sorri miliser dipake japri sebntar, pencerahan buat semua ko,...

Agree mir, syukurlah kalo lo emang enjoy, kata orang bijak kita semua
 ini memang sedang bertualang menuju jalan pulang, soal jalannya ya
milih masing masing ada yang jalur tol, ada yang pengen singgah sana
sini dulu ya terserah individunya masing masing, yang dinilai bukan
jalannya ko, tapi apa yang dilakukan dijalan, apa lemparin rumah
orang, apa bikin seneng orang, biarlah juri yang nilai dalam hal ini
yg kompeten kan malaikat ya,  bukan kita sama kita... 
kadang kita dinilai buruk dimata manusia belum tentu demikian dimata
tuhan....

okay keep free ure mind and speak up...

zamzam  

--- In [email protected], amir syah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> He.he.he:) Saya nulis cuma buat berbagi pengalaman, gak ada unsur
apa2. Toh gak ada satupun keluhan saya dalam tulisan itu. Saya juga
seorang petualang dan truly, saya sangat enjoy dengan pengalaman saya.
>    
>   Saya termasuk orang yang nganggap prinsip/urusan religi itu adalah
urusan pribadi selama prinsip itu gak merugikan orang lain/publik.
Saya juga gak bisa menilai seseorang itu bersyukur atau kufur nikmat,
karena semuanya tergantung persepsi dan sangat subjektif.
>   Well, kalo kita merasa sholeh or sholeha, dan menguasai berbagai
ayat, ada baiknya hal tersebut dipakai terlebih dahulu untuk diri
sendiri dan bukan untuk menilai orang lain:)
>    
>   Misal: 
>   Saya gak akan pernah menyarankan seseorang untuk istigfar karena
pemikirannya karena hal itu adalah urusan pribadi dan bukan urusan
saya serta tidak merugikan orang lain. Sebaliknya, saya akan
mengingatkan seseorang akan sumpah jabatannya karena bila dilanggar
maka kepentingan publik akan dirugikan karena KKN, dsb.
>    
>   Negeri ini sangat banyak memiliki orang2 yang ahli agama dan
pemahamannya agamanya baik, tapi sayang, sering dipakai untuk menjudge
pribadi orang lain. Hasilnya seperti negeri kita sekarang ini:)
>    
>   Kalo ente tau apa itu "kuat" saya sangat bersyukur, dan pakelah
untuk diri sendiri, karena setiap orang punya prinsip religinya sendiri:)
> 
> jm_hndsm <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Pengalaman hidup ya Bro..., apakah setelah sepuluh tahun
ini telah
> berubah ? 
> Maaf bro, kadang kita merasa luck is not by my side karena kita
> sendiri yg menilainya, apa yg amir rasakan apa yang amir alami akan
> terasa lain bila dipandang dari sudut berbeda, inget iklan rokok jarum
> yg intinya jiwa petualang selalu memandang hal yg berbeda untuk
> setiap kesulitan, baiknya itulah yang harus ada di pikiran amir dan
> adik adik lainnya... 
> bukankah kita mengucap syukur lebih dari tujuh belas kali dalam sehari
> ( setiap baca ayat ke 2 alfatihah bro...)
> Agama mengajarkan kita untuk tetep enjoy, happy dan optimist juga
> evaluasi diri setiap saat ( saat ngucapin istigfar bro )
> Hampir semua prodip ( Hampir semua ) ngalamin apa yang elo alamin, 
> mulai dari merubah cita cita demi yg tercinta..
> melakukan perjalanan yg tidak diinginkan..
> sampai mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan yg diharapkan..
> but thats life, 
> dia tidak selalu menyediakan apa yang kita inginkan...
> walaupun sepenuh hati kita perjuangkan...
> 
> saya kutip pesan dari orang yg saya hormati saat saya pergi pertama
> kali persis seperti ini :
> ................
> Bro,
> kita idup
> diatas jaring jaring yang rapuh
> cinta yang rapuh
> rindu yang rapuh
> so be strong...
> ( elo tau kan apa yang kuat itu..)
> 
> Aa
> ...............
> 
> semoga inspiring your days okay..
> zamzam
> 
> > --- In [email protected], "amirsyahya"
> > <amirsyahya@> wrote:
> > >
> > > Membaca kisah-kisah junior yang mendapatkan penugasan di 
> > > seluruh Indonesia tanpa status CPNS/PNS dan tanpa biaya perjalanan 
> > > dinas seolah-olah mengulang kembali kisah kelam angkatan
"reformasi" 
> > > 98 hampir sepuluh tahun lalu. Saya mencoba menceritakan kisah lalu 
> > > yang syukur2 bisa menjadi hiburan dan alhamdulillah kalau ada 
> > > pelajaran dan hikmahnya.
> > > 
> > > Ketempat tugas demi Bunda Tercinta.
> > > 
> > > Saat tingkat III, saya sudah menentukan pilihan untuk tidak 
> > > menjadi PNS. Hal ini dikarenakan pengalaman pribadi saya yang
melihat 
> > > betapa usaha keras ayah mencari nafkah dengan mendirikan usaha
selalu 
> > > menemui hambatan yang begitu hebat dari "oknum2" pemerintah baik
dari 
> > > segi perijinan, persaingan usaha yang tidak sehat, hingga
konspirasi 
> > > yang mengakibatkan gulung tikar. Bagi saya waktu itu, PNS adalah 
> > > pemeras, pemalas dan menyusahkan orang lain. Apalagi dulu, ayah 
> > > melarang kakak menerima beasiswa kuliah gratis dengan ikatan dinas 
> > > pemerintah setelah lolos dari seleksi pelajar berprestasi. Ayah
tidak 
> > > menghendaki kakak menjadi PNS. So, selama tingkat tiga saat teman2 
> > > berkutat dengan pelajaran kebendaharaan negara, saya mencoba 
> > > mempelajari akuntansi dan pajak sebagai bekal untuk go privat,
karena 
> > > saya sadar materi kebendaharaan negara tidak banyak berguna di
sektor 
> > > swasta.
> > > Bersamaan dengan panasnya suhu politik reformasi, kami lulus 
> > > D3 dan karena berbagai pertimbangan saya dan beberapa teman memilih 
> > > tidak ikut wisuda. Kami pun disuruh mengajukan lamaran ke
Departemen 
> > > Keuangan. Setelah menunggu beberapa waktu kami dipanggil untuk
Litsus 
> > > (Penelitian Khusus). Kami pun heran mengapa harus litsus lagi
karena 
> > > sudah pernah mengalaminya waktu masih kuliah. Saat Litsus adalah
saat 
> > > yang mendebarkan, karena kita akan diteliti dan diselidiki apakah 
> > > anti pemerintah atau tidak. Yang paling saya ingat dalam Litsus 
> > > adalah saat disuruh menjawab siapa 4 tokoh idola. Mungkin 100% 
> > > menjawab pilihan pertama Presiden Suharto, selanjutnya Habibie, 
> > > Pangab dan para menterinya. Saya pun tidak ketinggalan,
no.1:Suharto, 
> > > 2:Habibie 3:Hasan Al Banna, 4:Yusuf Qordhowi. Karena pilihan ke
3 & 4 
> > > itulah saya diwawancara agak lama.
> > > 
> > > Selain melamar ke Depkeu, karena banyaknya waktu luang, 
> > > iseng2 saya juga melamar ke berbagai perusahaan swasta dengan 
> > > berbekal surat keterangan lulus dari BPPK (karena ijazah/transkrip 
> > > masih dalam proses dan langsung ditahan lembaga karena masih ada 
> > > klausul ikatan dinas 3n+1). Waktu itu dengan Pdnya saya melamar 
> > > sebagai staff accounting. 
> > > 
> > > Akhir Oktober 1998 kami dikumpulkan di ruang rapat Sekditjen
Anggaran 
> > > oleh Kepegawaian, dan ternyata kami angkatan 98 diberi surat 
> > > tertanggal 27 Oktober tentang penempatan tugas diseluruh Indonesia 
> > > diluar jawa, tanpa ongkos perjalanan dinas (SPPD) dan paling lambat 
> > > tanggal 1 Desember 1998 harus sudah melapor. Kami juga diberitahu 
> > > bahwa pengangkatan CPNS sedang diproses dan akan dikirimkan ke
tempat 
> > > tugas masing2. Mendapati kenyataan tersebut, banyak diantara kami 
> > > yang shock. Salah seorang wanita teman kami yang ditempatkan di
Aceh 
> > > yang saat itu masih daerah konflik GAM tampak termangu dan
meneteskan 
> > > air mata. Saya sendiri sudah membulatkan tekad tidak akan berangkat 
> > > karena memiliki keyakinan untuk bekerja di swasta.
> > > 
> > > Karena kondisi krisis moneter yang sangat dahsyat, beberapa 
> > > dari kami mengalami kesulitan menyiapkan ongkos perjalanan ke
tempat 
> > > tugas. Alhamdulillah beberapa teman berinisiatif mengumpulkan dana 
> > > dari kakak2 kelas dan mereka yang bersimpati dengan dukungan 
> > > rekomendasi dari salah seorang pejabat pusat. Dana tersebut dapat 
> > > membantu teman2 yang memerlukan ongkos yang cukup besar terutama
yang 
> > > ditempatkan di ujung timur, ujung barat, ujung utara, ujung selatan 
> > > dan beberapa daerah terpencil. 
> > > 
> > > Sebelum kami semua berangkat ke tempat tugas, beberapa rekan 
> > > menghadap kepada Sekretaris Ditjen Anggaran (Bapak MTI. Nurhasmy). 
> > > Saat itu kami dengan "wajah memelas" mohon kepada beliau agar nasib 
> > > yang dialami angkatan 98 jangan sampai dialami oleh adik-adik di 
> > > bawah kami. Biarlah angkatan kami yang terakhir yang mengalaminya. 
> > > Untuk adik-adik kami, mohon agar sebelum statusnya jelas (CPNS), 
> > > jangan dulu dikirim ke daerah. Alhamdulillah setelah angkatan 98, 
> > > tidak ada lagi yang mengalami masa perjuangan seperti kami. Adik2 
> > > ditempatkan setelah statusnya jelas. Kami tidak tahu apakah hal ini 
> > > karena permohonan kami ataukah karena pertimbangan "manusiawi" dari 
> > > pihak yang berwenang. Tetapi sayang, episode kisah kami dulu kini 
> > > kembali terulang, bahkan dengan penantian yang lebih tak jelas:<). 
> > > (Kami dulu CPNS bulan Mei 1999 tmt. Maret 1999)
> > > 
> > > Kabar penempatan saya dan kondisi yang akan dihadapi telah 
> > > diketahui oleh keluarga. Saya mengatakan tidak akan berangkat dan 
> > > tidak ingin menjadi PNS, Alasan saya kepada Ibu bahwa saya sudah 
> > > melamar kerja di swasta, PNS gajinya kecil dibanding swasta, dan
bla-
> > > bla-bla. Tetapi beliau tetap menginginkan saya menjadi PNS.
Alasannya 
> > > PNS lebih aman masa depannya, ada pensiun, dan anggota keluarga
belum 
> > > ada yang jadi PNS. Apalagi Ibu trauma dengan nasib kakak saya 
> > > diswasta, walaupun gajinya lumayan besar, tetapi karena krisis 
> > > moneter terpaksa di PHK dan belum kembali bekerja hingga sama
sekali 
> > > tidak memiliki penghasilan. Akhirnya karena batas waktu melapor ke 
> > > tempat tugas makin dekat dan surat panggilan kerja dari perusahaan 
> > > swasta tak kunjung datang, saya memutuskan untuk berangkat, tetapi 
> > > dengan syarat bahwa Ibu dan keluarga yang lain tidak boleh
"berharap 
> > > banyak" karena saya hanya akan menjadi seorang PNS.
> > > 
> > > Tepat 10 hari sebelum tanggal 1 Desember 1998 dan kurang dua 
> > > bulan sebelum Ramadhan saya dan seorang teman yang asli jakarta
(How 
> > > are you "Jack"? God bless U!), sepakat untuk berangkat ke tempat 
> > > tugas nun jauh di sana. Pertimbangan kami berangkat adalah untuk 
> > > memenuhi "deadline" yang ditentukan pusat dan sekalian menunjukkan 
> > > bahwa kami adalah pegawai yang "disiplin dan tepat waktu" syukur2 
> > > kalau bisa menjadi credit point (ternyata tidak berdampak apa-apa 
> > > tuh:>). Berbekal tiket kelas ekonomi Kapal Pelni seharga Rp350rb, 
> > > kami berlayar untuk delapan hari ke depan (jumat ketemu jumat) demi 
> > > melaksanakan tugas negara:) Kami tidak mampu membeli tiket pesawat 
> > > kelas ekonomi karena krismon dan harganya Rp2,8juta. 
> > > 
> > > Jadilah kami berlayar melewati pulau2 dan daerah yang bahkan
beberapa 
> > > diantaranya belum pernah kami dengar. Kabar baiknnya, kelas ekonomi 
> > > tidak dijamin mendapatkan tempat tidur dan hal ini menimpa kami. 
> > > Akhirnya kami terpaksa beristirahat secara no maden (berpindah2), 
> > > dimana ada tempat yang lebih nyaman, maka kami pun segera pindah 
> > > karena takut keburu ditempati orang lain. Menuju Semarang kami
tidur 
> > > di antara tangga dek, saat menyeberang ke pulau Sulawesi kami tidur 
> > > di lorong antara kamar ABK, dan seterusnya. Selama di kapal kami 
> > > diajari penumpang lain untuk "nakal" karena memakai fasilitas kamar 
> > > mandi kelas 2 or 3 yang lebih bersih dan manusiawi, tentu saja
jangan 
> > > sampai ketahuan satpam. Setiap mau ke kamar kecil kami bersikap 
> > > seolah2 penumpang kelas 2 or 3:) Cara ini lebih nyaman dibanding 
> > > harus berdesak2an mengantri di kamar mandi kelas ekonomi yang tidak 
> > > manusiawi. 
> > > 
> > > Dalam perjalanan kami terkagum-kagum akan karunia Tuhan kepada
negeri 
> > > ini, pemandangan yang menakjubkan, biru dimana2, awan berkejaran
dan 
> > > berubah bentuk, laut yang bening dan terlihat ikan2 & terumbu
karang 
> > > di dasar, ikan2 yang berlompatan di tengah laut dalam dan
sebagainya. 
> > > Sayang kita tidak dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan rakyat 
> > > (tanya kenapa???), bahkan beberapa tempat yang kami singgahi sama 
> > > sekali belum dialiri listrik.
> > > 
> > > Akhirnya kami sampai di tempat tujuan dan bersiap turun. 
> > > Sebelum turun kami sepakat memakai seragam ciri khas anak "prodip" 
> > > celana hitam dan baju putih, karena tujuan kami adalah langsung ke 
> > > kantor untuk melapor. Dengan susah payah kami berdesak-desakan 
> > > menuruni tangga kapal dan saat kaki saya hampir menjejak pelabuhan 
> > > seorang pemuda tinggi berkacamata, berbaju putih celana coklat, 
> > > memegang lengan saya, "Anak Prodip Ya?" Katanya. Dibelakangnya ada 
> > > tiga orang lagi menatap kami dengan senyum ramah (Om Jun, Om Andix, 
> > > Om Kabul & Pak Joko Dwi, thanx alot, U are good guys:>). Kamipun
lega 
> > > karena tidak akan kebingungan lagi di daerah yang belum kami kenal 
> > > karena banyak senior2 yang ramah dan penuh persahabatan. 
> > > 
> > > Malamnya setelah beristirahat dan dijamu di tempat para senior,
saya 
> > > ke wartel dan menelpon Jakarta untuk mengabari bahwa saya telah 
> > > selamat sampai tujuan. Sampai suatu saat sebelum menutup telepon 
> > > Kakak saya meminta maaf karena surat panggilan kerja untuk saya
dari 
> > > sebuah perusahaan swasta di Tangerang tidak disampaikan kepada saya 
> > > karena takut saya akan berubah pikiran. "Suratnya disembunyikan 
> > > dibawah tempat tidur" Katanya. Sayapun terdiam dan menghela napas. 
> > > Life must go on & let the wind blows. 
> > > (The End)
> > >
> >
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket:
mail, news, photos & more. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke