Saya kira wawasan saya sudah mulai old fashioned, dan perlu banyak
belajar lagi. Begitu juga 'buku-buku teks' kita.

Untuk US, saya kira mereka masih merujuk Roscoe Pound untuk hukum; namun
entah untuk bidang lain. Di Indonesia pemikiran domestik juga sudah
mulai mandiri, untuk administrasi negara merujuk LAN, administrasi
daerah sepertinya masih diuji coba mahasiswa2 STPDN/STIP. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Eko Budi Kurniawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Hallo Bos, koreksi sedikit, yg saya maksud bukan Christian Lefevre
tapi Henri Lefebvre... aih kalau soal arsitektur, urban design, dan
urban planning, arsitek2 dan planners Belanda dan Swiss pun tergila2
Lefebvre bisa dilihat di sini:
> http://www.henrilefebvre.org/hlt/
>
> Kalau kata beberapa kawan saya di sosiologi dan antropologi US, sekrg
ini di US kalau membahas ttg power, knowledge, dan tidak mengutip
Foucault akan terasa aneh... Postmo planners dan geographers pun
keranjingan mengutip Foucault dan Lefebvre (Soja misalkan)... yah inilah
yg namanya academic fashion
>
> soal ilmu hukum nanti saya belajar dari bos Eka saja...
>
> salam..
>
>
>
> --- On Wed, 7/9/08, ekadj08 [EMAIL PROTECTED] wrote:
> From: ekadj08 [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [perkotaan] Re: Jalan Negara
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, July 9, 2008, 5:25 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Eko SMHk ysh,
> Sebenarnya ini hanya nostalgia saja. Dulu setiap mahasiswa hukum yang
ptn/pts-nya masuk konsorsium, pada tahap terakhir ada ujian filsafat
hukum, dan langsung diuji oleh Prof Mochtar atau Prof Komar. Jarang yang
ada sekali ujian langsung lulus, rata-rata 3-5 ujian baru lulus, dan
kesempatan per ujian adalah tiap semester.
>
> Saya dulu cukup mendalami khususnya August Comte. Namun Foucault
sepertinya nama baru. Kemarin saya sempat melihat bahan presentasi Pak
Nandang dan kelihatannya Foucault sudah mulai disebut. Sepertinya
populer di Fisip.
>
> Kalau Lefe[b]vre dulu pernah sedikit diulas. Namun kelihatannya dia
kurang disukai kalangan Adam Smithian, seperti di Belanda.
>
> Dengan penguasaan filsafat hukum ini, saya yakin anda bisa langsung
lulus ujiannya Prof Mochtar, dan boleh berpraktek sebagai `legal
drafter' (perancang kebijakan), yang sepantasnya. Mungkin perlu sedikit
lagi pendalaman tentang teori legislasi (konstruksi hukum). Salam.
>
> -ekadj
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Eko Budi Kurniawan ekobk@ wrote:
> >
> > Pak Eka ysh,
> >
> > saya kira difusi ilmu dan pengetahuan di Eropa sejak masa lalu sudah
cukup baik... Marx misalkan banyak belajar dari Hegel, tetapi ketika dia
tinggal di Paris (pada masa itu disebut sebagai home of all radical
intellectuals) dia juga banyak membaca St Simon, Compte, Balzac... juga
membaca Adam Smith dan Ricardo, dan tertarik dengan proses
industrialisasi dan urbanisasi Inggris... selanjutnya Weber juga banyak
membaca dan dipengaruhi Marx, terutama ketika membahas stratifikasi
kelas, power, dan status... sementara generasi berikut dari radicals di
Paris seperti Althusser dan Lefebvre dipengaruhi oleh Marx...
> >
> > difusi pemikiran tanpa batas negara, tanpa chauvinisme, saling
mempengaruhi. .. tapi mungkin ada karakteristik khusus yg membedakan
tradisional Jerman dengan progressive Prancis dan Liberal Inggris, di
masa itu...
> >
> > Kalau saya kemarin2 banyak mendiskusikan pemikir2 Prancis, itu
karena kebetulan saja saya sedang membaca mereka... menarik sekali
mengetahui konsep production of space nya Lefebvre dan pengaruhnya
terhadap urban planning, design, dan architecture misalkan... atau
pemikiran Foucault akan "ruang"... pemikiran2 kedua orang ini sangat
mempengaruhi planners dan geographers Postmo di US...next time kita
sharing, soalnya ilmu saya sendiri masih jauh dari "mengerti".. .
> >
> > Uh saya hanya pembaca awam, jauh dari ahli... kelihatannya konteks
ini sudah melenceng jauh dari judul milis "perkotaan" ini ya? jadi mohon
dimaafkan...
> >
> > salam..
> >
> >
> > --- On Tue, 7/8/08, ekadj08 4ekadj@ wrote:
> >
> > From: ekadj08 4ekadj@
> > Subject: [perkotaan] Jalan Negara
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Tuesday, July 8, 2008, 4:19 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Eko ysh,
> > Sebelumnya saya senang sekali menerima perkenalan teman-temannya Pak
Eko, walaupun sebagian besar di antaranya sudah meninggal dunia. Dan
saya menghargai suatu sikap ilmiah, bila kita harus menghargai
orang-orang yang telah berpikir lebih duluan dari kita. Suatu pemikiran
itu sebenarnya tak lepas dari pemikiran yang lain dari masa-masa
sebelumnya.
> >
> > Saya kira Perancis merupakan tempat banyak diproduksi ideologi dan
pemikiran kenegaraan, karena sejarah dan pengalaman kenegaraannya.
Termasuk menginspirasi pemikir-pemikir mancanegara, semacam Marx dan
Weber, dari abad dan generasi yang lampau. Kemungkinan karena kejayaan
dan `bakat' Romawi tersimpan di tempat ini, dan terasa pengaruhnya
sampai sekarang ini hingga ke Indonesia.
> >
> > Governmentality sepertinya bisa dibedah dari berbagai sudut
keilmuan. Dalam ilmu hukum seharusnya masuk ke dalam disiplin Hukum
Administrasi Negara, tentang bagaimana seharusnya penyelenggara Negara
itu bekerja, secara hukum formil. Kita punya rekan di milis yang pakar
masalah ini, Pak Nandang dan Hernadi. Namun secara hukum materiil, anda
sudah mendemonstrasikan keahlian anda. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Eko Budi KURNIAWAN ekobudik@
wrote:
> > >
> > > Pak Wawo, Pak Eka ysh.,
> > >
> > > pertama soal filosofi Postmodern.. . yg menarik bagi saya adalah
bahwa walaupun banyak pemikir2 Prancis dikategorikan sebagai Postmo
seperti Lyotard, Baudrillard, Foucault, Derrida, tetapi di Prancis
sendiri Postmodernism, Poststructuralism, dll hanyalah dianggap sebagai
label2 saja yg dititik tertentu bahkan patut dicurigai sebagai bentuk
scientific heresy... ini terjadi karena kritik terhadap Modernism adalah
hal yg wajar dan terus menerus dilakukan, sehingga sebenarnya tidak ada
itu yg disebut Postmo, tetapi mereka adalah pemikir2 Modernism yg memang
harus dan selalu melakukan kritik thd Modernism itu sendiri... jadi
apakah kita ini memang sebentuk produk dari Postmodernism? atau kita
sebenarnya masih produk Modernism? di mana sebenarnya belum ada suatu
bentuk di luar Modernism, apakah Postmodernism adalah Modernism itu
sendiri yg selalu dan harus dipertanyakan dan dikritisi?
> > >
> > > Mengenai gouvernementalité , akan sangat menarik kalau kita
bisa menelusuri link dlm pemikiran2 Foucault sejak awal, karena walaupun
istilah gouvernementalité ini digunakan selama kuliah yg dia berikan
di College de France (di tahun2 kemudian) yg banyak bahannya unpublished
(hanya dlm bentuk pita rekaman), tetapi saya kira Foucault melihat ini
sejak observasi dia ttg penyakit mental di tulisan2 awal dia... saya
kira bahwa norma2, institusi2, yg meng-govern masyarakat, termasuk
psikiatris/psikolog dlm menentukan yg mana yg disebut insane dan yg mana
yg waras, pd akhirnya berkontribusi pada pembentukan konsep
gouvernementalité tsb... sayangnya sulit memastikan adanya link tsb
tanpa membaca semua buku2 Foucault yg berat2 itu...
> > >
> > > Pak Wawo benar ketika secara semantic melihat ini dari gouverner
(to govern) dan mentalité (mentality). ..mentality utk memerintah?
atau kondisi mental dlm memerintah? banyak sekali diskusi yg
memperdebatkan apa yg Foucault mau dari istilah ini... tapi bagaimana
kalau kita melihat definisi yg diajukan oleh Foucault sendiri dari pada
membaca intepretasi2 dan pengembangan2 lebih lanjut yg banyak dilakukan
orang (terutama di US)? Saya terjemahkan:
> > > Gouvernementalité : "pembentukan oleh institusi2, prosedur2,
analisis2 dan refleksi2, perhitungan2, dan taktik2 yg mengijinkan
penggunaan power dari bentuk ini secara spesifik, walaupun kompleks,
dengan sasaran utama adalah untuk populasi, untuk bentuk utama
pengetahuan, ekonomi politik, dan untuk instrumen utama dari perangkat2
keamanan (les dispositifs de securité)...
> > >
> > > Karena penggunaan istilah gouvernementalité ini oleh Foucault
cakupannya mulai dari individu sampai ke government, maka saya menduga
akar dari konsep ini ada pada observasi Foucault akan insanity... dan
karena itu diposting awal saya perlu tambahkan bahwa yg saya maksud dg
governmentality di sana terbatas hanya penggunaan dlm konteks state
politics... UU adalah instrumen yg mengijinkan penggunaan power dengan
sasaran utama populasi...
> > >
> > > salam,
> > > Eko.
> > >
> > >
> > > --- On Sun, 7/6/08, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@
yahoo.com> wrote:
> > >
> > > From: Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com>
> > > Subject: Re: [referensi] Re: Foucault...Anti Discourse? Re:Where
do we stand?
> > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > > Date: Sunday, July 6, 2008, 4:50 PM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Hengky dan jelas juga Eko, hampir saya mau bilang rekan-rekan
Foucauld ian, karena saya punya firasat bahwa barangkali kita semua
harus mengakui bahwa kita  mutlak menjadi produk post modernisme, yang
barangkali bakal disangkal oleh rekan Risfan yang masih terpuruk juga
dalam 'governmentality ' atau rada lain dikit kalau di eja secara
francophile  governmentalite mestinya pake tanda ' diatas huruf e
terakhir kan Eko, tapi pasti kita harus terima kasih kalau Eko bisa
terjemahkan atau lebih baik kunyah ngemut buku Foucault
> > > Eko apa betul ini Michel Foucault (1926-1984) yang terutama
membahas buku-buku  'archeological' namun inaugural lecture nya adalah
'The Discourse on Language' (1971). Yah memsaya kutip dari buku the
Oxford Companion on Philosophy, memang buku-bukunya Foucault itu rada
menggelitik (The Will to Knowledge (1976), lantas lebih ambisius History
of Sexuality . Barangkali Eko bisa jelaskan langsung context
post-modernism (tapi jangan dalam bahasa Perancislah.
> > >
> > > Diam-diam saya sungguh terkesan lihat pembebasan dan sambutan
Preiden Sarkozy untuk Ingrid Bettancourt, baru-baru ini di televisi. 
Tapi kalau terrorism di Colombia itu memang teperdaya oleh tentara
Columbia, wah itu memang merupakan prestasi, kelihatannya bisa punya
pengaruh positip di beberapa front lain.  Tapi issue-issue ekonomi atau
bbm dan makanan dan masalah lingkungan  masih lebih mencekam. Bagaimana
sebetulnya masalah kemiskinan struktural itu, bukan engga ada gunanya di
entaskan, honestly we still need poverty that will make us smart instead
of affluence that will make us stupid.  Oklah saya engga mau bikin
discourse baru lagi,  Hengky dan teman-teman sudah cukup banyak habisin
pulsa atau bytes. Tapi sebetulnya juga tidak habis cuma sekarang sudah
jadi file atau record, tinggal di edit saja itupun kan sudah ada
robotnya.
> > > Katanya di Argentina diketemukan film dari orang Jerman Fritz Lang
yang pernah bikin film sf (science fiction) yang menggambarkan
masyarakat yang udah bisa pakai robot yang juga bisa melayani kebutuhan
seksual, namun juga bisa diprogram menurut rumus demografi. Well ini
masih histoire cinematographique tapi entah sekarang sudah ada juga
mesin-mesinnya. Saya baca di THe Economist  June, sudah ada mesin CAD
yang baru Building Information Modelling (BIM) yang sekaligus tidak saja
bikin image bangunan yang lengkap tapi bisa juga bikin anggaran dan
kemungkinan kesalahan atau deteksi kesalahan dini.  Yah pasti ada
arsitek yang sekaligus bikin rencana yang punya strategi politiknya,
kira-kira ini mungkin yang rekan Roos Akbar mau bikin dengan jurusan
Public Policy  Design.  Ah rada cape bikin-bikin kurikulum lebih enak
kasih kepada robot. Well  udah malam nih selamat berjoang. Pak Wawo.
> > >
> >
>



Kirim email ke