Pak Risfan ysh, Saya kira kita sepandangan bila 'riset' sangat dibutuhkan untuk pengembangan 'ekonomi/industri kreatif'. Walaupun suatu kawasan telah ditentukan sebagai pusat/kawasan ekonomi unggulan, namun bila tidak ada kegiatan riset di tempat tersebut, maka niscaya pertumbuhannya akan 'collapse'. Mudah-mudahan ini dapat menjawab persoalan Kapet, dan juga Batam.
Batam bila hanya dipertimbangkan untuk 'tumpahan' Singapura atau katakanlah sampai skala Sijori; maka yang dibangun selama ini hanyalah 'pabrik'. Walaupun diiming-imingi tax-holiday, infrastruktur, buruh murah, dan insentif lainnya; pada suatu ketika juga collapse. Seperti kejadian 10an tahun yang lalu, investor beramai-ramai meninggalkan Batam dan pindah ke Vietnam. Pada saat ini daya tarik Batam kelihatannya mulai sirna; apalagi sejak tahun lalu Kapolri sudah menindak tegas bisnis-bisnis judi dan hiburan. Sekarang penawaran Batam hanya untuk 'hunian', terutama dengan memanfaatkan PP 41/1996. Namun bila hanya itu, sepertinya 'khittah' OB (otorita Batam) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi makin jauh panggang daripada api. Memang di tahap dini kegiatan riset bisa memanfaatkan perguruan tinggi setempat, walau kenyataannya banyak dilakukan sebagai kegiatan internal perusahaan. Namun dengan memadankan riset pemerintah dan swasta di suatu lokasi, saya kira akan dapat mengalirkan sinergi. Beberapa pusat riset yang saya ketahui di antaranya : di Biak ada CSIRO (India) yang khusus untuk penelitian klimatologi, dan Lapan; sehingga potensial saja Bandara Kaisiepo menjadi bandar antariksa. Di Teluk Ambon ada balai riset BPPT kalau tidak salah, untuk penelitian kelautan dan biota laut. Kemarin di Sorong ketemu informasi tentang balai riset perikanan di Pulau Jefman. Saya kira balai-balai riset tersebut bersimbiosis mutualisma dengan aktivitas perekonomian di sekitar tempat tersebut. Apalagi bila ada riset swasta yang turut bersinergi. Sehingga kalau mau mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi, perlu dilihat daya dukung riset ekonomi/industri-nya. Kalau tidak, kita hanya membuat 'pasar besar' atau 'pabrik besar' saja yang tumbuh selama semusim. Demikian dulu pak. Salam. -ekadj 2008/6/21 Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>: > Bung Eka, > > Trims atas tanggapanya. Memang betul harus ada penyegaran yang terus > menerus. Dan, dalam klaster (yang dibentuk atau terbentuk) memang harus ada > saling keterkaitan antara pengembang "software" kreativitas (universitas, > lembaga riset) dengan kegiatan "hardware"nya yang mewujudkan secara fisik. > Kecuali kalau yang diproduksi memang 'software'. > > Kelembagaan (formal/informal) yang menjalin hubungan itulah yang perlu > dibangun. Sekarang yang nilainya cukup baik barangkali memang bidang ICT > (informasi, computer, telekomunikasi). Beberapa waktu yang lalu saya ketemu > beberapa dosen ITB yang mengembangkan software dan desain chip, yang > menerima pekerjaan dari hampir semua merek handphone dan PDA ternama, dan > computer/software. mereka memang didukung oleh environment keilmuan yang > bagus di Bandung. Tapi mereka mengeluhkan kok terima order dan > sepotong-sepotong. Buyer driven begitu. Idealnya, yang mereka citakan ya > mereka bisa menentukan, dengan desai paket-paket produk yang integrated. > Kelemahan ini karena belum ada 'kelembagaan' yang handal dalam 'klaster' > mereka. > > > > Tapi disisi lain, yang seni (rupa) mungkin bisa dijalin hubungan dengan > kelompok pengrajin. Sehingga secara periodik ada desain yang diperkenalkan, > yang sesuai dengan perkembangan selera kelompok pembelinya. > > BPPT tahun lalu mengadakan workshop 'pusat-pusat' pendorong pengembangan > teknologi (dan desain produk) terapan yang menjadi 'otak' dari > kalster-klster ekonomi lokal, baik dari perguruan tinggi dari berbagai > daerah, maupun dari perusahaan swasta seperti yang didorong oleh Yayasan > Dana bakti Astra yang juga aga di beberapa daerah, Gtz, Swiss-Contact dst. > Ini semua menunjukkan bahwa trend ke arah yang mendukung pengembangan > "creative industry" itu ada juga dasarnya. Dan, kita berharap bisa berdampak > besar bagi pertumbuhan regional. > > > > Salam, > > Risfan Munir >
