi dendam ama saya, la ini kan kritik biasa.... dah kubaca 10 kali sepertinya gak ada kesan menyalahkan orang.. ups tapi kl memang ada saya salah ketik mohon maaf aja.. piss.....
________________________________ From: [email protected] on behalf of Budi Santoso Sent: Tue 08-May-07 10:37 To: [email protected] Subject: [Perbendaharaan List] Musuh Kita Ada Dalam Diri (Teman) Kita Teman-teman anggota milis yang budiman, Dalam banyak hal musuh kita itu sebenarnya, kita sadari atau tidak, ada di dalam diri kita atau teman kita. Meskipun banyak di antara kita yang menunjuk orang, kaum atau bangsa (pencuri, kafir, Amerika) sebagai musuh kita, saya lebih suka menunjuk pada sifat, perilaku dan kebijakan (policy) sebagai musuh kita. Malas, dengki, pendendam, otoriter dan korup adalah contoh sifat dan perilaku manusia yang seringkali kita akui sebagai musuh kita. Ketika kita melihat musuh-musuh kita tersebut ada di dalam diri kita, biasanya kita bersikap lebih toleran, memaafkan, atau mencari solusi untuk menghilangkannya secara persuasif/gradual dari dalam diri kita. Namun, ketika kita melihat mereka ada di dalam diri orang lain seringkali kita mengidentikkan orang lain tersebut dengan musuh-musuh kita. Dengan kata lain, kita cenderung menghakimi atau memandang orang lain tersebut, bukan sifat dan perilakunya, sebagai musuh kita. Bahkan meskipun sebenarnya kita juga melihat banyak hal sama antara kita dan orang lain tersebut, kita cenderung melupakan persamaan tersebut yang barangkali kita anggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya (given) sehingga tidak perlu dibahas/diperhatikan lebih lanjut. Padahal semestinya kita bisa bersikap lebih adil seandainya kita mampu memilah antara musuh kita dan teman kita yang ada di dalam diri kita dan juga yang ada di dalam diri teman kita. Sebagai ilustrasi, beberapa waktu lalu saya mendengar seseorang berkata (dalam suatu acara di TV) "Saya tidak setuju poligami tetapi saya menghargai praktek poligami yang dilakukan oleh Aa Gym, dan dalam banyak hal saya masih menganggap Aa Gym sebagai idola saya". Secara jelas kita melihat bahwa bagi orang tersebut Aa Gym (dalam banyak hal) merupakan tokoh panutan, kecuali praktek poligami (yang sesuai dengan keyakinannya tidak akan ia ikuti). Selain itu, ia juga menghargai praktek poligami sebagai hak individu. Kecuali seandainya dalam praktek poligami tersebut terdapat unsur paksaan, maka ia akan memasuki domain publik karena telah melanggar hak individu orang lain (yang dipaksa). Sekarang mari kita lihat contoh di sekitar (DJPB) kita. Sekitar dua tahun lalu (tepatnya menjelang hari lebaran) saya pernah secara vocal memprotes kebijakan Sekditjen (pak Siswo) tentang larangan cuti lebaran di luar cuti bersama bagi para pegawai DJPB (kecuali untuk alasan penting karena keluarga meninggal dsj) yang saya yakin akan sangat merugikan bagi teman-teman kita yang bekerja di daerah nun jauh di sana (sudah dipaksa cuti bersama, lalu dilarang nabung untuk nambah cuti lebaran). Saya berpendapat akan lebih baik seandainya pelaksanaan cuti (sebelum dan setelah) lebaran diserahkan sepenuhnya kepada Direktur/Kakanwil untuk mengaturnya karena merekalah yang paling tahu persis di lapangan tentang kebutuhan pegawai. Alhamdulillah, kebijakan tersebut tidak diberlakukan lagi pada lebaran tahun lalu Namun satu hal yang penting dicatat bahwa protes saya terhadap Sekditjen tersebut sama sekali tidak menghapus kekaguman saya kepada beliau (yang notabene juga merupakan salah satu arsitek utama pola mutasi DJPB) khususnya terkait dengan sikap/upaya kerasnya untuk menolak keberadaan dan peran konsultan asing (termasuk intervensinya) yang sangat dominan dalam suatu proyek pengembangan sistem manajemen keuangan berbasis IT yang dibiayai melalui pinjaman LN (walaupun teman saya secara berseloroh mengatakan bahwa jangan-jangan konsultan asing tersebut ditolak karena ia sendiri sebenarnya yang ingin menjadi konsultan). Saya juga respek terhadap sikap kerasnya memegang prinsip keilmuan yang diyakininya sehingga rela mengurbankan gelar S3nya di Perancis dan juga di Unpad yang menurut beliau (kalau bersedia mengalah pada sang dosen) sudah ada dalam genggaman. Demikian pula saya juga respek terhadap peringatan Sekditjen sebelumnya tentang ketidaksiapan MPN untuk dilaunching yang akhirnya terbukti dengan munculnya permasalahan MPN yang hingga sekarang belum dapat diselesaikan secara tuntas. Tetapi tentu saja saya tidak ingin memuji Sekditjen tanpa kritik sama sekali. Beberapa waktu lalu saya mengkritik beliau terlalu PD (over confident) ketika awal tahun lalu mengatakan tentang rencana revolusi aplikasi/database (yang rencananya akan dimotori oleh Bu Wiwieng) dalam waktu hanya tiga bulan. Demikian pula ketika di depan Bu Menteri beliau menyanggupi/menjanjikan target implementasi KPPN Prima pada bulan Juli 2007. Kepada semua teman anggota milis ini saya berpesan, marilah kita berdiskusi dengan argumen yang rasional dan dengan hati yang dingin/sejuk. Sebaiknya hindari diskusi-diskusi yang cenderung selalu menempatkan orang dalam keranjang sampah (selalu salah) atau selalu menempatkannya ke dalam mitos (selalu benar). Marilah kita biasakan menghadapi dan melayani musuh kita sebagai teman kita yang dalam dirinya terdapat musuh dan sekaligus juga teman-teman kita. Selamat berdiskusi. Salam, budisan --------------------------------- Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell? Check outnew cars at Yahoo! Autos. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
