mas Acep dan mas Dedi dan teman teman anggota milis yang lain. 
  membaca banyak tulisan mengenai korpel ini 
  saya jadi tergelitik juga ingin memberikan pendapat mengenai hal ini..
  mudah mudah an ada guna nya.. pendapat seorang yang sudah berumur mengenai 
hal ini..  
  
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  gini Mas Dedi dan teman teman lain.. 
   
  apakah pernah mendengar cerita tentang menilai isi air didalam gelas. 
  saya pernah mendengar tapi agak samar samar ingatan tentang detail nya.. kira 
kira seperti ini:
  ada gelas yang berisi air setengah 
  ternyata berbeda beda penilaian orang akan jumlah air didalam gelas itu.. 
  ketika di tanyakan kepada seseorang (A) berapa isi air dalam gelas itu ?
  si A menjawab : aku lihat air setengah kosong di dalam gelas. 
  lalu di tanyakan kepada seorang lain (B) pertanyaan yang sama 
  si B menjawab : aku liat air setengah penuh di dalam gelas 
   
  cerita diatas memperlihatkan perbedaan cara menilai antara si A dan si B.
  Si A lebih mengarah pada negatif thinking.. sedang si B mengarah pada positif 
Thinking.   
   
  saya juga pernah dengar dari seorang teman 
  bahwa ada satu buku, - yang sayangnya belum sempat saya dapatkan-, 
  isinya mengajarkan kepada kita agar berpikir secara positif.
  ternyata kalau dipikirkan secara positif, dunia ini akan menjadi lebih 
lebar.. 
  kesempatan akan terlihat lebih terbuka. 
  dan yang paling penting kita akan merasa lebih semangat untuk mengatasi 
masalah
  dan menjadi lebih sabar bila ternyata belum mendapatkan solusi untuk masalah 
tsb
  karena kita yakin (positif) bahwa segala masalah pasti ada jalan keluar..
   
  saat ini kita menghadapi berbagai tantangan akan masa depan DJPB
  hal ini juga pernah di lontarkan oleh Bu Ani..
  pertama adalah soal pelayanan kepada masyarakat
  kalau hal ini bukan hanya DJPB saja yang tertantang, tapi juga DJP dan DJBC. 
dll.. 
  karena hal itu merupakan barometer keberhasilan 
  bagi satu institusi dalam hal meningkatkan kinerja nya. 
  kata bu Ani, kalau tidak berhasil ada konsekuensi nya
  para pimpinan institusi itu harus siap digantikan oleh yang lain .
  bagi para pimpinan, ini semacam kontrak kerja.. 
  walaupun tidak ada tanda tangan, 
  tapi kata kata bu Ani sudah tertanam dalam hati 
  dan mau tidak mau harus di patuhi 
  bukan hanya di DJPB, tapi juga di seluruh unit eselon I di Depkeu. 
   
  pembentukan KPP Pratama 
  adalah komitmen pimpinan DJP untuk pelayanan masyarakat
  pembentukan kppn prima percontohan 
  juga komitmen pimpinan DJPB untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
  demikian pula MPN maupun TSA (terimakasih tulisan nya ttg hal ini Mas Acep) 
  kita lihat juga banyak program lain yang sedang di godog di kantor pusat
  semua itu adalah dalam rangka pelayanan masyarakat, 
  tentu saja disertai built ini control yang disempurnakan
   
  saya kira pimpinan kita sudah memikirkan secara mendalam tentang KPPN Prima  
  namun pimpinan kita pun menyadari bahwa manusia memang tidak sempurna. 
  itulah sebabnya kita lihat bahwa pembentukan nya masih percontohan
  tentu saja pertimbangan membuatnya bertahap perlu kita maklumi
  karena dalam tiap tahapan akan dibarengi dengan kebijakan baru kearah 
penyempurnaan.. 
  juga mempersiapkan antisipasi terhadap segala rentetan yang mengikuti   
  antara lain mengenai kemungkinan akan hilangnya korpel.. 
   
  kembali ke soal cara menilai air dalam gelas di analogikan dengan korpel.. 
  kalau kita berpikir positf, korpel mungkin benar akan dihapus, mungkin juga 
tidak 
  bila ternyata benar di hapus.. 
  maka bisa saja seorang yang sudah menjabat sebagai korpel lalu berubah jadi 
pelaksana (negatif)
   
  mengingat kata kata pak Sis, bahwa segala keputusan/kebijakan 
  baik itu mengenai reorganisasi , maupun mengenai pelayanan masyarakat
  akan ditempuh tanpa satu pun pegawai yang dirugikan.. 
  maka kiranya para korpel itu akan hilang, tapi menjadi kepala seksi (positif) 
   
  mudah2an ya Pak Acep,  
   
  
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  
   
  
acep_hadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  
Mas dedi yang saya hormati...

Buat saya, bekerja di mana saja, yang paling penting dan utama buat
saya adalah memberikan yang terbaik untuk orang lain semampu yang saya
bisa dan sebisa yang saya mampu. (...Sebaik-baik manusia adalah
manusia yang berguna bagi orang lain..) Dan tidak penting buat saya
diperhatikan atasan atau tidak, karena saya yakin ada yang senantiasa
memperhatikan saya nun jauh di atas sana. Ketika saya menjadi
pelaksana, saya terpaksa menikmati posisi 'terwarnai' keadaan. Saya
tidak bisa berbuat apapun karena kondisi 'zaman' tidak memungkinkan
buat saya melakukan 'my own way attitude'. Tapi saat itu juga saya
belajar mengenal karakter bermacam-macam kasubsi saya, dan kasie atau
atasan langsung saya...

Ketika suatu saat saya menjadi pelaksana di seksi PB, ada Subag Umum
yang meminta saya membantunya (menjadi korpel RT/Pelaporan) dan yang
pertama-tama beliau katakan : "...tapi mohon maaf yah dik, karena
penghasilannya jauh dengan pelaksana seksi PB..." Saya pikirkan
sebentar tawaran itu dan bertanya kepada beliau, : "kira-kira apa yang
paling Bapak butuhkan dari saya, sehingga bapak memilih saya menjadi
korpel RT/Pelaporan dibandingkan yang lain yang lebih senior (ada yang
sudah III/c tetapi tetap 'doyan' jadi pelaksana)?" Beliau katakan : "
Saya ingin membenahi catatan inventaris kantor dan aktiva tetapnya
dik, dan saya lihat adik memenuhi kualifikasi yang saya inginkan".
Akhirnya saya menerima 'tantangan' beliau untuk membenahi inventaris
dan catatan aktiva tetap kantor tersebut dan tidak berapa lama
mendapatkan nota dinas kepala kantor menetapkan saya sebagai pj.
korpel RT/Pelaporan.

Saya yang sangat menyukai tantangan baru, memulai amanah tersebut
dengan mencoba mewarnai 3 orang pelaksana saya (1 sudah senior dan 2
orang prodip baru) dengan mencoba menerapkan skala prioritas dan
membuat time schedule apa saja laporan yang perlu dibenahi dan harus
dapat mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. 

Saya begitu menikmati pekerjaan saya, sampai akhirnya keluar SK Korpel
definitif, bukan di tempat itu tapi di Marisa, Gorontalo. Apakah saya
kecewa, awalnya ia, karena isteri saya tidak bisa ikut (isteri saya
juga mengabdikan diri untuk orang lain sebagai dokter dan harus naik
kearah pegunungan setiap hari ke Puskesmasnya bertugas) tapi akhirnya
saya menikmati 'posisi' korpel karena saya bisa mewarnai dsan
memberikan contoh attitude pelayanan prima kepada pelaksana saya
sekarang ini. Buat saya itu sebuah keadaan yang membuat saya bahagia
lahir batin. 

Saya tidak perduli apakah KPPN saya sekarang Prima atau tidak Prima,
tapi saya dan staf saya mencoba memberikan pelayanan 'lebih dari
sekedar prima' setiap hari. Ini saatnya buat saya memberikan yang
terbaik buat orang lain (bukan ingin riya') dan alhamdulillah Alloh
SWT memberikan ganjaran jauh lebih tinggi buat saya dan keluarga
daripada sekedar tambahan penghasilan yang bisa habis dalam sekejap.
Subhanalloh, saya sudah sangat bersyukur mendapati anak perempuan saya
Fathiya Ruzaina, yang tiap 2 bulan saya temui di Purwakarta Jawa-Barat
sudah dapat membaca dalam usia 3 tahun 2 bulan. Dan sudah lancar
mengaji dengan usia seperti itu (saya dulu dalam usia yang sama belum
bisa apa-apa)

Buat saya, apapun jabatannya, semua itu cuma amanah, yang bisa Alloh
SWT ambil dari kita semua kapanpun Alloh SWT mau. Tapi memberikan yang
terbaik kepada orang lain tanpa embel-embel jabatan (pelaksana kek...,
Korpel kek..., Kasie kek... atau KK sekalipun) dan kantor (Prima atau
tidak Prima)sudah mendapatkan momentumnya sekarang, saat ini. Dan saya
tidak ingin ketinggalan mendapatkan pahala untuk ikut serta hijrah ke
arah kebaikan, begitu juga teman-teman DJPB lainnya yang telah sangat
rindu dengan perubahan...Jadi, mengapa saya mesti bingung soal
'korpel' mau dikemanakan?

Mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Adin-Somewhere at Gorontalo




--- In [email protected], dedi cahriadi
wrote:
>
> Ai.. Ai... Ini Mah Garis Tangan......den Acep nu kacep,
> Tapi yang pasti ente bakalan....jadi orang (lengkap pisan tinggal
nunggu waktu aja lah), mungkin namanya udah ada dikantong di ibu A nd
pa S***** atau bentar lagi juga di Ibukota (ibu kota basa ingrisnya
apa ya... Ibu sity kali ya.) [(Ngabodor den...Ngabodor = Naga bonar
jadi Duuuaaar!!!)
> 

> acep_hadinata wrote: 
Masih muda, pangkat sudah hampir III/c, Pendidikan S2, trus korpel di
> KPPN Tipe B, dan tetap semangat bekerja...Apa harus diturunkan jadi
> pelaksana juga...Kalo si Korpel bilang : Prima atau tidak Prima KPPN
> saya saat ini, pelayanan dan kualitas kerja saya terhadap stakeholder
> harus PRIMA XP. No matter what...
> 
> Is there any comment?
> 
> --- In [email protected], "adi_14n" wrote:
> >
> > --- In [email protected], "Farid B. D"
> > wrote:
> > >
> > > Nasib para korpel dengan adanya KPPN Prima adalah
> > (Kemungkinan/Prediksi) :
> > 1. Yang masih muda baik usia dan pangkatnya akan dikembalikan jadi
> > pelaksana.
> > 2. Yang sudah tua dipromosikan jadi kasi.....(moga-moga)
> > 3. Yang punya potensi dijadikan widyaiswara
> > 4. sisanya dipensiunkan ...(sediiiiih)...
> > > 
> > > Bagaimana nasib korpel ??? Bapak-bapak di pusat korpel mau
> > dikemanain..???????
> > > 
> > > 
> > > ---------------------------------
> > > You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
> > > in the all-new Yahoo! Mail Beta. 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke