At 9:33 PM 3/15/00, Ramadhan Pohan wrote:
|Begitu buka Detikcom, eh saya lihat ada topik menarik....Selanjutnya:
|http://www.detik.com/pembaca/2000/03/14/2000314-170745.shtml
Sebelum terlalu jauh 'ngalor-ngidul' ada baiknya kita sepakat dulu
dengan pengertian yang sama apakah "plagiarism" itu. Menurut definisi
di Funk and Wagnalls' New Standard Dictionary (1921) adalah:
1. The act of plagiarizing or appropriating the
ideas, writings, or inventions of another without
due acknowledgment; specifically the stealing of
passages either for word or in substance, from the
writings of another and publishing them as one's
own. 2. A writing, utterance, or invention stolen
from another. (Funk, 1921)
Menarik untuk dicatat bahwa praktek plagiarism ini disebut
"plagiary," yang punya arti lain sebagai "kidnapping." Urutan
etimologinya adalah kata Perancis "plagiaire" yang berasal dari kata
Latin "plagium" yang artinya "kidnapping" (Funk, 1921).
Dalam suratnya ke detikcom, penulis membuka argumennya dengan
mengecilkan permasalahannya, seolah-olah ini hanya kesalahan teknis
"data primer vs sekunder" belaka ...
Saudara Ipong divonis berdasarkan laporan Nurhasim
yang mengklaim bahwa sang doktor menciplak data
sekunder miliknya. Klaim ini ternyata sangat ampuh
sebagai 'primary evidence' dalam mengadili masa
depan dan karir Ipong. (detikcom)
dan selanjutnya digambarkan seolah-olah Dr Affan Gaffar itu "ringan
[tangan]" terhadap anak bimbingnya sendiri. Affan Gaffar sebetulnya
hanya menganjurkan agar Ipong menyerahkan sendiri gelar doktornya ke
UGM (Bernas 27/12). Affan juga mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen
isi disertasi Ipong persis skripsi Nurhasim.
Memang kita tidak bisa mengatakan secara pasti tanpa membaca karya
bermasalah tersebut, tanpa membandingkan disertasi di UGM dan tesis
di Unair tersebut. Tetapi membaca komentar mereka yang mengetahui
'first hand' seperti Affan, dan yang lain (kalau anda rajin membaca
Bernas), jelas masalah ini bukan sekedar urusan "data sekunder"
seperti berkali-kali juga dikatakan oleh Ipong, tetapi bisa dibilang
seluruh disertasi itu sendiri adalah jiplakan.
... Ikrar Nusa Bhakti yang mendampingi Mochamad
Nurhasim, mengatakan penjiplakan yang dilakukan
Ipong dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan
sebagai sebuah buku ini memang terlihat jelas.
Disebutkan, 99 persen isi halaman 88 hingga 179
bukunya yang berjudul "Radikalisme Petani Masa Orde
Baru merupakan salinan dar skripsi Nurhasim....
Sedangkan isi Bab II buku itu, katanya, memiliki
substansi yang sama dengan skripsi Nurhashim, cuma
berbeda dalam pengeditan dan pemindahan-pemindahan
tema. (Bernas)
Saya setuju dengan penulis bahwa problem plagiarism ini tidak berdiri
sendiri -- dalam artian "sistim" pendidikan kita ikut memudahkan
terjadinya kejahatan intelektual tersebut, jadi memang harus
diperbaiki secara menyeluruh, bahkan mulai level sekolah dasar --
tetapi kejahatan itu sendiri tidak lalu berkurang bobotnya. Ini kan
tidak ada bedanya dengan seorang pencopet yang berkilah didepan hakim
"lha polisinya cuek saja" atau mencopet itu okay, karena "salahnya
sendiri bawa duit banyak", dst. Apakah cueknya polisi atau lengahnya
membuat mencopet itu jadi boleh dilakukan? atau lebih "enteng"
kadarnya?
Saya juga sependapat bahwa komunitas akademis harus introspeksi,
bahwa kasus Ipong ini hanya merupakan pucuk dari sebuah gunung es
yang sangat besar. Akar dari problemnya sangat mendasar. meluas dan
sistemik. Ini menyangkut "pendidikan" --baik formal maupun informal--
yang gagal membentuk individu yang punya harga diri dan integritas
manusia.
"Kesempatan membuat orang jadi maling" -- terjemahan bebas dari
peribahasa Belanda yang sering dibilang ayah saya dulu. banyak yang
memilih pembenahan sistimnya dulu, kalau disuruh memilih prioritas
antara yang berniat jahat dan
struktur lembaga/masyarakat yang memungkinkannya melaksanakan niat
jahat. Tetapi bagaimanakah bisa dipisahkan antara sistim dan
pelaku-pelakunya -- kecuali dalam masyarakat yang hidup dalam
kebohongan?
Moko/
"Pengakuan" sang doktor ... (dalam keadaan sadar :-)
"Saya ndak percaya lagi dengan Nurhasim. Jadi semua
data yang saya ambil dari skripsinya akan saya
hapus dan saya akan mencari data primer yang hilang
dengan mengacu pada empat teori gerakan petani yang
saya gunakan dalam disertasi saya." (Bernas 25/2).