Lho, yang mestinya jadi pernyataan kan mengapa Interfet masih ada? Katanya
kalau sudah muncul UNTAET lalu INTERFET dibubarkan? Kenapa pula masih
bercokol di situ? Jawabannya hanya satu kawan! Karena Aussie belum mendapat
legitimasi untuk mengatasnamakan diri sendiri sebagai bagian dari pasukan
UNTAET. Apa anda mau berkelit bahwa UNTAET hanya pemerintahan sementara
sehingga tidak punya tentara? Ah, salah kawan. Sudah 4 kali orang UNTAET
masuk ke Timbar secara ilegal, dan di antara mereka adalah tentara.
Duplikasi ini yang menunjukkan bahwa Aussie mempunyai kepentingan dengan
membandel untuk membubarkan diri.


------------------------
>From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: Apa yg terjadi di Timtim?
>Date: Sat, 18 Dec 1999 08:23:03 -0800
>
>Bukankah Timtim sekarang ini sudah dibawah tanggung jawab UNTAET, bukan
>lagi Interfet?
>
>Kalau memang benar, yang goblok di sini adalah Buyung, karena minta ijin ke
>Timtim kok ke Interfet, bukan ke UNTAET.
>Sangat disayangkan kalau kenyataan ini yang terjadi. Bagaimana mungkin
>seorang Buyung yang diagung-agungkan oleh rekan Jeffrey dan TNI bisa salah
>langkah sefatal ini.
>
>Salam,
>Budi
>
>
>At 11:02 AM 12/18/99 -0500, you wrote:
> >Alasan Cockroach menolak Buyung karena keamanan benar-benar memalukan.
>Dulu
> >waktu TNI tidak membolehkan wartawan masuk dengan alasan yang sama
>hebohnya
> >minta ampun. Sekarang tim advokasi yang bertujuan membuka tabir
>keterlibatan
> >TNI yang juga mereka tuduhkan ternyata tidak dapat dijamin keamanannya.
> >
> >Artinya apa? Hal ini dapat disebabkan oleh kemampuan pasukan Aussie yang
> >terlalu lemah untuk melindungi tim advokasi. Kan sungguh mengherankan
>kalau
> >tidak mampu melindungi rombongan kecil kan? Kesimpulan lain yg dapat
> >diambil, si AUssie keparat ini memang mau memojokkan TNI/Indonesia.
>Mungkin
> >saja sekarang ada pembaca biar saja TNI dihukum secara sosial oleh dunia
>dan
> >masyarakatnya sendiri. Masalahnya tak semudah itu. Si gemblung raja koran
> >asal Aussie Murdock aja sampai memerlukan bikin seminar untuk memojokkan
> >Indonesia.
> >
> >Hal lain dapat disebabkan oleh ketidakamanan dalam Timtim sendiri. Ini
> >seperti yang diindikasikan oleh Buyung di bawah ini. Artinya apa? Memang
> >banyak sekali konflik kepentingan di sana. Ini artinya kembali ke jaman
>pra
> >1977 sebelum Indonesia masuk ke sana, yang memang sudah kocar-kacir.
>Aussie
> >jelas hendak menutupi masalah ini dari publik. Tapi tak akan lama
>bertahan
> >lah.
> >
> >
> >Jeffrey Anjasmara
> >
> >---------------------------------
> >Sabtu, 18 Desember 1999, 18:44 WIB
> >Buyung : Masyarakat Indonesia di Timtim Tidak Aman
> >
> >Kupang, Antara
> >
> >Pengacara Adnan Buyung Nasution menyatakan bahwa penolakan pasukan
> >multinasional PBB di Timtim (Interfet) selaku penanggung jawab keamanan
> >terhadap rencana kedatangan tim advokasi hukum yang dipimpinnya ke Timtim
> >merupakan "warning" bagi masyarakat Indonesia yang akan berkunjung ke
> >wilayah itu.
> >
> >"Dari surat penolakan Mayjen Peter Cosgrove terhadap Tim advokasi memberi
> >gambaran bahwa masyarakat Indonesia yang akan bepergian ke Timtim tidak
> >aman, dan tidak ada jaminan keamanan baginya," katanya kepada wartawan
> >sebelum bertolak ke Jakarta, Sabtu.
> >
> >Peter Cosgrove adalah komandan Interfet asal Australia. Menurut dia,
>Xanana,
> >Peter Cosgrove dan juga Kepala Pemerintahan transisi Timtim Sergio Vieira
>de
> >Mello seharusnya malu, karena ternyata tidak terbukti kalau kondisi
>keamanan
> >di Dili sudah dapat dikendalikan oleh Interfet.
> >
> >"Penolakan Interfet atas dasar tidak dijaminnya keamanan terhadap Tim
> >Advokasi yang ingin melihat langsung fakta di lapangan yang menyangkut
> >tuduhan pelanggaran HAM terhadap beberapa personil TNI, merupakan
>petunjuk
> >bahwa Timtim saat ini belum aman, khususnya bagi masyarakat warga Negara
> >Indonesia," katanya. Ditambahkannya, penolakan Interfet tersebut juga
> >merupakan wujud dari agresifnya masyarakat Timtim, sehingga pertikaian
>yang
> >menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM, khususnya pasca jajak pendapat
>bukan
> >dilakukan oleh pihak lain, seperti TNI.
> >
> >Semua pihak, katanya, mengetahui bahwa hingga saat ini konflik intern
> >diantara masyarakat Timtim sangat tinggi. Pertikaian yang akhirnya
>bermuara
> >pada pelanggaran HAM sangatlah mudah terjadi. Sehingga tindak kekerasan
>yang
> >terjadi pada pasca jajak pendapat September lalu, didasari oleh rasa
> >permusuhan atau pun sentimen konflik yang ada selama ini, katanya.
>Tuduhan
> >keterlibatan aparat keamanan sebagaimana diungkapkan oleh KPP HAM
>terhadap
> >beberapa prajurit TNI masih perlu diklarifikasikan.
> >
> >"Ternyata, meskipun TNI sekarang ini tidak ada di Timtim, konflik intern
> >tersebut tetap berlangsung. Jadi yang memicu terjadinya pertikaian
>diantara
> >masyarakat Timtim itu ada di dalam diri masyarakat Timtim sendiri,"
>katanya
> >menegaskan.
> >
> >Buyung Nasution bersama rombongan selama kunjungannya ke NTT (Kupang dan
> >Atambua) sempat melakukan tatap muka dengan para tokoh Timtim, seperti
>Joao
> >Tavares, Eurico Gutteres, Cancio dan Joanico. Di Atambua, Buyung Nasution
> >juga sempat berdialog langsung dengan masyarakat pengungsi asal Timtim
>yang
> >bermukim di Desa Mota Ain dan Atapupu Kabupaten Belu. (and)
> >______________________________________________________
> >Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> >

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke