Dear,
Thank you Bang Pohan atas infonya ternyata tanggapan saya dimuat juga. Bang
Moko punya tanggapan menarik, BTW. saya nulis balik ya Bang Moko.
deleted...
>Dalam suratnya ke detikcom, penulis membuka argumennya dengan
>mengecilkan permasalahannya, seolah-olah ini hanya kesalahan teknis
>"data primer vs sekunder" belaka ...
:) Jika anda cermati, saya menulis bahwa: Ipong telah melakukan kesalahan
fatal. "...vonis berdasarkan laporan Nurhasim..." meaning that penghukuman
terhadap Ipong berdasarkan : "he says she says that.." System 'point finger'
ini sangat lemah sebagai primary evidence dalam penegakan hukum.
>dan selanjutnya digambarkan seolah-olah Dr Affan Gaffar itu "ringan
>[tangan]" terhadap anak bimbingnya sendiri. Affan Gaffar sebetulnya
>hanya menganjurkan agar Ipong menyerahkan sendiri gelar doktornya ke
>UGM (Bernas 27/12). Affan juga mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen
>isi disertasi Ipong persis skripsi Nurhasim.
:) Tindakan Dr. Gaffar tidak 'seolah-olah' di mata saya. Sebenarnya,
pencabutan gelar pun sudah aneh bagi saya. So..
>Memang kita tidak bisa mengatakan secara pasti tanpa membaca karya
>bermasalah tersebut, tanpa membandingkan disertasi di UGM dan tesis
>di Unair tersebut. Tetapi membaca komentar mereka yang mengetahui
>'first hand' seperti Affan, dan yang lain (kalau anda rajin membaca
>Bernas), jelas masalah ini bukan sekedar urusan "data sekunder"
>seperti berkali-kali juga dikatakan oleh Ipong, tetapi bisa dibilang
>seluruh disertasi itu sendiri adalah jiplakan.
:) Jika tanggap sebagai first hand supervisor, Dr. Gaffar harus menguji
keabsahan data Ipong sejak awal. Tul tidak? And thank you atas saran anda
tentang Bernas. Tetapi sumber informasi tidak harus dari satu untuk
melengkapi evidence, am I right? Dan jika Nurhasim berkata, mengapa Ipong
tidak bisa berkata? Well..
> ... Ikrar Nusa Bhakti yang mendampingi Mochamad
> Nurhasim, mengatakan penjiplakan yang dilakukan
> Ipong dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan
> sebagai sebuah buku ini memang terlihat jelas.
> Disebutkan, 99 persen isi halaman 88 hingga 179
> bukunya yang berjudul "Radikalisme Petani Masa Orde
:) Tidak harus 99 persen, satu kata pun yang diciplak, sudah plagiat,
seperti yang anda kutip diawal tulisan anda. Saya mengambil contoh kesalahan
Ipong sebagai anjuran kepada UGM untuk melihat ke dalam, mencermati
kelemahan sistem pendidikan kita.
deleted ...
>"Pengakuan" sang doktor ... (dalam keadaan sadar :-)
>
> "Saya ndak percaya lagi dengan Nurhasim. Jadi semua
> data yang saya ambil dari skripsinya akan saya
> hapus dan saya akan mencari data primer yang hilang
> dengan mengacu pada empat teori gerakan petani yang
> saya gunakan dalam disertasi saya." (Bernas 25/2).
:) Indikasi tak ada format : hitam putih...
Thank you Bang Moko, your opinions are always insightful.
salam,
ida
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com