Kisah yang sangat baik. Menggambarkan sosok Amir yang kuat, tidak cengeng, penuh optimisme. Saya kira kita baik yang tua maupun muda bisa belajar dari kisah ini.
--- In [email protected], "amirsyahya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Membaca kisah-kisah junior yang mendapatkan penugasan di > seluruh Indonesia tanpa status CPNS/PNS dan tanpa biaya perjalanan > dinas seolah-olah mengulang kembali kisah kelam angkatan "reformasi" > 98 hampir sepuluh tahun lalu. Saya mencoba menceritakan kisah lalu > yang syukur2 bisa menjadi hiburan dan alhamdulillah kalau ada > pelajaran dan hikmahnya. > > Ketempat tugas demi Bunda Tercinta. > > Saat tingkat III, saya sudah menentukan pilihan untuk tidak > menjadi PNS. Hal ini dikarenakan pengalaman pribadi saya yang melihat > betapa usaha keras ayah mencari nafkah dengan mendirikan usaha selalu > menemui hambatan yang begitu hebat dari "oknum2" pemerintah baik dari > segi perijinan, persaingan usaha yang tidak sehat, hingga konspirasi > yang mengakibatkan gulung tikar. Bagi saya waktu itu, PNS adalah > pemeras, pemalas dan menyusahkan orang lain. Apalagi dulu, ayah > melarang kakak menerima beasiswa kuliah gratis dengan ikatan dinas > pemerintah setelah lolos dari seleksi pelajar berprestasi. Ayah tidak > menghendaki kakak menjadi PNS. So, selama tingkat tiga saat teman2 > berkutat dengan pelajaran kebendaharaan negara, saya mencoba > mempelajari akuntansi dan pajak sebagai bekal untuk go privat, karena > saya sadar materi kebendaharaan negara tidak banyak berguna di sektor > swasta. > Bersamaan dengan panasnya suhu politik reformasi, kami lulus > D3 dan karena berbagai pertimbangan saya dan beberapa teman memilih > tidak ikut wisuda. Kami pun disuruh mengajukan lamaran ke Departemen > Keuangan. Setelah menunggu beberapa waktu kami dipanggil untuk Litsus > (Penelitian Khusus). Kami pun heran mengapa harus litsus lagi karena > sudah pernah mengalaminya waktu masih kuliah. Saat Litsus adalah saat > yang mendebarkan, karena kita akan diteliti dan diselidiki apakah > anti pemerintah atau tidak. Yang paling saya ingat dalam Litsus > adalah saat disuruh menjawab siapa 4 tokoh idola. Mungkin 100% > menjawab pilihan pertama Presiden Suharto, selanjutnya Habibie, > Pangab dan para menterinya. Saya pun tidak ketinggalan, no.1:Suharto, > 2:Habibie 3:Hasan Al Banna, 4:Yusuf Qordhowi. Karena pilihan ke 3 & 4 > itulah saya diwawancara agak lama. > > Selain melamar ke Depkeu, karena banyaknya waktu luang, > iseng2 saya juga melamar ke berbagai perusahaan swasta dengan > berbekal surat keterangan lulus dari BPPK (karena ijazah/transkrip > masih dalam proses dan langsung ditahan lembaga karena masih ada > klausul ikatan dinas 3n+1). Waktu itu dengan Pdnya saya melamar > sebagai staff accounting. > > Akhir Oktober 1998 kami dikumpulkan di ruang rapat Sekditjen Anggaran > oleh Kepegawaian, dan ternyata kami angkatan 98 diberi surat > tertanggal 27 Oktober tentang penempatan tugas diseluruh Indonesia > diluar jawa, tanpa ongkos perjalanan dinas (SPPD) dan paling lambat > tanggal 1 Desember 1998 harus sudah melapor. Kami juga diberitahu > bahwa pengangkatan CPNS sedang diproses dan akan dikirimkan ke tempat > tugas masing2. Mendapati kenyataan tersebut, banyak diantara kami > yang shock. Salah seorang wanita teman kami yang ditempatkan di Aceh > yang saat itu masih daerah konflik GAM tampak termangu dan meneteskan > air mata. Saya sendiri sudah membulatkan tekad tidak akan berangkat > karena memiliki keyakinan untuk bekerja di swasta. > > Karena kondisi krisis moneter yang sangat dahsyat, beberapa > dari kami mengalami kesulitan menyiapkan ongkos perjalanan ke tempat > tugas. Alhamdulillah beberapa teman berinisiatif mengumpulkan dana > dari kakak2 kelas dan mereka yang bersimpati dengan dukungan > rekomendasi dari salah seorang pejabat pusat. Dana tersebut dapat > membantu teman2 yang memerlukan ongkos yang cukup besar terutama yang > ditempatkan di ujung timur, ujung barat, ujung utara, ujung selatan > dan beberapa daerah terpencil. > > Sebelum kami semua berangkat ke tempat tugas, beberapa rekan > menghadap kepada Sekretaris Ditjen Anggaran (Bapak MTI. Nurhasmy). > Saat itu kami dengan "wajah memelas" mohon kepada beliau agar nasib > yang dialami angkatan 98 jangan sampai dialami oleh adik-adik di > bawah kami. Biarlah angkatan kami yang terakhir yang mengalaminya. > Untuk adik-adik kami, mohon agar sebelum statusnya jelas (CPNS), > jangan dulu dikirim ke daerah. Alhamdulillah setelah angkatan 98, > tidak ada lagi yang mengalami masa perjuangan seperti kami. Adik2 > ditempatkan setelah statusnya jelas. Kami tidak tahu apakah hal ini > karena permohonan kami ataukah karena pertimbangan "manusiawi" dari > pihak yang berwenang. Tetapi sayang, episode kisah kami dulu kini > kembali terulang, bahkan dengan penantian yang lebih tak jelas:<). > (Kami dulu CPNS bulan Mei 1999 tmt. Maret 1999) > > Kabar penempatan saya dan kondisi yang akan dihadapi telah > diketahui oleh keluarga. Saya mengatakan tidak akan berangkat dan > tidak ingin menjadi PNS, Alasan saya kepada Ibu bahwa saya sudah > melamar kerja di swasta, PNS gajinya kecil dibanding swasta, dan bla- > bla-bla. Tetapi beliau tetap menginginkan saya menjadi PNS. Alasannya > PNS lebih aman masa depannya, ada pensiun, dan anggota keluarga belum > ada yang jadi PNS. Apalagi Ibu trauma dengan nasib kakak saya > diswasta, walaupun gajinya lumayan besar, tetapi karena krisis > moneter terpaksa di PHK dan belum kembali bekerja hingga sama sekali > tidak memiliki penghasilan. Akhirnya karena batas waktu melapor ke > tempat tugas makin dekat dan surat panggilan kerja dari perusahaan > swasta tak kunjung datang, saya memutuskan untuk berangkat, tetapi > dengan syarat bahwa Ibu dan keluarga yang lain tidak boleh "berharap > banyak" karena saya hanya akan menjadi seorang PNS. > > Tepat 10 hari sebelum tanggal 1 Desember 1998 dan kurang dua > bulan sebelum Ramadhan saya dan seorang teman yang asli jakarta (How > are you "Jack"? God bless U!), sepakat untuk berangkat ke tempat > tugas nun jauh di sana. Pertimbangan kami berangkat adalah untuk > memenuhi "deadline" yang ditentukan pusat dan sekalian menunjukkan > bahwa kami adalah pegawai yang "disiplin dan tepat waktu" syukur2 > kalau bisa menjadi credit point (ternyata tidak berdampak apa-apa > tuh:>). Berbekal tiket kelas ekonomi Kapal Pelni seharga Rp350rb, > kami berlayar untuk delapan hari ke depan (jumat ketemu jumat) demi > melaksanakan tugas negara:) Kami tidak mampu membeli tiket pesawat > kelas ekonomi karena krismon dan harganya Rp2,8juta. > > Jadilah kami berlayar melewati pulau2 dan daerah yang bahkan beberapa > diantaranya belum pernah kami dengar. Kabar baiknnya, kelas ekonomi > tidak dijamin mendapatkan tempat tidur dan hal ini menimpa kami. > Akhirnya kami terpaksa beristirahat secara no maden (berpindah2), > dimana ada tempat yang lebih nyaman, maka kami pun segera pindah > karena takut keburu ditempati orang lain. Menuju Semarang kami tidur > di antara tangga dek, saat menyeberang ke pulau Sulawesi kami tidur > di lorong antara kamar ABK, dan seterusnya. Selama di kapal kami > diajari penumpang lain untuk "nakal" karena memakai fasilitas kamar > mandi kelas 2 or 3 yang lebih bersih dan manusiawi, tentu saja jangan > sampai ketahuan satpam. Setiap mau ke kamar kecil kami bersikap > seolah2 penumpang kelas 2 or 3:) Cara ini lebih nyaman dibanding > harus berdesak2an mengantri di kamar mandi kelas ekonomi yang tidak > manusiawi. > > Dalam perjalanan kami terkagum-kagum akan karunia Tuhan kepada negeri > ini, pemandangan yang menakjubkan, biru dimana2, awan berkejaran dan > berubah bentuk, laut yang bening dan terlihat ikan2 & terumbu karang > di dasar, ikan2 yang berlompatan di tengah laut dalam dan sebagainya. > Sayang kita tidak dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan rakyat > (tanya kenapa???), bahkan beberapa tempat yang kami singgahi sama > sekali belum dialiri listrik. > > Akhirnya kami sampai di tempat tujuan dan bersiap turun. > Sebelum turun kami sepakat memakai seragam ciri khas anak "prodip" > celana hitam dan baju putih, karena tujuan kami adalah langsung ke > kantor untuk melapor. Dengan susah payah kami berdesak-desakan > menuruni tangga kapal dan saat kaki saya hampir menjejak pelabuhan > seorang pemuda tinggi berkacamata, berbaju putih celana coklat, > memegang lengan saya, "Anak Prodip Ya?" Katanya. Dibelakangnya ada > tiga orang lagi menatap kami dengan senyum ramah (Om Jun, Om Andix, > Om Kabul & Pak Joko Dwi, thanx alot, U are good guys:>). Kamipun lega > karena tidak akan kebingungan lagi di daerah yang belum kami kenal > karena banyak senior2 yang ramah dan penuh persahabatan. > > Malamnya setelah beristirahat dan dijamu di tempat para senior, saya > ke wartel dan menelpon Jakarta untuk mengabari bahwa saya telah > selamat sampai tujuan. Sampai suatu saat sebelum menutup telepon > Kakak saya meminta maaf karena surat panggilan kerja untuk saya dari > sebuah perusahaan swasta di Tangerang tidak disampaikan kepada saya > karena takut saya akan berubah pikiran. "Suratnya disembunyikan > dibawah tempat tidur" Katanya. Sayapun terdiam dan menghela napas. > Life must go on & let the wind blows. > (The End) >
