bener ni kata Pak H.Sijabat.....
Global Worming men......!
kalo punya kendaraan asepnya ga bagus.... ikhlasin lah....
kalo punya AC, ga usah dingin2 kali.... biasa aja...
(nyang suse ni) INDUSTRI kakap yang ga peduli thd lingkungan...(apalagi dpt 
ijin usaha????)
mari kita tanam sebanyak mungkin pohon nyang bermanpaat.....
kata Mas Thukul ... GLOBAL WORMING !!!!
kata pilmnye Kevin Cotsner "WATER WORLD"    dah pade nonton belum???
Berarti nyang pada demo pemeliharaan Lingkungan itu bener ya Pak?
Berarti kita juga perlu mulai saat ini...
Nanem pohon kek, buang sampah ketempatnya kek, ape kek....
nyang penting ade usahanye


                                 -SAVE THE WORLD-


----- Original Message ----
From: Heryanto Sijabat <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, July 30, 2007 8:11:45 AM
Subject: [Perbendaharaan List] Global Warming









  


    
            Info dari mailist sebelah,

  Mudah2an dapat berguna untuk kita semua.



*Tahun 2040 : 2.000 pulau tenggelam*



Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu

masalah yang perlu kita risaukan.



"Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa

mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah

Anda berpikir.



Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC)

memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat

mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu

merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu

itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang)

lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus

memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga

kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan

orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu.

Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin

luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap,

begitu pula nyawa manusia.



*Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi*. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu

minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun.

Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per

tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti

satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di

Papua.



Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan

Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata,

permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi

terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta

(seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti :

Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.



Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya

kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es

yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan

laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat.

Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis

kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang

sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan

orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat

tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.



Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR),

menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi

gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang

dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah

untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa

menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan

lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan

teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk

ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini

juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi

gas rumah kaca tadi.



Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah

kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas

alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun

membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga

masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan

clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses

pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi.

Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara

itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama.

Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.



Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim.

Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki

bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan,

dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus

bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak

orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari

separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35%

rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara

Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi

masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu

karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas

rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah

menjadi permukiman atau

hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5

tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang

habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu,

anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.



Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet

Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk

anak-anak kita nanti.



Cara-cara praktis dan sederhana 'mendinginkan' bumi :



1. Matikan listrik.

(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan

standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak.

Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN

menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).

2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya

agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).

3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).

4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur

suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).

5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).

6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.

7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.

8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang

memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.

9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).

10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).

11. Say no to plastic.

Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau

Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka

turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.



------------ --------- --------- ---

Got a little couch potato? 

Check out fun summer activities for kids.



[Non-text portions of this message have been removed]





    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->








       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222

[Non-text portions of this message have been removed]



Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun.
Hentikan sekarang juga. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/perbendaharaan-list/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/perbendaharaan-list/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke