Kang Acep yang juga saya kagumi...
   
  Sebelumnya perkenankanlah saya meminta maaf atas tulisannya terdahulu yang 
mungkin kurang berkenan, tidak ada maksud apa-apa dalam tulisan tsb.
   
  Saya sendiri melihat sosok akang adalah orang yang benar2 beruntung, serba 
lengkap dibanding saya.. Apa yang akang tulis ini saya juga sependapat dengan 
semangat akang.. saya pun berusaha menjadi pegawai yang akang persepsikan ngak 
peduli prima atau bukan prima, karena menurut saya sekarang ini pegawai kita 
semua sebenarnya sudah prima2.. Berada jauh dari keluarga, terpisah dengan anak 
bini,  dalam lingkungan yang serba berbeda namun pengabdiannya  dan semangatnya 
penuh dedikasi (bukan dedi Cahriadi)..
  Tinggal bagaimana menyikapinya dan rasa peduli atas jerih payah kita di 
hormati dan hargai dengan pengghargaan yang pantas.
   
  Pernah saya diceritain  dari seorang teman kantor yang suaminya juga pegawai 
DJA (dulu) ketika saya tugas di Purwakarta, Suaminya meninggal dunia ketiga 
bertugas di salah satu kota di Luar jawa. Sebelum meninggal beliau dalam 
penderitaan karena sakit Stroke.. dalam sakit si istri berusaha untuk 
mengupayakan agar suaminya bisa dipindahkan ke ke kota kelahirnnya. atau bisa 
dipensiunkan dini.Tapi apa lacur permohonan bertubi2 kepada pimpinan tidak 
pernah ditanggapi..  Untuk sekedar mempertahankan gajinya plus TC saja (karena  
tidak ada tabungan yang tersimpan karena habis untuk berobat) tiap hari datang 
ke kantor dipapah oleh bukan keluarganya (karena di rantau )  hanya untuk 
absensi agar tc nya tidak terpotong sedemikian juga juga sore harinya ..sampai 
akhirnya beliau wafat.. Pun penghargaan/pengabdian hanya pemberian uang duka 
wafat 3 kali gaji waktu itu. 
  Saya teramat sedih (Subhanallah)..... Konon ada beberapa kasus yang hampir 
sama di suatu tempat.
  Sekarang mungkin keinginan teman2 semua (pelaksana, korpel, kasi, kaka dll) 
adalah harapan agar bisa ada pencerahan sedikit. saja... 
   
  Semoga Sukses...
  Wassalam...
   
    

acep_hadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        
Mas dedi yang saya hormati...

Buat saya, bekerja di mana saja, yang paling penting dan utama buat
saya adalah memberikan yang terbaik untuk orang lain semampu yang saya
bisa dan sebisa yang saya mampu. (...Sebaik-baik manusia adalah
manusia yang berguna bagi orang lain..) Dan tidak penting buat saya
diperhatikan atasan atau tidak, karena saya yakin ada yang senantiasa
memperhatikan saya nun jauh di atas sana. Ketika saya menjadi
pelaksana, saya terpaksa menikmati posisi 'terwarnai' keadaan. Saya
tidak bisa berbuat apapun karena kondisi 'zaman' tidak memungkinkan
buat saya melakukan 'my own way attitude'. Tapi saat itu juga saya
belajar mengenal karakter bermacam-macam kasubsi saya, dan kasie atau
atasan langsung saya...

Ketika suatu saat saya menjadi pelaksana di seksi PB, ada Subag Umum
yang meminta saya membantunya (menjadi korpel RT/Pelaporan) dan yang
pertama-tama beliau katakan : "...tapi mohon maaf yah dik, karena
penghasilannya jauh dengan pelaksana seksi PB..." Saya pikirkan
sebentar tawaran itu dan bertanya kepada beliau, : "kira-kira apa yang
paling Bapak butuhkan dari saya, sehingga bapak memilih saya menjadi
korpel RT/Pelaporan dibandingkan yang lain yang lebih senior (ada yang
sudah III/c tetapi tetap 'doyan' jadi pelaksana)?" Beliau katakan : "
Saya ingin membenahi catatan inventaris kantor dan aktiva tetapnya
dik, dan saya lihat adik memenuhi kualifikasi yang saya inginkan".
Akhirnya saya menerima 'tantangan' beliau untuk membenahi inventaris
dan catatan aktiva tetap kantor tersebut dan tidak berapa lama
mendapatkan nota dinas kepala kantor menetapkan saya sebagai pj.
korpel RT/Pelaporan.

Saya yang sangat menyukai tantangan baru, memulai amanah tersebut
dengan mencoba mewarnai 3 orang pelaksana saya (1 sudah senior dan 2
orang prodip baru) dengan mencoba menerapkan skala prioritas dan
membuat time schedule apa saja laporan yang perlu dibenahi dan harus
dapat mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. 

Saya begitu menikmati pekerjaan saya, sampai akhirnya keluar SK Korpel
definitif, bukan di tempat itu tapi di Marisa, Gorontalo. Apakah saya
kecewa, awalnya ia, karena isteri saya tidak bisa ikut (isteri saya
juga mengabdikan diri untuk orang lain sebagai dokter dan harus naik
kearah pegunungan setiap hari ke Puskesmasnya bertugas) tapi akhirnya
saya menikmati 'posisi' korpel karena saya bisa mewarnai dsan
memberikan contoh attitude pelayanan prima kepada pelaksana saya
sekarang ini. Buat saya itu sebuah keadaan yang membuat saya bahagia
lahir batin. 

Saya tidak perduli apakah KPPN saya sekarang Prima atau tidak Prima,
tapi saya dan staf saya mencoba memberikan pelayanan 'lebih dari
sekedar prima' setiap hari. Ini saatnya buat saya memberikan yang
terbaik buat orang lain (bukan ingin riya') dan alhamdulillah Alloh
SWT memberikan ganjaran jauh lebih tinggi buat saya dan keluarga
daripada sekedar tambahan penghasilan yang bisa habis dalam sekejap.
Subhanalloh, saya sudah sangat bersyukur mendapati anak perempuan saya
Fathiya Ruzaina, yang tiap 2 bulan saya temui di Purwakarta Jawa-Barat
sudah dapat membaca dalam usia 3 tahun 2 bulan. Dan sudah lancar
mengaji dengan usia seperti itu (saya dulu dalam usia yang sama belum
bisa apa-apa)

Buat saya, apapun jabatannya, semua itu cuma amanah, yang bisa Alloh
SWT ambil dari kita semua kapanpun Alloh SWT mau. Tapi memberikan yang
terbaik kepada orang lain tanpa embel-embel jabatan (pelaksana kek...,
Korpel kek..., Kasie kek... atau KK sekalipun) dan kantor (Prima atau
tidak Prima)sudah mendapatkan momentumnya sekarang, saat ini. Dan saya
tidak ingin ketinggalan mendapatkan pahala untuk ikut serta hijrah ke
arah kebaikan, begitu juga teman-teman DJPB lainnya yang telah sangat
rindu dengan perubahan...Jadi, mengapa saya mesti bingung soal
'korpel' mau dikemanakan?

Mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Adin-Somewhere at Gorontalo

--- In [email protected], dedi cahriadi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ai.. Ai... Ini Mah Garis Tangan......den Acep nu kacep,
> Tapi yang pasti ente bakalan....jadi orang (lengkap pisan tinggal
nunggu waktu aja lah), mungkin namanya udah ada dikantong di ibu A nd
pa S***** atau bentar lagi juga di Ibukota (ibu kota basa ingrisnya
apa ya... Ibu sity kali ya.) [(Ngabodor den...Ngabodor = Naga bonar
jadi Duuuaaar!!!)
> 

> acep_hadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Masih muda, pangkat sudah hampir III/c, Pendidikan S2, trus korpel di
> KPPN Tipe B, dan tetap semangat bekerja...Apa harus diturunkan jadi
> pelaksana juga...Kalo si Korpel bilang : Prima atau tidak Prima KPPN
> saya saat ini, pelayanan dan kualitas kerja saya terhadap stakeholder
> harus PRIMA XP. No matter what...
> 
> Is there any comment?
> 
> --- In [email protected], "adi_14n" <adi_14n@> wrote:
> >
> > --- In [email protected], "Farid B. D"
> > <grasstan_zuijc@> wrote:
> > >
> > > Nasib para korpel dengan adanya KPPN Prima adalah
> > (Kemungkinan/Prediksi) :
> > 1. Yang masih muda baik usia dan pangkatnya akan dikembalikan jadi
> > pelaksana.
> > 2. Yang sudah tua dipromosikan jadi kasi.....(moga-moga)
> > 3. Yang punya potensi dijadikan widyaiswara
> > 4. sisanya dipensiunkan ...(sediiiiih)...
> > > 
> > > Bagaimana nasib korpel ??? Bapak-bapak di pusat korpel mau
> > dikemanain..???????
> > > 
> > > 
> > > ---------------------------------
> > > You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
> > > in the all-new Yahoo! Mail Beta. 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



         

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke