Partai Karbitan ?
Ya, memang sudah lama terlihat dan di-isukan
banyaknya Partai yang didirikan oleh ORANG-LAMA
dengan menampilkan wajah baru.
Oleh sebab itu banyak juga yang selalu was-was
dengan asal usul tokoh atau pemimpin dari Partai
baru tersebut. Begitu juga dengan latar belakangnya.
Jangan-jangan ada juga Partai karbitan yang didukung
oleh rekan Permias@ pada saat ini. Semoga tidak !
Sungguh lucu dan aneh, bila Pemilu yang dimaksudkan
untuk menciptakan Pemerintah BARU yang bersih dan
berwibawa, malah dipimpin oleh ORANG-LAMA.....:)
Apalagi yang jelas-jelas terlibat dengan segala
macam urusan KKN selama ini.
Salam,
bRidWaN
===================================
Aneh, Partai Baru Dukung BJ Habibie
JAKARTA (Waspada): Adanya kabar 70 partai baru ingin mencalonkan
Habibie menjadi presiden periode mendatang, dinilai oleh pengamat
dari LIPI AS Hikam, tidak rasional. Sebab, jika partai-partai
tersebut adalah partai betulan, tentu mereka akan mencalonkan
pimpinan partainya masing-masing.
"Saya rasa kalau ada parpol baru yang mencalonkan Habibie sebagai
presiden, itu jelas parpol jadi-jadian, parpol karbitan. Mereka
juga tak akan dilegitimasi oleh rakyat. Lagi pula Pemilu itu
dilakukan untuk mencari pemerintahan baru, kok kembali
mencalonkan orang lama," ujarnya di Jakarta, kemarin.
Presiden Habibie, masih kata Hikam, bertugas mengantarkan
Indonesia ke gerbang Pemilu yang jurdil dan luber, setelah itu
pada Sidang Umum MPR mendatang dia harus merelakan kekuasaannya
kepada orang lain.
"Kalau kekuatan Orba atau status quo masih bercokol di tampuk
kekuasaan negeri ini, ancaman disintegrasi bangsa semakin
terkuak lebar. Partai-partai baru yanbg ingin mencalonlan
Habibie adalah mereka yang termasuk pihak status quo ,"
lanjutnya.
Sementara itu Aswapres bidang Kesra Jimly Asshidigie menilai,
keinginan partai-partai baru itu sangat positif.
"Saya kira 70 partai itu, karena mendukung Habibie jadi
presiden tidak berarti dibiayai oleh Habibie," katanya
kepada Merdeka di Jakarta kemarin.
Seperti diketahui, rumors tentang adanya partai-partai
baru yang bakal melanggengkan status quo ternyata bukan
isapan jempol belaka. Ketua PKB Nyonya Khofifah Endar
Parawangsa menyebutkan ada 70 parpol jadi-jadian
dibiayai kelompok status quo.
Habibie, lanjut Jimly, dari segi waktu tidak akan sempat
memikirkan untuk membuat partai. Dan secara moral pun
Habibie, lanjutnya, tidak mungkin lagi terlibat dalam
kepentingan semacam itu.
"Saya kira Habibie secara moral tidak punya kepentingan
untuk itu. Saat ini Habibie memilih kesetiaan kepada
kepentingan bangsa," katanya.
Lebih lanjut Jimly mengatakan, siapapun yang jadi presiden,
meskipun sebelumnya dia adalah seorang kader handal atau
seorang ketua parpol, ketika terpilih jadi presiden, dia
harus mengakhiri kepentingan kelompoknya.
"Begitu juga Habibie, sekarang ini dia mengakhiri
kepentingan kelompok guna memperluas kesetiaan kepada
bangsa," ujarnya.
Ditanya apakah sampai saat ini Habibie masih akan tetap
menggunakan Golkar sebagai kendaraan politiknya untuk
memuluskan jalan menuju kursi presiden lagi, Jimly
mengatakan, itu wajar saja.
"Wajar saja kan, seorang kader Golkar atau siapapun anggota
Golkar menggunakan Golkar sebagai kenderaan politiknya,"
ujarnya.
Mengapa Habibie masih setia menggunakan Golkar yang
sampai sekarang masih plin plan dalam menetapkan calon
presidennya ?
"Lho, kata siapa plin plan. Pada waktunya nanti akan
muncul nama calonnya. Dan, saya kira adalah sesuatu
yang tidak bisa dihindari bahwa Habibie adalah anggota
Golkar dan kader terbaik Golkar," katanya.
Menurut Jimly, isu-isu mengenai adanya kelompok status
quo yang membiayai partai-partai jadi-jadian bisa saja
dimunculkan dengan maksud tertentu.
"Tetapi saya kira kalau Habibie dikatakan yang membiayai
itu sangat tidak mungkin. Dia nggak terlibat dalam urusan
tetek bengek begitu," katanya.
Tidak Semua
Sementara itu, Ketua Umum Partai Indonesia Baru Syaiful
Anwar menyatakan, sinyalemen bahwa sejumlah partai baru
akan mendukung Habibie dalam pemilu nanti adalah
sinyalemen yang masuk akal.
Namun pimpinan partai hasil fusi 25 parpol ini sangsi
apakah jumlah parpol yang ikut mendukung Habibie itu
sudah mencapai angka 70.
"Saya kira tidak sebanyak itu. Buktinya 25 parpol yang
berfusi kedalam Partai Indonesia Baru yang saya pimpin
ini belum pasti menyatakan dukungan kepada Presiden
Habibie. Dukung mendukung kan bukan persoalan yang
mudah," katanya.
25 Parpol pada malam takbiran yang lalu ikut berfusi
ke dalam Partai Indonesia Baru. Tim Perumus terdiri
dari enam pimpinan parpol, yakni Ketua Umum Partai
Kedaulatan Rakyat Indonesia Syaiful Anwar, Ketua Umum
Partai Kesatuan Ummat (PKU) Zakiruddin Djamin, Ketua
Umum Partai Perjuangan Amanat Rakyat Indonesia Mayjen
(Purn) Asnawi Mangkualam, Ketua Umum Partai Aliansi
Rakyat Miskin Indonesia Tengku Khalid, Keta Umum
Partai Aliansi Muslim Sunny Indonesia KH Sofyan Siradj
dan Ketua Umum Partai Tauladan Kebangsaan Hariono.
Menurut Syaiful, untuk mendukung seorang calon
presiden yang tipe kepemimpinan seperti Habibie
perlu pertimbangan yang matang. Untuk itu evaluasi
terhadap apa yang dilakukannya sekarang menjadi hal
yang fundamental.
"Bukannya kami sangsi terhadap kemampuan Habibie,
sehingga kami belum menentukan sikap untuk mendukungnya
atau tidak. Bagi kami, Habibie belum pantas didukung
jika dia belum bisa mengatasi dua hal. Pertama, soal
kirisi ekonomi dan kedua, soal kerusuhan yang makin
marak," katanya.
Ditambahkan, kalau Habibie bisa mengatasi krisis ekonomi
dan berhasil menangani kerusuhan-kerusuhan seperti yang
terjadi di Ketapang hingga Ambon, maka habibie akan
dipertimbangkan. Tetapi jika Habibie tidak mampu
mengatasi dua masalah penting itu, maka pihaknya akan
melirik calon lainnya.
"Calon presiden yang kami perhitungkan itu misalnya,
Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto, Sri Sultan Hamengku
Buwono X, Amien Rais, Adi Sasono dan Akbar Tanjung,"
katanya. (Mdk)