Waalaikum salam Wr.Wb. Mas dedi yang baik dan saya hormati...
Pertama-tama, saya istighfar ketika membaca tulisan mas dedi..pertama karena saya tidak pantas untuk dikagumi, kedua saya tidak bertendensi apapun dengan tulisan mas dedi sebelumnya...sekali lagi maaf. Kalo saya boleh cerita sedikit (atau banyak nih...) Saya juga punya pengalaman pribadi seperti itu mas. Bapak saya (alm) Bakir bin H. Kurdi adalah PNS gol. II yg mulai th 1986-1993 bertugas di Maumere, NTT. Info terkhir teman saya yang main ke sana, Maumere sepi. Kebayang kan jaman tahun 1986. Bapak saya setelah ikut UD tahun 1985, masuk sepuluh besar terbaik. Tapi apa yg terjadi, dikirim jauh ke sana. Menyiasati hal tersebut, akhirnya kami punya dua dapur (persis seperti saya saat ini) tapi bukan dua 'dapur' yang lain. TC dan gaji dibagi 2, untuk di Jakarta dengan 5 anak yang masih kecil-kecil dan tentu untuk di Maumere yang biaya hidupnya tinggi. Pertimbangan ayah saya, jangan ikut ke sana karena pendidikan di sana masih jauh berbeda dengan di Jawa, sangat-sangat ketinggalan. Jangan sampai kalian yang 'set-back' karena kalian masih dapat berkembang. Biar Bapak yang 'set-back' karena toh bapak sudah tidak mungkin lagi berkembang. Sebuah pemikiran jangka panjang dari PNS golongan dua dan cuma lulusan SMA. Dalam kurun waktu tersebut, ayah pulang setahun sekali saat lebaran. Kami belum punya telpon dan media berhubungan satu2nya via surat yang datang dua minggu kemudian atau radio amatir yang mesti numpang ke teman Bapak di Rawamangun (Tg. Priok - Rw. Mangun jarak yang kami tempuh untuk mengobrol langsung dengan Bapak) Ketika th. 93 pulang untuk cuti ke Cianjur Selatan, Ayah saya seperti mengantat jasadnya sendiri ke temapat dimana beliau dilahirkan. Datang , masuk ke rumah nenek dan meninggal dunia di kamar nenek pada tanggal 5 April 1993 (tanggal Ultah anak saya). Terbayang apa yang terjadi, siapa yang mau ke Maumere untuk urus semua Gaji terusan,SKPP ke KPPN Kupang dll. Karena akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi alhamdulillah, mungkin ayahanda selalu mengutamakan berbuat baik kepada banyak orang, sehingga 'banyak' sekali orang lain yang membantu sampai terkirimnya SKPP ke Jakarta, tanpa perlu kita ke sana. Sewaktu gaji terusan belum bisa keluar, dua bulan pertama kita tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan, ibu saya (almh) minta diantar ke Kantor Pusat untuk menanyakan status gaji terusan yang menjadi hak kami. Ibu saya menangis di sana ketika salah satu pejabat mengingatkan seperti ini : "Bu, tolong kasih tahu anaknya yang kuliah di UI, jangan bawa-bawa UI kalo kirim surat ke Dirjen kami" dengan nada galak...Saya terdiam sejenak, ibu saya sesenggukan menangis..Saya lantang bersuara : "Pak, saya tahu bapak pejabat, duit bapak mungkin sudah setinggi gunung, tapi ingat pak, bapak saya cuma seorang pelaksana, ketika meninggal beliau tidak meninggalkan apa-apa buat kami anak-anaknya. Seandainya hal ini terjadi pada Bapak, saya yakin anak-anak bapak akan melakukan hal yang sama, karena saya ingin menuntut hak keluarga kami..." DENG...mereka terdiam..akhirnya mereka bilang begini, "kami mohon maaf dik, mungkin pelayana kami kurang prima, tapi mohon maklum karena memang fasilitas kami terbatas. Saya dengar adik sekolah di STAN yah, saya lihat dari KP4 nya. Mudah-mudahan adik bisa memahami suatu saat nanti..." Alhasil, keluar juga gaji terusan yang akhirnya bisa membuat kelauraga bisa meneruskan bayar listrik, air dan yang utama bayar hutang di sana sini. Itu sedikit (atau banyak kali yah, maaf) cerita saya. Dari situ saya membayangkan bahwa berat sekali rasanya mengemban amanah menjadi PNS. Dan saya berusaha sekuat mungkin kejadin yang sama walau dalam 'kemasan' berbeda tidak terjadi pada orang lain yang membutuhkan pelayanan dari saya. Sekecil apapun kebaikan, Insya Alloh kembali kepada kita dalam bentuk yang berlipat ganda... Mudah-mudahan ada hikmahnya... Tetap semangat, sambut perubahan yang sudah di depan mata Berikan yang terbaik untuk Indonesia dimanapun anda berada Salam perubahan Adin-Somewhere at Gorontalo --- In [email protected], dedi cahriadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kang Acep yang juga saya kagumi... > > Sebelumnya perkenankanlah saya meminta maaf atas tulisannya terdahulu yang mungkin kurang berkenan, tidak ada maksud apa-apa dalam tulisan tsb. > > Saya sendiri melihat sosok akang adalah orang yang benar2 beruntung, serba lengkap dibanding saya.. Apa yang akang tulis ini saya juga sependapat dengan semangat akang.. saya pun berusaha menjadi pegawai yang akang persepsikan ngak peduli prima atau bukan prima, karena menurut saya sekarang ini pegawai kita semua sebenarnya sudah prima2.. Berada jauh dari keluarga, terpisah dengan anak bini, dalam lingkungan yang serba berbeda namun pengabdiannya dan semangatnya penuh dedikasi (bukan dedi Cahriadi).. > Tinggal bagaimana menyikapinya dan rasa peduli atas jerih payah kita di hormati dan hargai dengan pengghargaan yang pantas. > > > > acep_hadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas dedi yang saya hormati... > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > > You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck > > > > in the all-new Yahoo! Mail Beta. > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > --------------------------------- > Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! > > [Non-text portions of this message have been removed] >
