Terimakasih Mas Amirsyahya... ketika saya membaca kisah Anda, tak 
terasa airmata menggenang dipelupuk mata. Sebenarnya saya bukan 
termasuk orang yang cengeng. Tapi untuk kali ini, saya seperti 
membuka kembali lembar-lembar diary hampir satu dekade yang silam.
Saya yakin, teman-teman angkatan "reformasi" 98 juga akan merasakan 
hal yang sama ketika membaca kisah ini.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Mungkin itu sudah menjadi 
bagian 'lakon' kehidupan yang harus dilalui. Tentunya banyak 
pelajaran yang dapat diambil.

Saya juga menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya, 
jazakumullah khairan katsira kepada teman-teman yang saat itu sudah 
bersusah payah mengajukan proposal, mengumpulkan sedikit dana untuk 
membantu kami yang kebetulan penempatannya agak jauh.
Berapapun dana yang dikirimkan oleh teman-teman pada waktu itu 
sungguh sangat berharga dan bermanfaat bagi saya.

Saat itu saya tidak ada pilihan lain... tetap harus berangkat 
walaupun harus meminjam uang untuk membeli tiket kapal Pelni kelas 
ekonomi dan untuk membeli "modal kerja". Baju putih dan celana hitam. 
dan satu atau dua potong baju kerja warna lain. Karena baju-baju 
kuliah saat itu sudah kusam warnanya.
Saya juga berharap bagi para senior yang kebetulan masih berada di 
'remote area' agar mau menerima dan membantu adik-adik yang 
ditempatkan daerah tsb.

Secara khusus saya ucapkan terima kasih, jazakumullah khairan katsira 
kepada :
Akh Undan... atas kiriman uang Rp 200.000,- (kalo tidak khilaf) hasil 
pengumpulan dana
Mas Danang Prabowo & Mas Suwandi Pringadi yang telah menjemput saya 
di pelabuhan setelah empat hari berlayar dan yang telah membantu saya 
selama di Bumi Paguntaka.
Bapak-bapak & Ibu-ibu para pegawai KPPN di Bumi Paguntaka yang telah 
membantu dan membimbing saya selama disana...
Terimakasih juga kepada Bapak-bapak & Ibu-ibu yang di Jakarta, yang 
telah 'mengembalikan' saya ke dekat kampung halaman saya setelah 
delapan tahun di pulau seberang. Semoga dimasa yang akan datang pola 
mutasi menjadi lebih baik lagi.

-- yang masih menanti kapan dan dimana tempat & suasana kerja baru --

--- In [email protected], 
"amirsyahya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>       Membaca kisah-kisah junior yang mendapatkan penugasan di 
> seluruh Indonesia tanpa status CPNS/PNS dan tanpa biaya perjalanan 
> dinas seolah-olah mengulang kembali kisah kelam angkatan 
"reformasi" 
> 98 hampir sepuluh tahun lalu. Saya mencoba menceritakan kisah lalu 
> yang syukur2 bisa menjadi hiburan dan alhamdulillah kalau ada 
> pelajaran dan hikmahnya.
> 
> Ketempat tugas demi Bunda Tercinta.
> 
>       Saat tingkat III, saya sudah menentukan pilihan untuk tidak 
> menjadi PNS. Hal ini dikarenakan pengalaman pribadi saya yang 
melihat 
> betapa usaha keras ayah mencari nafkah dengan mendirikan usaha 
selalu 
> menemui hambatan yang begitu hebat dari "oknum2" pemerintah baik 
dari 
> segi perijinan, persaingan usaha yang tidak sehat, hingga 
konspirasi 
> yang mengakibatkan gulung tikar. Bagi saya waktu itu, PNS adalah 
> pemeras, pemalas dan menyusahkan orang lain. Apalagi dulu, ayah 
> melarang kakak menerima beasiswa kuliah gratis dengan ikatan dinas 
> pemerintah setelah lolos dari seleksi pelajar berprestasi. Ayah 
tidak 
> menghendaki kakak menjadi PNS. So, selama tingkat tiga saat teman2 
> berkutat dengan pelajaran kebendaharaan negara, saya mencoba 
> mempelajari akuntansi dan pajak sebagai bekal untuk go privat, 
karena 
> saya sadar materi kebendaharaan negara tidak banyak berguna di 
sektor 
> swasta.
>       Bersamaan dengan panasnya suhu politik reformasi, kami lulus 
> D3 dan karena berbagai pertimbangan saya dan beberapa teman memilih 
> tidak ikut wisuda. Kami pun disuruh mengajukan lamaran ke 
Departemen 
> Keuangan. Setelah menunggu beberapa waktu kami dipanggil untuk 
Litsus 
> (Penelitian Khusus). Kami pun heran mengapa harus litsus lagi 
karena 
> sudah pernah mengalaminya waktu masih kuliah. Saat Litsus adalah 
saat 
> yang mendebarkan, karena kita akan diteliti dan diselidiki apakah 
> anti pemerintah atau tidak. Yang paling saya ingat dalam Litsus 
> adalah saat disuruh menjawab siapa 4 tokoh idola. Mungkin 100% 
> menjawab pilihan pertama Presiden Suharto, selanjutnya Habibie, 
> Pangab dan para menterinya. Saya pun tidak ketinggalan, 
no.1:Suharto, 
> 2:Habibie 3:Hasan Al Banna, 4:Yusuf Qordhowi. Karena pilihan ke 3 & 
4 
> itulah saya diwawancara agak lama.
> 
>       Selain melamar ke Depkeu, karena banyaknya waktu luang, 
> iseng2 saya juga melamar ke berbagai perusahaan swasta dengan 
> berbekal surat keterangan lulus dari BPPK (karena ijazah/transkrip 
> masih dalam proses dan langsung ditahan lembaga karena masih ada 
> klausul ikatan dinas 3n+1). Waktu itu dengan Pdnya saya melamar 
> sebagai staff accounting. 
> 
> Akhir Oktober 1998 kami dikumpulkan di ruang rapat Sekditjen 
Anggaran 
> oleh Kepegawaian, dan ternyata kami angkatan 98 diberi surat 
> tertanggal 27 Oktober tentang penempatan tugas diseluruh Indonesia 
> diluar jawa, tanpa ongkos perjalanan dinas (SPPD) dan paling lambat 
> tanggal 1 Desember 1998 harus sudah melapor. Kami juga diberitahu 
> bahwa pengangkatan CPNS sedang diproses dan akan dikirimkan ke 
tempat 
> tugas masing2. Mendapati kenyataan tersebut, banyak diantara kami 
> yang shock. Salah seorang wanita teman kami yang ditempatkan di 
Aceh 
> yang saat itu masih daerah konflik GAM tampak termangu dan 
meneteskan 
> air mata. Saya sendiri sudah membulatkan tekad tidak akan berangkat 
> karena memiliki keyakinan untuk bekerja di swasta.
> 
>       Karena kondisi krisis moneter yang sangat dahsyat, beberapa 
> dari kami mengalami kesulitan menyiapkan ongkos perjalanan ke 
tempat 
> tugas. Alhamdulillah beberapa teman berinisiatif mengumpulkan dana 
> dari kakak2 kelas dan mereka yang bersimpati dengan dukungan 
> rekomendasi dari salah seorang pejabat pusat. Dana tersebut dapat 
> membantu teman2 yang memerlukan ongkos yang cukup besar terutama 
yang 
> ditempatkan di ujung timur, ujung barat, ujung utara, ujung selatan 
> dan beberapa daerah terpencil. 
> 
> Sebelum kami semua berangkat ke tempat tugas, beberapa rekan 
> menghadap kepada Sekretaris Ditjen Anggaran (Bapak MTI. Nurhasmy). 
> Saat itu kami dengan "wajah memelas" mohon kepada beliau agar nasib 
> yang dialami angkatan 98 jangan sampai dialami oleh adik-adik di 
> bawah kami. Biarlah angkatan kami yang terakhir yang mengalaminya. 
> Untuk adik-adik kami, mohon agar sebelum statusnya jelas (CPNS), 
> jangan dulu dikirim ke daerah. Alhamdulillah setelah angkatan 98, 
> tidak ada lagi yang mengalami masa perjuangan seperti kami. Adik2 
> ditempatkan setelah statusnya jelas. Kami tidak tahu apakah hal ini 
> karena permohonan kami ataukah karena pertimbangan "manusiawi" dari 
> pihak yang berwenang. Tetapi sayang, episode kisah kami dulu kini 
> kembali terulang, bahkan dengan penantian yang lebih tak jelas:<). 
> (Kami dulu CPNS bulan Mei 1999 tmt. Maret 1999)
> 
>       Kabar penempatan saya dan kondisi yang akan dihadapi telah 
> diketahui oleh keluarga. Saya mengatakan tidak akan berangkat dan 
> tidak ingin menjadi PNS, Alasan saya kepada Ibu bahwa saya sudah 
> melamar kerja di swasta, PNS gajinya kecil dibanding swasta, dan 
bla-
> bla-bla. Tetapi beliau tetap menginginkan saya menjadi PNS. 
Alasannya 
> PNS lebih aman masa depannya, ada pensiun, dan anggota keluarga 
belum 
> ada yang jadi PNS. Apalagi Ibu trauma dengan nasib kakak saya 
> diswasta, walaupun gajinya lumayan besar, tetapi karena krisis 
> moneter terpaksa di PHK dan belum kembali bekerja hingga sama 
sekali 
> tidak memiliki penghasilan. Akhirnya karena batas waktu melapor ke 
> tempat tugas makin dekat dan surat panggilan kerja dari perusahaan 
> swasta tak kunjung datang, saya memutuskan untuk berangkat, tetapi 
> dengan syarat bahwa Ibu dan keluarga yang lain tidak boleh 
"berharap 
> banyak" karena saya hanya akan menjadi seorang PNS.
> 
>       Tepat 10 hari sebelum tanggal 1 Desember 1998 dan kurang dua 
> bulan sebelum Ramadhan saya dan seorang teman yang asli jakarta 
(How 
> are you "Jack"? God bless U!), sepakat untuk berangkat ke tempat 
> tugas nun jauh di sana. Pertimbangan kami berangkat adalah untuk 
> memenuhi "deadline" yang ditentukan pusat dan sekalian menunjukkan 
> bahwa kami adalah pegawai yang "disiplin dan tepat waktu" syukur2 
> kalau bisa menjadi credit point (ternyata tidak berdampak apa-apa 
> tuh:>). Berbekal tiket kelas ekonomi Kapal Pelni seharga Rp350rb, 
> kami berlayar untuk delapan hari ke depan (jumat ketemu jumat) demi 
> melaksanakan tugas negara:) Kami tidak mampu membeli tiket pesawat 
> kelas ekonomi karena krismon dan harganya Rp2,8juta. 
> 
> Jadilah kami berlayar melewati pulau2 dan daerah yang bahkan 
beberapa 
> diantaranya belum pernah kami dengar. Kabar baiknnya, kelas ekonomi 
> tidak dijamin mendapatkan tempat tidur dan hal ini menimpa kami. 
> Akhirnya kami terpaksa beristirahat secara no maden (berpindah2), 
> dimana ada tempat yang lebih nyaman, maka kami pun segera pindah 
> karena takut keburu ditempati orang lain. Menuju Semarang kami 
tidur 
> di antara tangga dek, saat menyeberang ke pulau Sulawesi kami tidur 
> di lorong antara kamar ABK, dan seterusnya. Selama di kapal kami 
> diajari penumpang lain untuk "nakal" karena memakai fasilitas kamar 
> mandi kelas 2 or 3 yang lebih bersih dan manusiawi, tentu saja 
jangan 
> sampai ketahuan satpam. Setiap mau ke kamar kecil kami bersikap 
> seolah2 penumpang kelas 2 or 3:) Cara ini lebih nyaman dibanding 
> harus berdesak2an mengantri di kamar mandi kelas ekonomi yang tidak 
> manusiawi. 
> 
> Dalam perjalanan kami terkagum-kagum akan karunia Tuhan kepada 
negeri 
> ini, pemandangan yang menakjubkan, biru dimana2, awan berkejaran 
dan 
> berubah bentuk, laut yang bening dan terlihat ikan2 & terumbu 
karang 
> di dasar, ikan2 yang berlompatan di tengah laut dalam dan 
sebagainya. 
> Sayang kita tidak dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan rakyat 
> (tanya kenapa???), bahkan beberapa tempat yang kami singgahi sama 
> sekali belum dialiri listrik.
> 
>       Akhirnya kami sampai di tempat tujuan dan bersiap turun. 
> Sebelum turun kami sepakat memakai seragam ciri khas anak "prodip" 
> celana hitam dan baju putih, karena tujuan kami adalah langsung ke 
> kantor untuk melapor. Dengan susah payah kami berdesak-desakan 
> menuruni tangga kapal dan saat kaki saya hampir menjejak pelabuhan 
> seorang pemuda tinggi berkacamata, berbaju putih celana coklat, 
> memegang lengan saya, "Anak Prodip Ya?" Katanya. Dibelakangnya ada 
> tiga orang lagi menatap kami dengan senyum ramah (Om Jun, Om Andix, 
> Om Kabul & Pak Joko Dwi, thanx alot, U are good guys:>). Kamipun 
lega 
> karena tidak akan kebingungan lagi di daerah yang belum kami kenal 
> karena banyak senior2 yang ramah dan penuh persahabatan. 
> 
> Malamnya setelah beristirahat dan dijamu di tempat para senior, 
saya 
> ke wartel dan menelpon Jakarta untuk mengabari bahwa saya telah 
> selamat sampai tujuan. Sampai suatu saat sebelum menutup telepon 
> Kakak saya meminta maaf karena surat panggilan kerja untuk saya 
dari 
> sebuah perusahaan swasta di Tangerang tidak disampaikan kepada saya 
> karena takut saya akan berubah pikiran. "Suratnya disembunyikan 
> dibawah tempat tidur" Katanya. Sayapun terdiam dan menghela napas. 
> Life must go on & let the wind blows. 
> (The End)
>


Kirim email ke